“Lebih baik bodoh tapi nurut, daripada pintar tapi tidak nurut.”
Ungkapan ini pernah terlontar dari mulut seorang pejabat di Negeri ini. Kalimatnya sederhana, nyaris seperti slogan ringan, namun justru di situlah letak bahayanya. Ia tidak hanya menjauh dari nilai-nilai demokrasi dan semangat reformasi, tetapi secara implisit mengandung upaya pelembagaan kebodohan dan pelestarian budaya ABS (asal bapak senang). Di dalamnya, kompetensi menjadi tak bermakna, dan motivasi kerja direduksi sebatas menyenangkan hati atasan.
Ungkapan semacam ini sungguh patut disayangkan, terlebih bila datang dari seorang pemimpin. Sebab, kompetensi dan motivasi adalah dua fondasi utama dalam kepemimpinan di mana pun. Staf bukan sekadar alat kerja, melainkan manusia yang memiliki kemampuan, harapan, dan kebutuhan untuk berkembang—termasuk meningkatkan jenjang kariernya.
Kompetensi tentu tidak bisa dimaknai sebatas deretan gelar akademik, apalagi bila gelar tersebut sama sekali tidak sejalan dengan bidang tugas yang diemban. Ia juga bukan soal kedekatan personal, hubungan kekerabatan, atau loyalitas membabi buta dengan harapan mampu menyerap seluruh ide dan gagasan sang pejabat. Kompetensi tidak diukur dari seberapa sering bertatap muka, seberapa rendah kepala ditundukkan saat berpapasan, seberapa rajin hadir di undangan hajatan, seberapa sering memberi laporan—diminta atau tidak diminta—atau bahkan dari kemampuan “menyetor” setelah proyek usai. Kompetensi, pada akhirnya, terletak pada kemampuan merencanakan, melaksanakan, dan mengevaluasi pekerjaan berdasarkan indikator yang jelas dan terukur.
Begitu pula motivasi kerja. Ia tidak cukup diukur dari tingkat kehadiran, kerapian seragam yang disetrika licin mengilap, kesiapsiagaan menghadiri rapat, atau jawaban “siap” atas setiap perintah mendadak. Motivasi sejati tercermin dari kemauan menyelesaikan persoalan demi persoalan dalam pekerjaan, serta dorongan untuk terus berprestasi dan bertanggung jawab atas hasil kerja.
Lalu, mungkinkah kompetensi lahir hanya dari arahan dan bimbingan semata? Jawabannya: sangat sulit. Volume dan ragam pekerjaan terlalu kompleks untuk dikuasai secara detail oleh satu orang. Waktu konsultasi dan koordinasi dengan atasan pun terbatas. Demikian pula motivasi—mungkinkah ia tumbuh dari jiwa-jiwa yang miskin pengetahuan dan kemampuan? Entahlah. Sebab, motivasi umumnya lahir dari keseimbangan antara penghargaan dan hukuman yang adil. Pertanyaannya, mungkinkah keseimbangan itu hadir bila yang dituntut hanyalah “nurut” tanpa ruang berpikir?
Setelah kompetensi dan motivasi, muncul pertanyaan lanjutan: apa bahayanya, dan seperti apa pemimpin ideal dalam konteks ini? Untuk pertanyaan pertama, hanya waktu dan fakta yang bisa menjawab. Bagaimana praktik kepemimpinan sang pejabat berlangsung? Apakah kompetensi benar-benar menjadi kebutuhan? Apakah motivasi kerja pegawai sungguh-sungguh tumbuh? Keberhasilan program dan terpenuhinya harapan rakyat—terutama kaum miskin—adalah ukuran paling jujur atas semua itu.
Adapun soal pemimpin ideal, berbicara tentang ideal berarti berbicara tentang kesempurnaan dan harapan. Kesempurnaan bukanlah kuasa manusia, tetapi harapan adalah soal keselarasan. Keselarasan antara pemimpin dan yang dipimpin adalah modal dasar keberhasilan program. Di sinilah relevan falsafah batu cincin:
Jika batunya (pemimpin) berkelas, maka pengikat atau tangkainya (staf) cukup yang biasa saja. Namun bila batunya tidak berkelas, maka pengikatnya harus berkelas.
Falsafah ini patut menjadi bahan renungan.
Falsafah batu cincin mengisyaratkan perlunya keserasian yang saling melengkapi antara yang memimpin dan yang dipimpin. Namun sebelum keserasian itu terwujud, pemimpin harus terlebih dahulu memberi teladan—dengan kesadaran kritis, bukan sekadar menuntut kepatuhan.
Pemimpin yang berketeladanan akan melahirkan pemimpin-pemimpin baru, bukan sekadar pengikut yang hanya pandai “nurut”. Baginya, yang utama bukan “macho”—kekuasaan, kewenangan, dan aksesori jabatan—melainkan “maestro”: mampu atau tidak ia mengerjakan dan mempertanggungjawabkan pekerjaan yang dibebankan kepadanya.
“Apa yang tidak Anda hargai, tidak akan dihargai. Apa yang tidak Anda ubah, tidak akan berubah. Apa yang tidak Anda kerjakan, tidak akan dikerjakan. Pertanyaan sesungguhnya bukanlah apa yang hendak diperbuat, melainkan kemauan untuk melakukannya.”
— Alexander M. Sauders Jr.
Pemimpin yang mampu memberi teladan tidak hanya memikirkan keselamatan posisinya—hari ini maupun esok. Ia akan terus mengembangkan timnya agar lebih produktif. Dan bila timnya gagal mencapai target yang disepakati, ia tidak akan ragu bertanggung jawab: mengundurkan diri, atau setidaknya tidak kembali mencalonkan diri. Sebab kegagalan tim, pada akhirnya, adalah kegagalan kepemimpinan.
Semoga.
Tulisan ini pernah dimuat di HU Bandar Lampung News, No. 306 Thn VI.1-7 Oktober 2009

إرسال تعليق