Semua berawal dari pertanyaan seorang kawan: mengapa di Ikatan Pelaku Pemberdayaan Masyarakat Indonesia (IPPMI) kita menyapa satu sama lain dengan kata Sahabat, bukan Kawan, Teman, Saudara, atau Bung?
Saat itu, saya tidak langsung menjawab. Kami buru-buru, masing-masing dengan urusannya sendiri. Tapi di sela jeda sebelum bertemu lagi, saya mencoba mencari jawabannya. Dari pencarian itu muncul sesuatu yang sederhana, tapi menembus relung terdalam: kata “sahabat” bukan sekadar sapaan. Ia adalah pilihan sadar, filosofi hubungan yang menekankan kepercayaan, kedalaman, dan tanggung jawab.
Jika suatu saat saya bertemu, atau sahabat membaca tulisan ini, inilah jawabnya.
Dalam hidup, kita bertemu berbagai orang dengan berbagai kedekatan:
Teman hadir karena kesempatan. Ringan, seperti angin yang lewat sesaat. Mereka memberi keceriaan, informasi, atau sekadar menemani momen kecil.
Kawan lebih dekat, hadir karena kesamaan pengalaman atau tujuan. Hangat, seperti api unggun di malam dingin. Kawan memberi kenyamanan dan bisa diajak berbagi cerita. Ia menjadi partner belajar, teman berdiskusi, rekan berbagi langkah.
Saudara adalah ikatan yang kuat, karena darah atau kedekatan emosional. Mereka memberi fondasi, loyalitas, dan dukungan yang tak tergantikan. Saudara adalah tempat kembali, pengingat nilai, dan pilar ketika tantangan hidup terasa berat.
Bung adalah sapaan hangat, egaliter. Ringan, akrab, penuh rasa hormat. Bung mengundang kedekatan tanpa mengikat, cocok untuk interaksi santai, penuh semangat persaudaraan, terutama dalam organisasi atau kerja bersama.
Dan sahabat… sahabat berbeda. Ia hadir bukan hanya karena kesempatan atau ikatan darah, tapi karena pilihan sadar: hadir karena percaya, peduli, dan ingin tumbuh bersama. Sahabat adalah matahari yang tetap bersinar, memberi terang dan energi, bahkan ketika mendung menutupi hari. Ia tetap mendukung kita, sekaligus menantang kita untuk berkembang dan berani.
Kami menyapa dengan kata sahabat karena ia lebih dari sekadar sapaan. Ia adalah ruang untuk percaya, jujur, dan saling menumbuhkan keberanian. Ia adalah tangan yang menolong, telinga yang selalu mendengar, dan hati yang setia.
Di IPPMI, hubungan sahabat dirawat dengan kesadaran: ada waktu untuk bertanya, ada waktu untuk mendengarkan, ada waktu untuk menasihati, dan ada waktu untuk diam bersama ketika kata-kata tak cukup. Ia bukan hubungan pasif; ia hidup, berkembang seiring waktu dan pengalaman. Ia menuntut perhatian, kejujuran, dan kesetiaan—bukan karena harus, tapi karena pilihan dan tanggung jawab.
Sahabat juga menjadi cermin diri. Mereka menampilkan siapa kita sebenarnya, kekuatan maupun kelemahan. Dari sahabat, kita belajar integritas, ketekunan, dan empati. Pemberdayaan bukan sekadar aksi atau proyek, tapi hubungan yang membentuk karakter, nilai, dan keberlanjutan perubahan.
Setiap sapaan “sahabat” mengandung niat untuk memberdayakan dan dibesarkan bersama. Bukan basa-basi, bukan sekadar kata, tapi jembatan untuk belajar, berbagi, dan tumbuh. Ia janji, ikatan, dan harapan—pilihan sadar untuk berjalan bersama di jalan pemberdayaan masyarakat.
Menyapa dengan kata sahabat bukan sekadar tradisi IPPMI. Ia pengingat bahwa kita bergerak bersama, setiap langkah tidak dilakukan sendiri, dan kekuatan sejati pemberdayaan lahir dari kepercayaan, kesetiaan, dan kepedulian tulus terhadap sesama.
Sahabat, bukan sekadar sapaan. Ia filosofi, tindakan, dan semangat yang membimbing kita untuk terus memberi dan tumbuh, baik untuk diri sendiri maupun masyarakat.
Post a Comment