Ada yang bergeser diam-diam dalam cara
kita memaknai keadilan. Ia tak lagi berdiri di atas kemampuan, tetapi condong
pada kepemilikan. Bukan siapa yang mampu, melainkan siapa yang punya: nama,
akses, jaringan, atau pintu yang dibuka dari dalam.
Padahal kita sepakat, meritokrasi adalah
menempatkan yang layak pada tempatnya. Bukan karena kekerabatan, bukan karena
kekayaan, tetapi karena kemampuan, prestasi, dan integritas. Namun kesepakatan
itu sering berhenti sebagai kalimat. Indah diucapkan, lemah dijalankan.
Di ruang-ruang keputusan, nama sering
datang lebih dulu daripada kualitas. Nasab membuka jalan, nasib dijadikan
alasan. Padahal di balik itu, ada kehendak manusia yang bekerja diam-diam,
memilih siapa yang naik dan siapa yang disisihkan.
Kita tidak perlu mencari jauh. Kerabat
penguasa, anak, menantu, paman, ipar, adik, kakak, sering mendapat karpet
merah. Sementara yang kompeten, tetapi bukan siapa-siapa, berdiri di luar
pagar.
Lebih aneh lagi, semua itu tampak sah.
Dukungan dihadirkan, legitimasi dikerahkan. Yang kurang ditutup oleh riuh
persetujuan. Padahal kita tahu, tidak semua dukungan lahir dari kejujuran. Ada
yang dikondisikan, ada yang sekadar menjaga posisi.
Di titik ini, keadilan berubah wajah.
Yang mampu diminta menunggu. Yang punya jalan diminta maju.
Lalu kita menyebutnya nasib. Seolah
takdir. Padahal sering kali ini hanya keputusan yang enggan diuji.
Patut direnungkan, dalam setiap masa ada
orangnya, dan setiap orang ada masanya. Tetapi hari ini, masa sering dipaksa
tunduk pada orang, bukan orang yang menyiapkan diri untuk masanya.
Di sinilah ujian bagi pemimpin, jujur
atau tidak, amanah atau tidak. Ketika ia melihat kerabatnya diarak oleh
dukungan, padahal ia tahu ada yang lebih layak, lebih pantas, lebih kompeten,
namun ia memilih pura-pura buta dan tuli, itu bukan ketidaktahuan, itu
pembiaran. Dan pembiaran adalah bentuk lain dari pengkhianatan. Ia sedang mabuk
kuasa, mabuk pujian, hingga nuraninya tak lagi peka. Pada titik itu, ia telah
jauh dari teladan Umar bin Khattab, yang justru gemetar memikul amanah, bukan
menikmati kuasa.
Sebab jabatan bukan hadiah. Ia amanah.
Dan amanah bisa berubah menjadi musibah jika jatuh ke tangan yang salah.
Maka pertanyaannya sederhana, mengapa
yang berat diperebutkan dengan cara yang ringan?
Jawabannya pahit, karena jabatan telah
bergeser makna, dari pengabdian menjadi keuntungan, dari tanggung jawab menjadi
akses.
Yang tersisih bukan hanya orang, tetapi
keadilan itu sendiri.
Dan pada akhirnya, kita selalu punya
pilihan, tetap adil atau ikut arus, tetap jujur atau berpura-pura, memberi
tempat pada yang mampu atau pada yang punya.
Karena kelak yang ditanya bukan siapa yang kita kenal, tetapi apa yang kita lakukan saat diberi kesempatan. wallahu a'lam bishawab
إرسال تعليق