Pagi tadi aku melihat seorang laki-laki berdiri cukup lama di depan warung kopi. Ia tidak sedang memilih merek kopi, apalagi menghitung keuntungan usaha. Ia hanya sedang menghitung uang di dalam sakunya.
Lembar demi lembar ia rapikan. Sesekali ia menghela
napas. Bukan karena uangnya banyak, melainkan karena terlalu sedikit untuk
dibagi ke terlalu banyak kebutuhan.
Di rumah ada anak yang harus berangkat sekolah. Ada istri
yang harus berbelanja ke pasar. Ada tagihan yang jatuh tempo. Ada kebutuhan
yang tidak bisa diajak berunding. Dan seperti jutaan laki-laki lainnya di
negeri ini, ia harus tetap terlihat kuat meskipun keadaan sedang tidak
baik-baik saja.
Begitulah laki-laki.
Ia sering menjadi tempat bersandar, tetapi jarang
memiliki tempat untuk bersandar. Ia dituntut tegar meskipun cemas. Dituntut
tenang meskipun pikirannya riuh. Bahkan ketika dompetnya menipis, ia tetap
harus pulang dengan wajah yang meyakinkan bahwa semuanya akan baik-baik saja.
Sambil memandang laki-laki itu, aku tiba-tiba berpikir:
barangkali cara paling mudah membaca keadaan bangsa bukan melalui laporan
tebal, seminar mahal, atau pidato panjang. Cukup lihat isi saku rakyatnya.
Sebab di dalam saku seorang laki-laki sering tersembunyi
keadaan sebuah negeri.
Di televisi, negeri ini tampak baik-baik saja. Angka
pertumbuhan diumumkan dengan bangga. Program diluncurkan hampir setiap hari.
Janji kesejahteraan terdengar dari berbagai arah. Seolah-olah kemakmuran
tinggal beberapa langkah lagi.
Namun di jalanan, di pasar, di sawah, di bengkel, di
pelabuhan, dan di warung-warung kecil, rakyat masih sibuk menghitung.
Menghitung pendapatan yang tidak bertambah, sementara kebutuhan terus berlari.
Mungkin karena itulah kita sering hidup dalam dua kenyataan.
Kenyataan yang disampaikan dalam pidato, dan kenyataan yang hidup di dapur
rakyat.
Partai-partai terus melahirkan politisi. Sayangnya, yang
lahir sering kali bukan pemimpin dengan warna yang jelas, melainkan politisi
abu-abu. Saat di depan rakyat berbicara tentang pengabdian, saat di depan
kekuasaan berbicara tentang penyesuaian. Mereka pandai menjelaskan ke mana
bangsa harus pergi, tetapi kadang lupa menjelaskan mengapa rakyat tidak kunjung
sampai.
Kampus-kampus tetap berdiri megah sebagai rumah ilmu
pengetahuan. Namun sebagian penghuninya tampak lebih sibuk mengejar proyek
daripada gagasan. Ilmu masih diajarkan, tetapi tidak selalu diperjuangkan.
Gelar semakin panjang, sementara keberanian mengatakan kebenaran kadang semakin
pendek.
Birokrasi pun tidak kalah menarik. Sistem diperbarui,
aplikasi diperbanyak, slogan pelayanan dipasang di mana-mana. Tetapi sebagian
orang masih percaya bahwa untuk naik, yang terpenting bukan kemampuan bekerja,
melainkan kemampuan menyenangkan mereka yang berkuasa. Akibatnya, yang tumbuh
bukan profesionalisme, melainkan seni menjilat yang diwariskan turun-temurun.
Di dunia usaha, kita mengenal banyak pengusaha hebat yang
membangun usahanya dari kerja keras dan ketekunan. Namun tidak sedikit pula
yang lebih menyukai jalan pintas. Mereka mencari kedekatan, memburu fasilitas,
dan menikmati rente yang lahir bukan dari inovasi, melainkan dari hubungan yang
saling menguntungkan. Pancasila dipasang di ruang tamu, agama disebut dalam
sambutan, tetapi keduanya sering kehilangan suara ketika keuntungan mulai
berbicara.
