Catatan
Ali Rukman tentang etika, pendidikan, dan kehidupan bernegara.
Ada
dua hal yang sering kita campuradukkan dalam menilai manusia: tingkat
pendidikan dan etika. Padahal, keduanya tidak selalu berjalan beriringan.
Pendidikan
membuat seseorang berilmu, tetapi etika mengajarkannya bagaimana memperlakukan
sesama. Gelar bisa membuat seseorang dihormati karena pencapaiannya, tetapi
perilakulah yang menentukan apakah ia benar-benar layak dihormati.
Sebab,
orang berpendidikan tinggi belum tentu
beretika, sebagaimana orang berpendidikan rendah belum tentu rendah pula budi
pekertinya.
Dalam
kehidupan bermasyarakat, kita sering menemukan orang yang gelarnya panjang,
tetapi sikapnya merendahkan. Sebaliknya, ada orang sederhana yang tidak
memiliki gelar tinggi, tetapi tutur katanya santun, perilakunya jujur, dan
kehadirannya membuat orang lain merasa dihargai.
Lalu,
apa gunanya gelar berderet jika untuk menghormati orang lain saja kita masih
kesulitan?
Masyarakat
sesungguhnya tidak hanya membutuhkan orang pintar, tetapi juga orang yang tahu
cara bersikap. Sebab, orang mungkin kagum pada gelar kita, tetapi mereka akan
mengingat bagaimana kita memperlakukan mereka.
Gelar adalah kebanggaan akademik, sedangkan etika
adalah cerminan kemanusiaan.
Namun,
ketika memasuki kehidupan bernegara, persoalannya sering berbeda. Etika
terkadang tidak lagi diukur dengan standar yang sama. Perilaku seseorang bisa
dinilai baik ketika ia berada di lingkaran kekuasaan, tetapi dianggap buruk
ketika ia berada di luar lingkaran itu.
Kesalahan
orang tertentu mudah dimaklumi, sementara kesalahan orang lain
dibesar-besarkan. Bukan semata-mata karena perbuatannya berbeda, melainkan
karena kedudukan dan kepentingan yang menyertainya berbeda.
Di
sinilah standar ganda menjadi persoalan.
Ketika
penilaian terhadap seseorang lebih ditentukan oleh jabatan, kedekatan, dan
kepentingan daripada benar atau salahnya suatu perbuatan, sesungguhnya etika
telah kehilangan konsistensinya.
Padahal,
semakin tinggi jabatan seseorang, semestinya semakin besar pula tanggung jawab
moralnya. Gelar dan kekuasaan bukan alasan untuk merasa lebih tinggi, apalagi
untuk terbebas dari kritik.
Saya
percaya, pendidikan tetap penting dan gelar patut dihargai. Namun, keduanya
tidak boleh dijadikan ukuran tunggal untuk menentukan kemuliaan seseorang.
Kita
membutuhkan manusia yang berilmu sekaligus beretika, pemimpin yang cerdas
sekaligus berintegritas, serta masyarakat yang mampu menghargai pendidikan
tanpa merendahkan kesederhanaan.
Sebab,
tidak semua orang bergelar tinggi
memiliki kebijaksanaan, dan tidak semua orang yang sederhana kehilangan
kehormatan.
Pada
akhirnya, gelar dapat membuat nama kita terlihat hebat, jabatan dapat membuat
kita terlihat berkuasa, tetapi hanya etika yang membuat orang lain merasa
terhormat ketika berada di dekat kita.
Jangan
sampai kita terlalu sibuk meninggikan gelar, tetapi lupa meninggikan budi
pekerti. Jangan sampai kita bangga menjadi orang terpelajar, tetapi gagal
menjadi manusia yang beradab.
Sebab, yang membuat seseorang benar-benar mulia
bukanlah seberapa tinggi gelar yang melekat pada namanya, melainkan seberapa
baik ia menjaga martabat orang lain tanpa kehilangan martabat dirinya sendiri.

إرسال تعليق