Kalau Tak Ada yang Disembunyikan, Mengapa Takut?

 



Dalam menjalani profesi sebagai pendamping, pernah saya menjumpai rekan kerja, sebut saja oknum, yang kalau berbicara suaranya sangat keras. Apa pun yang disampaikan selalu lantang, seolah tidak ada yang perlu ditakutkan. Tetapi saya cukup terkejut ketika suatu ketika terjadi sedikit kesalahan yang menurut saya semestinya dihadapi oleh seorang leader dengan sikap bertanggung jawab. Bukannya pasang badan di depan atasan, ia justru menyalahkan kawannya dengan mengatakan bahwa kesalahan terjadi karena kawannya tidak melakukan ini dan tidak melakukan itu. Padahal faktanya, kawannya sudah berinisiatif melakukan sesuatu, hanya saja inisiatif tersebut justru tidak mendapatkan dukungan darinya.


Dari peristiwa itu saya kemudian berpikir, ternyata suara keras belum tentu menunjukkan keberanian. Seseorang bisa saja lantang ketika berbicara, tetapi ketika berhadapan dengan persoalan dan tanggung jawab, keberaniannya berubah arah. Yang semula terdengar seperti singa, tiba-tiba sibuk mencari siapa yang bisa dijadikan alasan.


Kalau pada tulisan sebelumnya saya berbicara tentang keberanian yang sering berubah ketika berhadapan dengan kepentingan, kali ini saya kembali berpikir: sebenarnya dari mana keberanian itu datang? Menurut saya, sebagian orang memang sejak lahir lebih berani, tegas, dan tidak mudah gentar. Tetapi keberanian juga bisa dilatih. Orang yang awalnya takut berbicara di depan banyak orang, karena terus berlatih akhirnya mampu berbicara dengan tenang.


Dari sisi ilmu kesehatan dan neurosains, keberanian juga bukan berarti tidak memiliki rasa takut. Amigdala berperan dalam memproses rasa takut, sementara korteks prefrontal membantu mengatur respons terhadap rasa takut tersebut. Penelitian Uri Nili dan rekan-rekannya menunjukkan adanya aktivitas jaringan otak tertentu ketika seseorang memilih menghadapi ketakutannya. Jadi, kalau boleh saya sederhanakan, orang berani bukan orang yang tidak takut, tetapi orang yang mampu mengelola rasa takutnya dan tetap mengambil sikap.


Namun menurut saya, latihan saja belum cukup. Ada satu modal yang membuat keberanian terasa lebih ringan, yaitu kejujuran. Kalau yang kita sampaikan sesuai keadaan, tidak ada yang sengaja ditutupi, tidak ada fakta yang dipelintir, dan tidak ada kepentingan pribadi yang disembunyikan, biasanya hati lebih tenang. Kita bisa berbicara dengan siapa saja tanpa harus terlalu banyak menghitung risiko.


Sebaliknya, ketika ada sesuatu yang disembunyikan, rasa was-was biasanya muncul. Ditanya sedikit takut. Diminta menjelaskan lebih jauh mulai gelisah. Ketika data dibandingkan dengan kenyataan, tiba-tiba mencari alasan. Dari situ saya sering berpikir, jangan-jangan yang membuat seseorang takut bukan karena orang di depannya terlalu menakutkan, tetapi karena ada sesuatu di belakang dirinya yang belum selesai.


Bagi saya, orang jujur bukan berarti orang yang tidak pernah salah. Justru salah satu bentuk keberanian adalah berani mengatakan, “Saya keliru.” Tidak perlu mencari kambing hitam, tidak perlu membuat cerita baru untuk menutupi cerita lama. Salah ya salah, diperbaiki dan dipertanggungjawabkan. Sebab kadang mengakui kesalahan jauh lebih berani daripada membuat seribu alasan.


Seorang leader juga tidak selalu harus menjadi orang yang paling banyak bicara. Dalam situasi tertentu, ia harus mampu berdiri di depan ketika timnya menghadapi masalah dan memberikan penjelasan secara objektif. Bukan berarti semua kesalahan harus ditanggung sendiri, tetapi tanggung jawab kepemimpinan jangan hanya terlihat ketika keadaan baik. Ketika ada masalah, barulah terlihat apakah seseorang benar-benar pemimpin atau hanya kebetulan memegang posisi.


Keberanian juga bukan berarti harus keras kepada pimpinan, berani membantah semua keputusan, atau merasa paling benar. Menghormati pimpinan tetap penting. Mengikuti aturan juga kewajiban. Tetapi menghormati pimpinan tidak berarti harus kehilangan pendirian, sebagaimana loyalitas tidak seharusnya membuat seseorang meninggalkan kejujuran.


Saya kemudian sampai pada kesimpulan sederhana: keberanian bisa dilatih, rasa takut bisa dikelola, tetapi keberanian yang kokoh harus dibangun di atas kejujuran. Orang yang tidak menyembunyikan sesuatu akan lebih mudah berdiri tegak karena apa yang dibawanya dapat dipertanggungjawabkan.


Namun, setelah semuanya itu, masih ada keberanian yang menurut saya lebih tinggi.


Takut kepada Allah SWT.


Bagi saya, takut kepada Allah bukan berarti menjadi pengecut di hadapan manusia. Justru sebaliknya. Ketika seseorang lebih takut kepada Allah daripada kepada manusia, ia tidak mudah mengubah kebenaran hanya karena berhadapan dengan orang yang memiliki jabatan, kewenangan, atau pengaruh.


Ia tetap bisa menghormati pimpinan tanpa harus membenarkan semua hal. Tetap bisa mencari rezeki tanpa menjual prinsip. Tetap bisa bekerja dalam aturan tanpa mengorbankan kejujuran. Sebab manusia mungkin hanya melihat apa yang tampak, sementara Allah mengetahui apa yang tersembunyi.

Mungkin inilah yang sering kita lupakan. Kita sibuk melatih keberanian berbicara, tetapi lupa melatih keberanian untuk jujur. Kita belajar terlihat tegas di hadapan manusia, tetapi kadang lupa bahwa ada pertanggungjawaban yang jauh lebih besar di hadapan Allah.


Maka bagi saya, keberanian sejati bukan tentang siapa yang paling keras suaranya, paling berani berdebat, atau paling sering mengaku tidak takut kepada siapa pun. Keberanian sejati adalah ketika kita mampu berkata benar, mengakui salah, tidak menyembunyikan sesuatu yang seharusnya diketahui, dan tetap menjaga amanah meskipun tidak ada yang sedang melihat.


Karena kalau memang tidak ada yang disembunyikan, mengapa harus takut?


Dan kalau kita benar-benar takut kepada Allah, mengapa harus terlalu takut kepada manusia?


Sebab keberanian yang paling kuat bukan keberanian untuk melawan manusia, tetapi keberanian untuk tetap jujur ketika manusia sedang menjadi ujian.

 


Post a Comment

Previous Post Next Post