Adat Bukan Panggung Dangdut (Bagian I)

 


Suatu pagi telepon genggam saya berdering. Di layar tertera nama kakak yang tinggal di Jakarta. Obrolan kami mengalir seperti biasa; tentang keluarga, kampung halaman, dan pekerjaan. Hingga kemudian beliau bercerita bahwa dari pekon telah datang kabar, salah seorang kerabat akan menggelar nayuh, sebutan kami untuk resepsi pernikahan.

 

 

Saya spontan ikut senang.

Sudah lama beliau tidak pulang. Saya membayangkan kepulangannya akan menjadi obat rindu bagi keluarga. Nayuh, dalam bayangan saya, selalu menjadi ruang yang mempertemukan kembali sanak saudara. Tempat orang-orang saling berbagi cerita,, saling mendoakan, dan kembali merasakan hangatnya menjadi bagian dari sebuah keluarga besar.

 

Namun, belum sempat saya mengucapkan selamat, beliau melanjutkan kalimat yang membuat saya terdiam.

"Tapi yang memberi kabar juga berpesan, kalau pulang jangan bawa uang sedikit. Kalau memang tidak siap, lebih baik tidak usah pulang."

Saya sempat mengira beliau sedang bergurau.

"Lho, memang kenapa?" tanya saya.

Beliau menjawab pelan.

"Sekarang sudah beda. Dalam beharak ada silek, ada nyambai, ada butetah adok. Katanya sekarang identik dengan saweran. Apalagi kalau yang pulang dari perantauan. Orang di pekon mengira kita sudah berhasil, sudah banyak uang."

 

Percakapan itu selesai. Tetapi kalimat terakhirnya tidak ikut berakhir. Ia terus berputar di kepala saya. Sejak kapan kepulangan seorang anak rantau diiringi rasa cemas, bukan rasa rindu?

Sejak kapan undangan menghadiri nayuh membuat orang lebih dulu menghitung isi dompet daripada menghitung hari kepulangannya?

Dan sejak kapan adat yang dahulu menghadirkan kesejukan justru membuat sebagian orang berpikir dua kali untuk pulang?

 

Saya tidak sedang menyimpulkan bahwa semua pelaksanaan adat telah demikian. Sangat mungkin cerita itu hanya pengalaman di satu tempat. Masih banyak pemilik hajat dan pemangku adat yang menjaga setiap prosesi dengan penuh kehormatan. Namun, ketika kegelisahan seperti itu mulai terdengar dari mulut masyarakat sendiri, rasanya tidak ada salahnya jika kita duduk sejenak untuk bertanya.

Apa yang sesungguhnya sedang berubah?

Jangan-jangan yang bergeser bukan adatnya. Melainkan cara kita memperlakukannya.

Budaya bukan sekadar warisan.

Budaya adalah amanah.

Ia lahir dari proses panjang yang dilalui para leluhur yang mengikat nilai, tata krama, penghormatan, dan martabat manusia menjadi satu kesatuan yang diwariskan lintas generasi. Karena itu, budaya tidak pernah berdiri hanya sebagai tontonan.

Di dalamnya ada pesan yang ingin dijaga.

Semakin khidmat sebuah budaya dijalankan, semakin dalam pula kesan yang ditinggalkannya.

Orang mungkin lupa siapa yang duduk di barisan depan.

Tetapi mereka akan selalu ingat bagaimana budaya itu membuat hati mereka tersentuh.

 

Itulah sebabnya budaya-budaya besar selalu bertahan melampaui zamannya. Lihatlah Keraton Yogyakarta atau Surakarta. Ribuan orang datang setiap tahun untuk menyaksikan prosesi budaya. Tidak ada yang merasa dipaksa. Tidak ada yang dipermalukan. Tidak ada kewajiban mengeluarkan uang agar dianggap menghormati tradisi.

 

Semua orang dipersilakan menikmati.

Semua orang dipersilakan belajar.

Lalu pulang membawa rasa hormat.

Karena penghormatan terhadap budaya tidak pernah lahir dari tekanan.

Ia tumbuh karena nilai yang dipancarkan oleh budaya itu sendiri.

 

Karena itulah saya mulai merenungkan fenomena yang belakangan sering diperbincangkan masyarakat.

Dalam beberapa pelaksanaan nyambai, butetah adok, maupun silek pada acara nayuh, mulai muncul kebiasaan saweran. Bahkan sesekali diselingi sindiran halus kepada tamu atau penonton agar ikut memberi.

 

Saya percaya, tidak semua tempat melakukannya.

Saya juga percaya, niatnya mungkin baik. Barangkali sekadar mencairkan suasana. Barangkali ingin menambah semarak acara. Bahkan mungkin dimaksudkan sebagai bentuk penghargaan kepada para penampil.

 

Tidak ada yang salah dengan niat baik.

Tetapi setiap kebiasaan baru patut direnungkan ketika mulai memasuki ruang yang sejak dahulu dipandang sakral.

Sebab tidak semua tamu menikmati saat namanya disebut.

Tidak semua orang nyaman menjadi pusat perhatian.

Ada yang tersenyum demi menjaga sopan santun.

Ada yang merogoh saku karena merasa sungkan.

Ada pula yang memilih diam, tetapi pulang membawa kegelisahan yang tidak pernah diceritakan kepada siapa pun.

Padahal adat sejak dahulu hadir untuk memuliakan manusia.

Bukan menguji isi dompetnya.



(Bersambung ke Bagian II)

Post a Comment

أحدث أقدم