Dalam kerja-kerja pendampingan masyarakat, ada satu fase
yang kerap diletakkan paling akhir, namun justru menjadi penentu seluruh
proses: mobilisasi. Ia bukan sekadar tahapan teknis, melainkan ujian
terakhir—bahkan pembuktian—atas kualitas kerja pendamping atau organizer
bersama masyarakat.
Selama berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun, pendamping
hadir di tengah warga: mengurai persoalan, membuka ruang dialog, melakukan
advokasi, menyusun kesepakatan, dan menanamkan kesadaran. Semua proses itu pada
akhirnya diuji dalam satu pertanyaan sederhana namun menentukan: apakah
masyarakat bergerak atas kesadarannya sendiri?
Dalam teori aksi kolektif, Charles Tilly memaknai mobilisasi
sebagai proses mengorganisasi sumber daya—manusia, gagasan, dan jaringan—untuk
mencapai tujuan bersama. Dengan pengertian ini, mobilisasi bukanlah peristiwa
spontan, apalagi sekadar keramaian sesaat. Ia adalah hasil dari proses panjang
pengorganisasian yang sadar, berlapis, dan penuh kesabaran.
Namun dalam praktik, mobilisasi sering disempitkan maknanya.
Ia kerap dipahami sebagai pengumpulan massa dalam jumlah besar di ruang publik:
demonstrasi, aksi terbuka, atau kerumunan yang tampak ramai. Padahal, seperti
diingatkan Paulo Freire, kesadaran kritis hanya bermakna jika menjelma menjadi
tindakan. Tanpa tindakan, kesadaran berhenti sebagai pengetahuan yang tidak
mengubah apa pun.
Dalam pendampingan masyarakat—terutama yang dikelola oleh
negara—mobilisasi justru sering hadir dalam bentuk yang sunyi dan sederhana:
warga hadir dalam pertemuan karena merasa perlu, bukan karena undangan;
masyarakat memilih kader yang mereka percaya, bukan sekadar memenuhi prosedur;
kelompok menjalankan keputusan kolektif tanpa harus terus didorong oleh
pendamping. Di titik inilah mobilisasi menjadi cermin paling jujur dari
kualitas pendampingan.
Tanpa mobilisasi, pendampingan terasa hampa. Dari sisi
masyarakat, mobilisasi adalah pembuktian bahwa mereka tidak hanya memahami
tujuan bersama, tetapi juga bersedia melaksanakannya. Ia menandai pergeseran
penting: dari objek program menjadi subjek perubahan. Sebagaimana ditegaskan
Saul Alinsky, kekuatan warga bukan terletak pada seberapa sering mereka
dikumpulkan, melainkan pada kemampuan mereka bertindak bersama.
Pertanyaan penting kemudian muncul: apakah pendampingan yang
dikelola oleh negara, atau bersumber dari anggaran negara, benar-benar memberi
ruang bagi fase mobilisasi ini?
Secara konseptual, hampir semua program negara mengakui
pentingnya partisipasi masyarakat. Mobilisasi hadir dengan istilah yang lebih
aman dan administratif: keterlibatan warga, penguatan kelembagaan lokal, atau
partisipasi. Namun dalam praktik, mobilisasi sering berhenti sebagai narasi
perencanaan dan laporan.
Skema program negara berjalan dalam koridor pengendalian
yang ketat. Jadwal telah ditentukan, indikator telah dikunci, dan output harus
tercapai sesuai kalender anggaran. Dalam situasi seperti ini, mobilisasi yang
bersifat dinamis dan kontekstual kerap dianggap berisiko. Ia bisa mengganggu
target, memperlambat serapan, atau keluar dari desain proyek. Akibatnya, yang
terjadi bukan mobilisasi, melainkan kehadiran formal.
Masyarakat datang ke pertemuan karena diundang, bukan karena
dorongan kesadaran. Pemilihan pengurus berlangsung karena kewajiban prosedural,
bukan karena keyakinan kolektif. Pendamping memastikan daftar hadir terpenuhi,
bukan memastikan keputusan benar-benar lahir dari proses yang hidup. Mobilisasi
pun direduksi menjadi absensi, foto kegiatan, dan berita acara.
Kondisi ini mengingatkan pada kritik James C. Scott tentang
kecenderungan negara menyederhanakan realitas sosial agar mudah dikendalikan
dan dilaporkan. Mobilisasi yang organik sulit masuk dalam logika ini karena ia
tidak selalu rapi, tidak selalu linier, dan sering kali melampaui batas waktu
proyek.
Di tengah keterbatasan itu, pendamping sejati justru diuji
secara etik. Ia tidak cukup puas pada pemenuhan indikator, tetapi terus
bertanya dalam dirinya: apakah masyarakat yang saya dampingi sudah benar-benar
bergerak?
Pertanyaan itu dapat dijaga melalui cermin sederhana—bukan
untuk laporan, melainkan untuk kejujuran proses. Apakah warga hadir tanpa harus
diingatkan berulang? Apakah keputusan diambil melalui musyawarah, bukan sekadar
mengikuti arahan program? Apakah kader dipilih dan mampu memimpin tanpa
kehadiran pendamping? Apakah inisiatif dan swadaya mulai muncul tanpa perintah?
Apakah warga berani menyampaikan usulan atau keberatan secara kolektif dan
tertib? Apakah kelompok tetap hidup meski program resmi telah selesai?
Jika sebagian besar pertanyaan itu belum terjawab, maka
pendampingan masih berada pada fase fasilitasi. Jika banyak yang mulai
terjawab, mobilisasi sedang tumbuh. Dan jika hampir semuanya terjawab tanpa
kehadiran pendamping, maka kerja pendampingan sesungguhnya telah mendekati
kepurnaan.
Pada akhirnya, pendamping sejati memiliki tanggung jawab
moral untuk memastikan bahwa masyarakat dampingannya melewati fase mobilisasi
sebagai pembuktian bahwa kerja pendampingan telah selesai dengan bermartabat.
Mobilisasi bahkan tidak harus selalu terjadi di dalam skema program negara. Ia
bisa tumbuh di luar desain proyek, atau justru setelah masyarakat tidak lagi
berstatus sebagai lokasi program. Karena berlangsung di luar mandat formal,
fase ini tidak menimbulkan pelanggaran administrasi, namun tetap menjaga ruh
pendampingan.
Di titik itu, pendamping boleh menepi. Ketika masyarakat
tetap bergerak, berkumpul, dan mengambil keputusan tanpa kehadirannya, maka
yang tersisa bukan lagi program, melainkan kesadaran kolektif yang hidup dan
bekerja atas kehendaknya sendiri.
Dan di sanalah mobilisasi menemukan maknanya yang paling
jujur: sebagai ujian terakhir yang menentukan apakah pendampingan benar-benar
telah bermakna.
Post a Comment