Air Mata Tidak Selalu Berarti Luka

 


Jangan terlalu cepat percaya pada air mata. Sebab tidak semua yang basah di pelupuk mata lahir dari kesedihan. Ada air mata karena kehilangan, kecewa, terlalu lama menahan beban, atau emosi yang sudah tidak sanggup lagi dipendam. Air mata adalah karunia Tuhan, salah satu cara tubuh melepaskan tekanan dan menenangkan jiwa. Ia juga bahasa tubuh yang sering kali lebih jujur daripada seribu kata.

 

Karena itu, menangis bukan tanda kelemahan. Bisa jadi justru tanda bahwa hati seseorang masih lembut. Ia masih mampu tersentuh oleh penderitaan, masih gelisah melihat ketidakadilan, dan masih merasa bersalah ketika menyakiti. Hati yang lembut bukan berarti mudah dikalahkan. Justru dari sanalah biasanya tumbuh keberanian untuk berdiri di sisi kebenaran dan keadilan.

 

Tetapi manusia memang unik. Sesuatu yang diciptakan Tuhan untuk melegakan hati, kadang diubah menjadi alat untuk memenangkan kepentingan. Ada yang menangis ketika argumentasinya habis, ketika kesalahannya mulai dipertanyakan, atau ketika kepentingannya terancam. Lawan bicara yang semula meminta penjelasan mendadak merasa bersalah. Yang tadinya ingin menagih tanggung jawab malah sibuk mencari tisu. Rupanya air mata juga bisa menjadi strategi.

 

Karena itu, air mata bukan sertifikat kebenaran. Orang yang menangis belum tentu benar, dan orang yang diam belum tentu tidak terluka. Ada yang menyimpan sakitnya karena tidak ingin menjadikan penderitaan sebagai tontonan. Ada pula yang menjadikan air mata sebagai panggung agar dirinya selalu terlihat sebagai korban. Bedanya hanya bisa dibaca dari perilaku, terutama ketika tidak ada kepentingan yang sedang diperjuangkan.

 

Orang yang berhati lembut biasanya tidak hanya menangis ketika dirinya disakiti. Ia juga pedih ketika melihat orang lain diperlakukan tidak adil. Sebaliknya, pemain peran bisa sangat sedih ketika kepentingannya terganggu, tetapi mendadak kering ketika hak orang lain dirampas. Maka jangan hanya melihat air matanya. Lihat juga tangannya: apakah pernah mengangkat orang yang jatuh, atau justru ikut mendorongnya?

 

Pada akhirnya, saya lebih percaya kepada konsistensi daripada air mata. Air mata bisa dibuat sesaat, karakter tidak. Air mata bisa dipentaskan, tetapi waktu akan membongkar siapa yang tulus dan siapa yang hanya pandai memainkan peran. Sebab ada air mata yang jatuh untuk membersihkan hati, tetapi ada pula yang sengaja diteteskan untuk membersihkan jalan menuju kepentingan pribadi. Dan ketika air mata itu akhirnya kering, yang tersisa bukan lagi acting melainkan wajah asli seseorang.

 

Post a Comment

Previous Post Next Post