Ketika Majas Dianggap Kuno, dan Kejujuran Kehilangan Ruang

 


Dulu, kata-kata tidak pernah berdiri sendiri. Ia selalu datang dengan makna yang berlapis, dengan rasa yang tidak selesai dalam satu tarikan kalimat. Orang tua kita berbicara bukan sekadar untuk didengar, tetapi untuk direnungkan. Mereka memilih kiasan, bukan ketegasan yang telanjang. “Kalau padi sudah berisi, ia merunduk.” Satu kalimat sederhana, tetapi cukup untuk mendidik tanpa melukai.

 

Namun hari ini, cara pandang itu mulai bergeser. Banyak anak Gen Z melihat majas sebagai sesuatu yang tidak efisien, tidak tegas, bertele-tele, bahkan dianggap kuno. Bagi mereka, bahasa harus langsung, cepat, dan selesai tanpa tafsir panjang. Pandangan itu tidak sepenuhnya salah, karena zaman memang menuntut kecepatan dalam banyak hal. Namun yang sering luput, tidak semua makna lahir dari kecepatan. Ada hal-hal yang justru tumbuh dari perlambatan.

 

Di sisi lain, setiap daerah sesungguhnya memiliki kearifan lokal dalam berbahasa. Dari tutur Jawa yang halus, pepatah Minang yang tajam namun santun, hingga ungkapan-ungkapan daerah lain yang penuh filosofi. Semua itu menunjukkan bahwa bahasa bukan sekadar alat komunikasi, tetapi juga penjaga nilai, penjaga rasa, dan penjaga martabat manusia. Di dalam kearifan itu, kejujuran tidak berdiri sendiri, tetapi disampaikan dengan adab, tanpa harus berubah menjadi basa-basi yang kosong.

 

Inilah alasannya mengapa meskipun kita lahir dan besar di Indonesia, kita harus mempelajari dan memahami bahasa Indonesia dengan baik dan benar. Sama seperti kita mempelajari matematika, IPA, bahkan bahasa Inggris. Bahasa Indonesia bukan hanya soal benar secara tata bahasa, tetapi juga soal kedalaman makna, ketepatan rasa, dan kemampuan menyampaikan kejujuran dengan cara yang beradab.

 

Namun di titik itu, majas mulai tersingkir, digantikan kalimat-kalimat lurus yang tegas tetapi kadang kehilangan rasa. Di ruang kosong itu, basa-basi perlahan mengambil tempat. Yang penting terdengar baik, tidak menyinggung, dan aman. “Luar biasa, Pak.” “Programnya sangat sukses, Bu.”, “Semua sudah berjalan dengan sangat baik.” Padahal tidak semua kata itu lahir dari kejujuran.

 

Di sinilah ironi mulai terasa. Ketika majas dianggap kuno, kejujuran perlahan kehilangan ruang. Karena bahasa yang terlalu langsung bisa melukai, dan bahasa yang terlalu basa-basi bisa menyamarkan kebenaran. Sosiolog Kanada, Erving Goffman, menyebut kehidupan sosial seperti panggung, tempat manusia memainkan peran agar interaksi berjalan. Namun ketika peran itu menjadi kebiasaan, kita mulai sulit membedakan mana yang tulus dan mana yang sekadar tampilan.

 

Mungkin kita sedang berada di titik itu. Orang lebih takut dianggap tidak sopan daripada tidak jujur, lebih takut menyinggung daripada menyampaikan kebenaran. Padahal adab tidak pernah menuntut kepalsuan, dan kesantunan tidak pernah meminta kita mengorbankan kejujuran.

 

Majas dahulu mengajarkan bahwa kebenaran bisa disampaikan dengan indah tanpa melukai. Seperti pohon mangga yang tidak perlu berteriak untuk meyakinkan orang bahwa buahnya manis, ia cukup berbuah, dan orang akan datang memahami sendiri.

 

Barangkali yang perlu kita jaga hari ini bukan hanya cara berbicara, tetapi cara menjaga makna di dalam kata-kata kita. Sebab bahasa bukan sekadar alat komunikasi, ia adalah cermin dari nurani yang menggunakannya.

Post a Comment

Previous Post Next Post