Menata Ulang Citra Layanan Sanitasi



Sanitasi sering kali menjadi urusan yang kita abaikan. Selama air masih mengalir dan kloset tetap lancar, kita merasa semuanya baik-baik saja. Padahal di bawah tanah, tangki septik menyimpan endapan yang terus bertambah. Tahun demi tahun, lumpur mengental, gas terperangkap, dan risiko pencemaran air tanah mengintai tanpa kita sadari.

 

Ketika  Layanan Lumpur Tinja Terjadwal (LLTT)  datang melakukan penyedotan, yang pertama kali ditangkap publik sering kali adalah baunya. Reaksi spontan muncul: jijik, terganggu, bahkan menolak. Dari sinilah citra layanan sanitasi kerap terjebak—dianggap jorok, kumuh, dan tidak profesional.

 

Padahal, secara ilmiah, bau yang muncul saat penyedotan adalah konsekuensi wajar dari proses pembusukan anaerob di dalam tangki. Gas seperti hidrogen sulfida dan amonia memang terakumulasi selama bertahun-tahun. Ketika tutup tangki dibuka, gas itu keluar sekaligus. Itu bukan kelalaian. Itu proses alamiah.

 

Masalahnya bukan pada baunya semata, melainkan pada bagaimana layanan itu dikelola.

 

Jika armada terlihat kusam, selang bocor, petugas berpakaian seadanya tanpa alat pelindung diri yang memadai, maka persepsi negatif akan semakin kuat. Bau yang semestinya bisa dipahami secara teknis berubah menjadi simbol ketidakprofesionalan.

 

Di sinilah pentingnya menata ulang citra layanan sanitasi.

 

Pertama, profesionalisme harus terlihat secara kasat mata. Armada yang dicuci rutin, dicat rapi dengan identitas resmi, serta dilengkapi informasi layanan akan membangun kepercayaan. Seragam petugas yang bersih, lengkap dengan APD seperti sarung tangan, sepatu boot, dan masker, bukan hanya soal kepatuhan prosedur, tetapi juga pesan bahwa pekerjaan ini dijalankan dengan standar.

 

Kedua, komunikasi publik perlu diperbaiki. LLTT bukan sekadar “sedot tinja”. Ia adalah perawatan tangki septik, perlindungan air tanah, serta upaya pencegahan penyakit berbasis lingkungan seperti diare dan stunting. Ketika narasi diangkat ke ranah kesehatan dan keberlanjutan lingkungan, publik akan melihat nilai strategisnya.

 

Ketiga, aspek teknis pengendalian bau harus menjadi standar operasional. Pemeriksaan rutin selang dan valve, penggunaan deodorizer atau bioenzim sebelum penyedotan, serta edukasi warga sebelum layanan dilakukan akan mengurangi dampak bau secara signifikan. Transparansi proses akan menurunkan resistensi.

 

Sanitasi memang bukan sektor yang glamor. Ia bekerja dalam sunyi dan sering kali hanya disadari ketika bermasalah. Namun justru dari sanitasilah kualitas hidup masyarakat ditentukan. Air tanah yang bersih, lingkungan yang sehat, dan generasi yang tumbuh tanpa gangguan penyakit berbasis sanitasi adalah hasil dari sistem yang dikelola dengan baik.

 

Menata ulang citra layanan sanitasi berarti menata ulang keseriusan kita terhadap kesehatan publik. Bukan sekadar mempercantik tampilan, tetapi membangun standar kerja yang konsisten dan dapat dipertanggungjawabkan.

 

Pada akhirnya, citra bukan dibentuk oleh slogan, melainkan oleh praktik. Ketika pelayanan dilakukan dengan disiplin, transparan, dan profesional, persepsi masyarakat akan berubah dengan sendirinya.

 

Sanitasi mungkin tidak selalu terlihat, tetapi dampaknya sangat nyata. Dan sudah saatnya layanan ini dipandang bukan sebagai pekerjaan yang dijauhi, melainkan sebagai fondasi penting bagi peradaban yang sehat dan bermartabat.

Post a Comment

أحدث أقدم