Jangan Merasa Lebih Tinggi dari Masyarakat

 


Menjadi fasilitator pemberdayaan masyarakat bukan sekadar soal menguasai materi, menyampaikan teori, atau menyelesaikan target kegiatan. Ada hal yang sering dianggap sepele, tetapi sangat menentukan keberhasilan pendampingan: karakter dan sikap. Sebab, masyarakat tidak hanya menilai program yang kita bawa, tetapi juga menilai cara kita memperlakukan mereka.


Ironisnya, ada fasilitator yang datang membawa misi pemberdayaan, tetapi lupa memberdayakan sikapnya sendiri. Berbekal gelar, pengalaman, jabatan, atau sertifikat pelatihan, ia merasa lebih tahu dan lebih pantas didengar. Masyarakat diajak berdiskusi, tetapi pendapatnya sendiri yang ingin dimenangkan. Katanya membangun partisipasi, tetapi tidak memberi ruang bagi suara warga. Katanya mendorong kemandirian, tetapi perilakunya justru membuat masyarakat merasa rendah diri.


Dalam pergaulan, kita mengenal label orang kaya lama, orang kaya baru, orang miskin berlagak kaya, orang sederhana, hingga orang miskin. Label itu sering muncul dari cara kita menilai penampilan dan perilaku seseorang. Padahal, kekayaan tidak selalu mencerminkan kerendahan hati, sebagaimana keterbatasan ekonomi tidak menentukan rendahnya martabat seseorang. Isi dompet tidak selalu mencerminkan isi kepala, apalagi isi hati.


Sayangnya, sikap merasa lebih tinggi tidak hanya lahir dari kekayaan. Gelar akademik, jabatan, pengalaman, bahkan pengetahuan tentang pemberdayaan pun bisa menjadi sumber kesombongan. Ada yang fasih berbicara tentang partisipasi, tetapi sulit mendengarkan. Ada yang pandai menyusun program, tetapi gagal menghargai warga. Pengetahuan seharusnya membuat seseorang semakin rendah hati, bukan semakin tinggi hati.


Fasilitator perlu menyadari bahwa masyarakat bukan sekadar objek kegiatan, daftar hadir, atau pelengkap laporan. Mereka adalah manusia yang memiliki pengalaman, harga diri, dan pengetahuan tentang lingkungannya sendiri. Jangan hanya ramah di hadapan pejabat, tetapi berubah sikap ketika berhadapan dengan warga kecil. Jangan pula hadir saat kegiatan, lalu menghilang setelah laporan selesai.


Masyarakat mungkin tetap tersenyum dan mengangguk ketika berhadapan dengan fasilitator yang angkuh. Namun, jangan buru-buru menganggapnya sebagai tanda penerimaan. Bisa jadi mereka hanya menjaga sopan santun, sementara kepercayaan perlahan menghilang. Program tetap berjalan di atas kertas, tetapi partisipasi masyarakat justru melemah.


Karena itu, sebelum mengenal masyarakat, seorang fasilitator perlu mengenali dirinya sendiri. Apakah kita datang untuk mendengar atau sekadar ingin didengar? Apakah kita siap menerima kritik dari warga yang pendidikannya lebih rendah? Apakah kita menghargai perbedaan pendapat, atau menganggapnya sebagai bentuk penolakan?


Fasilitator bukan orang yang datang membawa kebenaran tunggal. Ia hadir untuk membangun dialog, menggali potensi, dan mendampingi masyarakat menemukan jalan keluarnya sendiri. Keahlian tidak memberinya hak untuk meremehkan, pengalaman tidak membuatnya selalu benar, dan jabatan tidak menjadikannya lebih bermartabat daripada orang yang didampinginya.


Pada akhirnya, keberhasilan pemberdayaan bukan hanya tentang terlaksananya kegiatan atau lengkapnya laporan, tetapi juga tentang tumbuhnya kepercayaan dan kemandirian masyarakat.


Masyarakat tidak selalu menolak program yang kita bawa. Terkadang, mereka hanya tidak nyaman dengan sikap orang yang membawanya.


Sebelum mengajari masyarakat tentang perubahan, ubahlah terlebih dahulu sikap kita sendiri. Sebab, yang paling sulit dalam pemberdayaan terkadang bukan mengubah pola pikir masyarakat, melainkan menundukkan ego orang yang merasa paling tahu tentang mereka.



 

Post a Comment

أحدث أقدم