Kepemimpinan dalam
pendampingan masyarakat bukan perkara berdiri di depan sambil menunjuk arah. Ia
lebih mirip berjalan di tepi, menyibak semak perlahan, memastikan yang lain
tidak terluka oleh jalan yang sama. Sebab masyarakat bukan barisan yang menunggu
aba-aba; mereka adalah perjalanan itu sendiri.
Seorang pendamping yang
memimpin datang tanpa mahkota gagasan. Ia datang dengan telinga yang panjang
dan hati yang tidak tergesa. Ia tahu, di setiap rumah ada pengetahuan yang tak
pernah masuk laporan, di setiap dapur ada kebijakan sunyi yang diwariskan
turun-temurun. Maka ia belajar membaca isyarat: nada bicara, jeda dalam
musyawarah, dan diam yang sering kali lebih jujur daripada pidato.
Kepemimpinan semacam ini
tidak lahir dari suara keras, melainkan dari ketekunan. Ia tumbuh dari janji
kecil yang ditepati, dari hadir yang konsisten, dari keberanian berkata “saya
tidak tahu, mari kita cari bersama.” Di situlah kepercayaan berakar—pelan, tapi
dalam. Dan tanpa kepercayaan, pendampingan hanya akan menjadi proyek singgah,
seperti hujan cepat yang tak sempat meresap tanah.
Pendamping yang memimpin
paham satu hal penting: ia bukan penyelamat. Ia hanya pengingat. Mengingatkan
bahwa warga punya daya, punya martabat, punya hak untuk menentukan nasibnya
sendiri. Ia menolak menjadi pusat, sebab pusat selalu rawan disalahkan ketika
runtuh. Ia lebih memilih menjadi lingkar, agar semua saling menguatkan.
Dalam kepemimpinan
pendampingan, keberhasilan jarang tampil sebagai grafik yang menanjak. Ia lebih
sering hadir sebagai keberanian warga bertanya, sebagai musyawarah yang tak
lagi dikuasai satu suara, sebagai perempuan yang mulai bicara tanpa izin,
sebagai pemuda yang pulang karena merasa dibutuhkan. Perubahan sejati kerap
sunyi—tapi ia menetap.
Dan pada akhirnya, kepemimpinan
paling jujur adalah yang tahu kapan menghilang. Ketika warga telah mampu
menyebut masalahnya sendiri, menyusun jalannya sendiri, dan menjaga nilainya
sendiri, maka tugas pendamping selesai. Ia pergi tanpa perayaan, sebab
tujuannya bukan dikenang, melainkan dilanjutkan.
Begitulah kepemimpinan
dalam pendampingan masyarakat: menuntun tanpa menarik, menguatkan tanpa
menggantikan, dan menyalakan cahaya tanpa menuntut nama disebut. Ia bekerja
seperti doa—tidak riuh, tapi mengubah arah hidup pelan-pelan.

إرسال تعليق