Catatan Etis tentang Relasi Senior–Junior dalam Pendampingan Masyarakat



Pendampingan masyarakat sering dipahami sebagai kerja yang luhur—menghubungkan pengetahuan dengan kebutuhan, pengalaman dengan harapan, serta perubahan dengan kesabaran. Namun di balik idealisme itu, relasi antara senior dan junior tidak selalu berjalan setara. Dalam praktik tertentu, relasi ini justru melahirkan ketegangan etik yang jarang dibicarakan secara terbuka, tetapi nyata dirasakan oleh mereka yang menjalaninya.

 

Saya mengenal pendampingan bukan hanya sebagai kerja profesional, melainkan sebagai proses pembelajaran batin. Di dalamnya, saya belajar bahwa kesalahan seharusnya menjadi bahan refleksi, perbedaan menjadi pintu dialog, dan pengalaman menjadi sarana berbagi. Namun pengalaman saya juga menunjukkan bahwa relasi senior–junior kerap menyimpang dari nilai-nilai tersebut, terutama ketika pengalaman dan posisi berubah menjadi alat kuasa.

 

Salah satu bentuk penyimpangan itu hadir dalam praktik perploncoan yang disenyapkan. Ia tidak selalu tampil sebagai kekerasan terbuka, melainkan sebagai sikap mendiamkan junior tanpa penjelasan yang jujur. Junior dibiarkan menafsirkan sendiri kesalahannya, jika memang ada, tanpa pernah diajak duduk dan memahami konteksnya. Diam semacam ini sering dibenarkan sebagai proses pendewasaan, padahal yang sesungguhnya terjadi adalah pengalihan tanggung jawab etik dari senior kepada junior.

 

Dalam pengalaman saya, diam yang tidak dijelaskan perlahan berubah menjadi alat kontrol. Rapat tetap berjalan, keputusan tetap diambil, tetapi junior kehilangan ruang bicara. Ia hadir, namun tidak sepenuhnya diakui. Dalam situasi seperti ini, yang tumbuh bukanlah kepekaan, melainkan kehati-hatian yang berlebihan—takut salah, takut bertanya, takut berbeda.

 

Bentuk lain yang lebih problematis adalah ketika kekurangan seorang junior dibicarakan kepada junior lain, alih-alih disampaikan langsung kepada yang bersangkutan. Praktik ini merusak dua hal sekaligus: martabat individu dan rasa aman kolektif. Junior tidak lagi belajar bersama, melainkan saling mengawasi. Relasi kerja berubah menjadi ruang curiga, dan pendampingan kehilangan watak edukatifnya.

 

Saya juga mengalami bagaimana teori dan ungkapan lapangan yang saya sampaikan dipatahkan bukan melalui dialog terbuka, tetapi melalui penguasaan bahasa. Kata-kata pokok yang saya gunakan diulang kembali oleh senior, namun dengan makna yang telah digeser. Kritik tidak diarahkan pada argumen, melainkan diselesaikan dengan pengambilalihan istilah. Di sini, bahasa tidak lagi menjadi alat klarifikasi, tetapi sarana legitimasi.

 

Semua praktik ini kerap berlindung di balik aturan. Aturan dipakai bukan untuk menjaga etika, melainkan untuk menutup ruang tanya. “Ini prosedur,” atau “ini sudah kesepakatan,” menjadi kalimat final yang tidak menyediakan ruang refleksi. Padahal, etika pendampingan menuntut lebih dari sekadar kepatuhan; ia menuntut penjelasan dan tanggung jawab moral.

 

Lapisan lain yang memperkuat ketimpangan ini adalah latar keilmuan dan status akademik. Junior berlatar teknik sering dianggap kurang peka sosial, sementara senior berlatar sosial diposisikan sebagai pemilik tafsir. Gelar S2 dijadikan pembenaran untuk menutup diskusi dengan junior S1. Perbedaan ini jarang dipertemukan sebagai kekayaan perspektif, melainkan disusun sebagai hierarki pengetahuan.

 

Lebih jauh lagi, status universitas dan latar belakang pengalaman turut bekerja sebagai mekanisme peminggiran. Universitas negeri lebih dipercaya daripada swasta, kampus favorit lebih didengar daripada yang tidak, pengalaman dari lembaga besar lebih dihargai daripada kerja panjang di komunitas kecil. Semua itu membentuk ekosistem pengakuan yang tidak adil, namun diterima sebagai kewajaran.

 

Dalam kondisi seperti ini, kearifan lokal masyarakat justru sering tersisih. Pengetahuan warga, pengalaman hidup, dan logika sosial setempat dikalahkan oleh otoritas akademik dan reputasi personal pendamping. Padahal, dalam pendampingan masyarakat, rujukan utama seharusnya bukan gelar, institusi, atau pengalaman proyek, melainkan konteks sosial dan kebijaksanaan lokal tempat kerja itu berlangsung.

 

Idealnya, relasi senior–junior dibangun sebagai relasi pembelajaran bersama. Senior memikul tanggung jawab etik untuk menjelaskan, bukan sekadar menilai. Junior diberi ruang untuk salah tanpa kehilangan martabat. Disiplin ilmu saling mengoreksi, bukan saling menundukkan. Gelar menjadi amanah untuk bersikap rendah hati, bukan tameng untuk membungkam.

 

Catatan ini tidak dimaksudkan untuk meniadakan peran pengalaman atau menafikan pentingnya struktur. Ia justru hendak mengingatkan bahwa pendampingan masyarakat adalah kerja etik sebelum menjadi kerja teknis. Ketika relasi di dalamnya melanggengkan perploncoan—baik yang keras maupun yang sunyi—pendampingan kehilangan arah moralnya.

 

Pendampingan yang dewasa adalah pendampingan yang berani memutus mata rantai kekuasaan simbolik. Ia memilih menjelaskan daripada mendiamkan, berdialog daripada membicarakan di belakang, dan belajar dari lokalitas daripada berlindung di balik legitimasi formal. Hanya dengan cara itulah pendampingan benar-benar menjadi kerja yang memanusiakan—baik bagi masyarakat, maupun bagi mereka yang mendampinginya.

 

Post a Comment

أحدث أقدم