Pada
tulisan sebelumnya, kita telah menelusuri jejak seorang pemimpin yang gemar
memainkan panggung, pemimpin yang lebih sibuk merawat citra daripada merawat
makna. Ia hadir dengan sorot lampu, tetapi absen dalam gelap yang membutuhkan
arah. Ia tampak bekerja, tetapi sesungguhnya hanya mengatur bagaimana kerja itu
terlihat.
Namun,
rupanya cerita tidak berhenti di sana.
Ada
akibat lain yang perlahan tumbuh, nyaris tak terdengar, tetapi dampaknya
merembes ke seluruh sendi organisasi. Seperti air yang merayap di balik
dinding, ia tidak langsung merobohkan, tetapi pasti melemahkan.
Akibat
itu bernama: anak buah yang “menjadi”.
Menjadi
sok pintar
Menjadi
sok wibawa
Menjadi
sok sibuk
Mereka
bukan lahir dari ruang hampa. Mereka adalah pantulan. Cermin yang memantulkan
wajah pemimpinnya, meski dalam versi yang lebih retak.
Di
bawah kepemimpinan yang lebih menghargai tampilan daripada kedalaman,
kecerdasan tidak lagi diukur dari ketepatan berpikir, melainkan dari kelihaian
berbicara. Maka lahirlah mereka yang pandai mengutip tanpa memahami, cepat
menyela tanpa mendengar, dan gemar membungkus kekosongan dengan istilah istilah
besar.
Wibawa
pun berubah rupa. Ia tidak lagi lahir dari ketenangan dan ketegasan, melainkan
dari nada tinggi, dari tatapan merendahkan, dari kebiasaan memotong pembicaraan
seolah olah waktu hanya miliknya.
Dan
kesibukan, ah ini yang paling mudah dipentaskan.
Rapat
demi rapat, diskusi tanpa ujung, laporan yang berlapis lapis, semuanya tampak
penuh, tetapi seringkali kosong. Seolah olah diam adalah dosa, dan sederhana
adalah kelemahan.
Di
titik ini, harmoni antar bidang mulai retak.
Bukan
lagi kerja sama, melainkan perlombaan diam diam
Bukan
lagi saling menguatkan, melainkan saling mengintip
Bukan
lagi terbuka, melainkan saling mengunci
Setiap
bidang berdiri seperti menara kecil, sibuk memamerkan tinggi masing masing,
lupa bahwa fondasi mereka sama sama rapuh. Mereka berbicara dalam bahasa
kehebatan sendiri, tidak lagi dalam bahasa tujuan bersama.
Dan di
tengah semua itu, ada satu kalimat yang terdengar sederhana, bahkan sopan,
tetapi sesungguhnya menyimpan cara berpikir yang keliru
“Maaf,
saya lagi sibuk mengerjakan tugas dari bapak, kebutuhan Anda terpaksa agak tertunda.”
Kalimat
itu seperti doa yang salah alamat.
Terdengar
santun, tetapi kehilangan arah.
Ia
bukan sekadar alasan
Ia
adalah pengakuan tanpa sadar, bahwa kerja telah bergeser dari makna ke rasa
takut
Takut
dimarahi
Takut
tidak dianggap
Takut
tidak terlihat sibuk
Maka
yang dikejar bukan lagi ketepatan, melainkan keselamatan diri
Bukan
lagi tujuan organisasi, melainkan kenyamanan posisi
Di
situlah pekerjaan kehilangan ruhnya.
Setiap
orang sibuk menunaikan “pesan langsung”, tetapi lupa menautkannya pada tugas
pokok dan fungsi. Lupa bahwa kerja seharusnya bertemu dalam satu arah, bukan
berlari dalam banyak kepentingan.
Dan
ketika semua orang merasa benar dalam kesibukannya, kesalahan menjadi yatim.
Keterlambatan
menjadi biasa
Ketidaksinkronan
menjadi lumrah
Dan
arah perlahan menghilang tanpa ada yang merasa kehilangan
Lalu,
dalam kebisingan itu, ada yang pelan pelan disingkirkan.
Bukan
karena mereka salah
Tetapi
karena mereka tidak punya tempat untuk dianggap benar
Mereka
adalah para tenaga luar
Para
pendukung
Para
konsultan
Bahkan
mereka yang nyaris tak pernah masuk notulen, para OB dan satpam, terutama yang
bukan “orangnya” pimpinan
Mereka
yang hadir paling awal, pulang paling akhir
Yang
melihat lebih banyak daripada yang berbicara
Yang
mengerti alur, tetapi tidak diberi ruang untuk menjelaskan
Mereka
bukan siapa siapa
Dan
justru karena itu, mereka bisa dijadikan apa saja
Dioper
ketika masalah datang
Disalahkan
ketika celah terbuka
Dipermasalahkan
hingga ke titik koma, sementara substansi dibiarkan berlalu begitu saja
Yang
tidak punya kedekatan, lebih mudah dikorbankan
Yang
tidak punya suara, lebih mudah dipersalahkan
Ketika
sesuatu berjalan baik, mereka hilang dari cerita
Ketika
sesuatu runtuh, mereka dijadikan judulnya
Di
titik ini, suara lama itu kembali layak didengar, suara dari Tan Malaka
Ia
pernah menegaskan bahwa “kemerdekaan berpikir adalah pangkal dari segala
kemerdekaan.” Sebuah kalimat yang
sederhana, tetapi terasa jauh dalam ruang-ruang yang dipenuhi rasa takut.
Sebab
di tempat di mana orang tidak lagi berani berpiki, yang tumbuh bukan kesetiaan, melainkan
kepatuhan yang kosong. Dan ia juga
pernah mengingatkan, dengan nada yang hampir seperti peringatan “Bila kaum terpelajar tidak lagi berpihak
kepada kebenaran, maka kebodohan akan memimpin.”
Barangkali,
itulah yang sedang kita saksikan dalam bentuk yang paling halus.
Bukan
karena tidak ada orang pintar, tetapi karena kepintaran itu tidak lagi
diarahkan untuk kebenaran, melainkan untuk menyelamatkan diri, menjaga citra,
dan memenangkan panggung kecilnya masing masing
Maka
sistem terlihat hidup, tetapi kehilangan jiwa
Tampak
berjalan, tetapi kehilangan arah
Di
situlah organisasi mulai kehilangan kejujurannya
Bukan
karena tidak ada yang bekerja
Tetapi
karena yang bekerja tidak lagi dihargai berdasarkan kebenaran, melainkan
berdasarkan kedekatan dan penampilan
Dan
yang paling sunyi dari semua ini adalah mereka yang tetap bekerja, meski tahu bahwa
kerja mereka bisa sewaktu-waktu dipatahkan oleh kepentingan yang tidak mereka
pahami
Mereka
tetap datang
Tetap
menyapu
Tetap
menjaga
Tetap
memperbaiki
Tanpa
panggung
Tanpa
pujian
Tanpa
perlindungan
Organisasi
itu masih berjalan
Namun
seperti tubuh yang berdiri di atas tulang yang lelah
Masih
tegak, tetapi kehilangan daya
Pertanyaannya
bukan lagi apakah ini akan runtuh
Melainkan
siapa lagi yang akan dijadikan tumbal sebelum semua ini benar benar jatuh
Sebab
selama yang dianggap penting hanyalah yang terlihat penting
maka
yang sungguh-sungguh penting akan terus dipinggirkan
Dan
selama itu pula, akan selalu ada mereka
yang
bekerja
yang
menanggung
yang
disalahkan
meski
mereka bukan siapa siapa.
إرسال تعليق