Di sisi lain, guru-guru tetap berdiri di depan kelas
mengajarkan masa depan kepada anak-anak bangsa. Mereka memikul tanggung jawab
yang begitu besar, sementara penghargaan yang diterima sering kali tidak
sebanding dengan pengorbanan yang diberikan. Kita meminta mereka mencetak
generasi emas, tetapi kadang lupa memastikan kehidupan mereka sendiri tidak
berwarna kusam.
Mahasiswa datang ke kampus membawa cita-cita. Namun
sebagian justru belajar bahwa jaringan lebih penting daripada integritas.
Mereka diajak mengenal orang-orang berpengaruh, tetapi tidak selalu diajak
mempertanyakan dari mana pengaruh itu berasal. Yang penting dekat dengan sumber
kekuasaan. Soal benar dan salah bisa dibicarakan nanti.
Di tingkat bawah, masyarakat diajarkan membuat proposal.
Proposal demi proposal. Bantuan demi bantuan. Nilainya sepuluh, yang diterima
lima. Bahkan kadang kurang. Namun keadaan yang berulang membuat banyak orang
menganggapnya biasa. Seolah kehilangan sebagian hak adalah harga yang harus
dibayar agar tetap mendapat bagian.
Para kepala desa dijanjikan dana miliaran rupiah.
Angkanya terdengar besar. Namun ketika sampai ke lapangan, berbagai kewajiban,
berbagai program titipan, dan berbagai kepentingan telah lebih dulu menunggu.
Yang besar perlahan mengecil. Yang dijanjikan tidak selalu sama dengan yang
dirasakan.
Anak-anak sekolah dijanjikan makanan bergizi gratis.
Sebuah niat yang baik dan patut didukung. Tetapi pada saat yang sama, banyak
orang tua masih berjuang mempertahankan pekerjaan dan penghasilan. Sebagian
tetap membawakan bekal dari rumah, karena mereka tahu yang dibutuhkan keluarga
bukan hanya makan hari ini, melainkan kepastian hidup untuk hari esok.
Ibu-ibu dijanjikan berbagai kemudahan. Namun setiap kali
pergi ke pasar, mereka tetap berhadapan dengan harga-harga yang tidak mengenal
belas kasihan. Beras, minyak goreng, cabai, dan kebutuhan pokok lainnya sering
naik lebih cepat daripada kemampuan keluarga untuk mengejarnya.
Maka semakin lama aku memandang laki-laki di depan warung
kopi itu, semakin aku yakin bahwa persoalan bangsa ini bukan semata-mata soal
kurangnya program. Kita tidak kekurangan slogan. Tidak kekurangan pidato. Tidak
kekurangan janji.
Yang sering kurang adalah kejujuran untuk mengakui
kenyataan.
Sebab bangsa tidak runtuh karena kekurangan kata-kata
besar. Bangsa runtuh ketika terlalu banyak orang sibuk mempercantik laporan,
sementara terlalu sedikit yang berani memperbaiki keadaan.
Laki-laki itu akhirnya memasukkan kembali uang ke dalam
sakunya. Tidak bertambah banyak. Tidak berubah menjadi lebih tebal.
Lalu ia berjalan pulang.
Di rumah, mungkin anaknya sedang menunggu. Istrinya
sedang menunggu. Dan seperti biasa, ia akan tetap berusaha tersenyum.
Karena sering kali yang menjaga negeri ini bukan mereka
yang paling banyak berjanji, melainkan mereka yang diam-diam memikul beban
hidup setiap hari tanpa pernah masuk berita.
Mereka yang isi sakunya pas-pasan, tetapi cintanya kepada
keluarga tidak pernah kekurangan.
Dan barangkali, di dalam saku laki-laki seperti itulah,
keadaan sesungguhnya sebuah negeri dapat dibaca.
Post a Comment