Sebelum Bicara Jauh



Saya sering merasa kita terlalu cepat bicara tentang masa depan. Tentang visi besar, bonus demografi, Indonesia Emas, dan berbagai istilah lain yang terdengar meyakinkan. Padahal, di banyak tempat, masyarakat masih sibuk dengan urusan paling dasar: bagaimana besok bisa tetap makan.


Dalam beberapa pertemuan dengan warga desa dan masyarakat kecil di kota, saya jarang mendengar mereka menuntut program yang rumit. Pertanyaan mereka sederhana, nyaris selalu sama: setelah ini kami harus bagaimana? Pertanyaan itu bukan keluhan, melainkan penanda bahwa mereka lelah berjalan sendiri tanpa arah yang jelas.


Di titik inilah saya sampai pada satu kesimpulan yang barangkali terdengar klise, tetapi justru sering diabaikan: pemberdayaan yang paling mendesak hari ini adalah pemberdayaan ekonomi berbasis keterampilan praktis dan literasi digital. Bukan karena aspek lain tidak penting, melainkan karena ekonomi adalah fondasi dari segalanya. Ketika penghasilan tidak ada atau tidak cukup, pendidikan terasa mahal, kesehatan menjadi pilihan terakhir, dan partisipasi sosial berubah menjadi kemewahan.


Banyak ahli pemberdayaan masyarakat sudah lama menegaskan bahwa perubahan tidak lahir dari pelatihan singkat, melainkan dari pendampingan yang berkelanjutan. Penelitian menunjukkan masyarakat mampu berkembang ketika didampingi secara konsisten, diajak berdiskusi, dan dilibatkan sebagai subjek, bukan objek. Sayangnya, dalam praktik, pendampingan sering kali berhenti pada administrasi dan laporan, bukan pada proses hidup masyarakat itu sendiri.


Pemerintah sebenarnya telah membuka ruang yang besar melalui Dana Desa. Anggaran yang tidak kecil itu seharusnya menjadi kesempatan emas untuk memperkuat ekonomi lokal, mengembangkan UMKM, dan meningkatkan keterampilan masyarakat. Namun tanpa pendamping yang memahami konteks lokal dan tanpa arah yang jelas, Dana Desa berisiko habis untuk kegiatan rutin yang tidak menyentuh akar persoalan.


Masalahnya bukan pada kurangnya dana, tetapi pada cara mendampingi. Masyarakat tidak membutuhkan instruktur yang datang membawa modul lalu pergi. Mereka membutuhkan pendamping yang hadir secara rutin, mau mendengar, bersedia menemani proses gagal dan mencoba lagi. Pendamping yang membantu pelaku usaha kecil memahami pencatatan keuangan sederhana, memasarkan produk lewat gawai, dan pelan-pelan berani masuk ke ruang digital.


Di sinilah kampus seharusnya mengambil peran lebih serius. Kampus tidak cukup hanya melahirkan lulusan dan jurnal ilmiah. Melalui pengabdian masyarakat dan program seperti KKN, kampus bisa menjadi jembatan antara pengetahuan dan kebutuhan nyata di lapangan. Mahasiswa, dengan pendampingan yang tepat, bisa menjadi mitra belajar masyarakat: membantu UMKM mengelola usaha, mengenalkan teknologi sederhana, dan memetakan potensi lokal yang selama ini terabaikan.


Pengalaman berbagai program pengabdian menunjukkan bahwa literasi digital bukan sesuatu yang terlalu rumit bagi masyarakat. Justru ketika diajarkan secara kontekstual dan sabar, keterampilan digital mampu membuka akses pasar baru dan meningkatkan pendapatan. Perubahan kecil semacam ini sering kali berdampak besar bagi kehidupan keluarga.


Ketika ekonomi mulai membaik, perubahan lain mengikuti. Anak-anak kembali bersekolah dengan lebih tenang. Kesehatan tidak lagi ditunda. Perempuan memiliki ruang untuk berdaya. Masyarakat mulai berani terlibat dalam musyawarah dan pengambilan keputusan. Demokrasi tumbuh bukan dari pidato, tetapi dari perut yang kenyang dan pikiran yang tidak lagi tercekik oleh kecemasan harian.


Mungkin kita memang terlalu sering berlari, sementara sebagian masyarakat hanya ingin diajak berjalan. Terlalu sibuk menyusun masa depan, sampai lupa menengok hari ini. Padahal, hidup tidak pernah berlangsung di atas kertas perencanaan, melainkan di dapur-dapur kecil yang asapnya kian menipis.


Masyarakat tidak selalu pandai merangkai kata, tetapi mereka paham betul arti bertahan. Mereka tahu kapan harus mengalah, kapan harus diam, dan kapan berharap. Yang sering tidak mereka miliki hanyalah teman seperjalanan—seseorang yang tidak pergi ketika langkah melambat, yang tidak lelah mendengar cerita yang itu-itu saja.


Barangkali pemberdayaan memang bukan tentang seberapa tinggi kita melangkah, melainkan seberapa dekat kita bersedia duduk. Sebab sebelum bicara jauh, ada hidup yang sedang dijalani dengan segala keterbatasannya. Dan di sanalah, pada hal-hal yang paling sederhana, martabat manusia seharusnya dijaga.



Post a Comment

Previous Post Next Post