Ada yang Bersaudara, Ada yang Sekadar Ada

 


Kadang yang paling melelahkan dari bersaudara bukanlah perbedaan, melainkan ketika kedekatan terasa memiliki musimnya sendiri. Saat kita kuat, pintu seolah lebih mudah terbuka; saat kita punya sesuatu untuk diberikan, kehadiran kita terasa begitu berarti. Kita pun tak pernah keberatan menjadi tempat meminta, sebab bukankah saudara memang semestinya saling membantu? Hanya saja, ketika giliran kita yang lemah, ketika tangan tak lagi mampu memberi dan langkah sedang tertatih, kita belajar bahwa tidak semua kedekatan memiliki jarak yang sama. Ada yang tetap mendekat, ada yang memberi ruang, dan ada yang mungkin hanya sedang menunggu kita kembali kuat.


Pengakuan pun demikian. Ketika kita dibutuhkan, keberadaan kita terasa penting. Tetapi ketika kita tak lagi mampu melakukan banyak hal, kadang yang kita rindukan bahkan bukan pujian, hanya sebuah pengakuan sederhana bahwa “kamu tetap saudaraku.” Sebab manusia mungkin bisa menerima ketika jasanya dilupakan, tetapi sulit menerima ketika keberadaannya seolah ikut terlupakan. Dan soal jasa, memang tak patut kita hitung satu per satu. 


Persaudaraan bukan tempat menyimpan kuitansi kebaikan. Namun jika hanya satu pihak yang terus memberi, sementara yang lain hanya datang ketika membutuhkan, perlahan hangatnya bisa berubah menjadi jarak—bukan karena ada yang ingin menjauh, tetapi karena hati mulai belajar memahami batasnya sendiri.


Mungkin kita tidak membutuhkan saudara yang selalu hadir dalam setiap keadaan. Kita hanya berharap ada yang sesekali bertanya ketika kita diam, ada yang tetap mengenali kita ketika kita tidak lagi bersinar, dan ada yang tidak merasa asing hanya karena kita sedang tidak memiliki apa-apa. 


Sebab darah mungkin membuat kita bersaudara, tetapi kepedulianlah yang membuat kita merasa benar-benar memiliki saudara. Dan mungkin, yang paling menyentuh bukanlah siapa yang datang ketika kita punya sesuatu, melainkan siapa yang tetap tinggal ketika kita sudah tidak punya apa-apa untuk diberikan.


Karena pada akhirnya, ada yang bersaudara karena darah, ada yang dekat karena keadaan, dan ada yang sekadar ada ketika kehidupan sedang berpihak kepada kita. Namun kita semua mungkin hanya sedang mencari satu hal yang sederhana: ketika suatu hari kita jatuh, semoga masih ada yang menyebut nama kita dengan hangat bukan karena kita berguna, tetapi karena kita memang saudara.

 

Post a Comment

أحدث أقدم