Dua Wajah, Seribu Alasan

 


Saat mendampingi masyarakat, saya kerap menemukan satu hal yang cukup menggelisahkan. Ada orang yang bukan hanya plin-plan ketika berbicara di dalam forum, tetapi juga plin-plan dalam menjalani hidupnya. Di depan kita ia berkata A, di belakang berubah menjadi B. Hari ini begitu yakin menyampaikan pendapat, besok dengan mudah menyangkalnya. Bukan karena menemukan kebenaran baru, tetapi karena orang yang dihadapinya sudah berbeda.

 

Di situlah kadang kita sulit membedakan mana orang yang sedang berubah karena belajar dan mana yang berubah hanya karena kepentingan. Sebab manusia memang boleh berubah pikiran. Tidak ada yang salah dengan mengakui bahwa kita keliru setelah menemukan fakta baru. Yang menjadi persoalan adalah ketika perubahan itu tidak lagi dipandu oleh nilai, melainkan oleh siapa yang sedang kuat, siapa yang sedang berkuasa, dan di mana keuntungan bisa diperoleh.

 

Plin-plan, karena itu, bukan selalu sekadar persoalan bingung memilih. Dalam banyak keadaan, ia adalah bentuk ketidakberdayaan yang paling nyata. Tidak berdaya mengatakan tidak. Tidak berdaya mempertahankan apa yang diyakini. Tidak berdaya menerima risiko dari sebuah pendirian. Maka yang dipelihara bukan lagi prinsip, melainkan posisi. Yang dijaga bukan lagi kebenaran, melainkan keselamatan diri sendiri.

 

Ada pandangan bahwa sikap semacam ini tumbuh dari ketidakmampuan seseorang mempertahankan prinsip dan mengendalikan orientasi hidupnya. Ketika seseorang terlalu bergantung pada pujian, jabatan, uang, akses, atau penerimaan kelompok, pendiriannya menjadi mudah bergeser. Ia tidak lagi bertanya, “Apakah ini benar?” Pertanyaan yang lebih sering muncul justru, “Siapa yang sedang menang?” dan “Apa untungnya bagi saya?”

 

Di titik itu, dua wajah mulai menjadi kebutuhan. Satu wajah dipakai ketika berada di depan kelompok A, wajah lain dikeluarkan ketika berhadapan dengan kelompok B. Kepada yang satu ia menjanjikan kesetiaan, kepada yang lain ia menawarkan dukungan. Semua ingin dirangkul, semua ingin disenangkan, semua pintu ingin tetap terbuka. Kalau bisa, jangan sampai ada yang marah, kecuali mereka yang sudah tidak punya pengaruh.

 

Demokrasi, yang seharusnya menjadi ruang untuk mendidik keberanian menyampaikan pendapat dan mempertanggungjawabkan pilihan, kadang justru memberi panggung yang subur bagi kebiasaan semacam ini. Perbedaan pandangan bukan lagi sesuatu yang diperjuangkan dengan argumentasi, tetapi menjadi barang yang bisa dinegosiasikan. Kesetiaan dapat berpindah mengikuti arah kekuasaan. Prinsip bisa berubah mengikuti peta peluang. Maka lahirlah mereka yang hari ini berteriak paling keras di satu barisan, lalu esok hari berdiri paling depan di barisan yang kemarin dilawannya.

 

Dalam politik, orang mungkin menyebutnya kutu loncat. Tetapi sesungguhnya persoalannya tidak berhenti di politik. Sikap itu bisa tumbuh di kantor, di organisasi, di lingkungan masyarakat, bahkan dalam kehidupan sehari-hari. Ketika seseorang lebih sibuk membaca arah angin daripada menentukan arah hidupnya sendiri, di situlah plin-plan berubah menjadi kebiasaan.

 

Yang paling menyedihkan bukan ketika seseorang salah memilih jalan. Yang lebih menyedihkan adalah ketika ia tidak pernah benar-benar memilih, kecuali memilih berada di sisi yang paling menguntungkan. Hari ini ia bersama kita karena kita dianggap kuat. Besok ia bisa bersama mereka karena mereka tampak lebih menjanjikan. Dan ketika ditanya mengapa berubah, seribu alasan sudah tersedia. Semuanya terdengar masuk akal. Semuanya terdengar bijaksana. Hanya satu yang sering tidak terdengar: kejujuran untuk mengatakan bahwa ia sekadar sedang menjaga kepentingannya.

 

Padahal, hidup tidak selalu meminta kita untuk menang. Ada saatnya mempertahankan pendirian membuat kita kehilangan kesempatan. Ada kalanya berkata jujur membuat kita tidak disukai. Ada masa ketika memilih yang benar justru membuat kita berdiri sendirian. Tetapi mungkin, justru di situlah harga sebuah prinsip diuji. Sebab prinsip yang hanya bertahan ketika keadaan menguntungkan, sebenarnya bukan prinsip. Ia hanya kepentingan yang kebetulan sedang memakai pakaian yang baik.

 

Kita tidak harus keras kepala. Kita juga tidak harus merasa paling benar. Berubah pikiran setelah menemukan kebenaran baru adalah tanda kedewasaan. Mengakui kesalahan adalah keberanian. Namun, terus-menerus berubah hanya karena takut kehilangan posisi, pujian, uang, akses, atau kedekatan dengan kekuasaan, bukanlah keluwesan. Itu hanya cara halus untuk mengatakan bahwa kita belum cukup berani menjadi diri sendiri.

 

Maka mungkin sesekali kita perlu bertanya kepada diri sendiri: sebenarnya apa yang sedang kita pertahankan selama ini? Prinsip atau posisi? Kebenaran atau keuntungan?

 

Sebab orang yang terlalu lama memakai dua wajah mungkin akan kelelahan menyembunyikan wajah aslinya. Dan orang yang selalu memiliki seribu alasan untuk membenarkan perubahan sikapnya, suatu hari bisa kehabisan jawaban ketika ditanya: “Sebenarnya, kamu berdiri di mana?”

 

Post a Comment

أحدث أقدم