Aku menulis tentang cinta bukan dari keberhasilan yang gemilang,
melainkan dari perjalanan batin yang perlahan mengikis keyakinan-keyakinanku
sendiri. Dari hari-hari ketika cinta terasa sederhana dan ringan, hingga
malam-malam ketika ia menjelma pertanyaan yang tak kunjung selesai. Dari
sanalah aku belajar: cinta tidak datang untuk meninabobokkan manusia. Ia datang
untuk membangunkan—kadang dengan cara yang tidak lembut.
Ada masa ketika aku percaya cinta cukup disokong oleh rasa. Selama ada
rindu, selama dada masih bergetar, kupikir segalanya akan baik-baik saja. Namun
waktu, dengan caranya yang tenang namun tegas, membongkar ilusi itu. Ia
memperlihatkan bahwa perasaan mudah lelah, mudah tersinggung, dan mudah
menyerah ketika berhadapan dengan kenyataan hidup yang tidak selalu ramah pada
romantisme.
Cinta kemudian memaksaku berhadapan dengan diriku sendiri. Dengan ego yang
ingin dimengerti, dengan hasrat untuk selalu dibenarkan, dengan kecenderungan
untuk pergi ketika bertahan terasa terlalu berat. Di titik itu, kalimat Kahlil Gibran terdengar bukan lagi puitis, melainkan seperti peringatan: ketika cinta
memanggilmu, ikutlah. Mengikuti cinta ternyata bukan soal keberanian untuk
jatuh, melainkan kesanggupan untuk tetap berjalan meski luka mulai terasa dan
arah tidak selalu jelas.
Aku mulai memahami bahwa cinta tidak lahir dari kesempurnaan. Ia tumbuh
dari pengakuan yang jujur bahwa aku rapuh, dan orang yang kucintai pun
demikian. Kami membawa luka, membawa masa lalu, membawa ketakutan yang tak
selalu bisa kami jelaskan. Namun cinta menemukan maknanya ketika dua manusia
yang sadar akan kerapuhannya memilih untuk tidak saling meninggalkan—bukan
karena segalanya baik-baik saja, tetapi karena merasa bertanggung jawab.
Perasaan, sebagaimana pernah kualami, hanyalah pintu masuk. Ia bukan
rumah. Ia mudah berubah oleh lelah, oleh kecewa, oleh harapan yang tak
terpenuhi. Ketika aku menggantungkan cinta sepenuhnya pada perasaan, yang
kutemukan hanyalah kecemasan. Di sanalah kata-kata Jalaluddin Rumi terasa jujur
dan membebaskan: cinta datang untuk merobohkan yang palsu. Yang roboh bukan
semata hubungan, melainkan bayanganku sendiri tentang cinta yang selalu hangat
dan menyenangkan.
Pelan-pelan aku belajar melihat cinta dalam bentuk yang lebih sunyi. Ia
tidak selalu hadir dalam kata-kata indah atau janji panjang. Ia hidup dalam
hal-hal kecil yang kerap luput dicatat: dalam kesabaran menahan diri, dalam
kesediaan mendengar tanpa menyela, dalam keberanian meminta maaf, dan dalam
pilihan untuk tetap peduli ketika rasa sedang menurun. Kahlil Gibran pernah
mengingatkan, biarlah ada ruang di antara kebersamaanmu. Dari sana aku belajar
bahwa mencintai bukan tentang melebur hingga hilang, melainkan menjaga jarak
yang sehat agar masing-masing tetap bertumbuh.
Dalam pengalamanku, bukti cinta hampir selalu bekerja dalam diam. Ia
tidak membutuhkan panggung. Ia hadir ketika seseorang tetap setia meski tidak
diawasi, tetap menjaga martabat pasangannya bahkan saat marah, dan tetap
bertahan tanpa menjadikan pengorbanan sebagai alat menagih balasan. Rumi
menulis lirih bahwa di mana ada luka, di sana cahaya masuk. Aku merasakannya:
luka tidak selalu menghancurkan; kadang justru membersihkan, membuka jalan untuk
saling memahami dengan lebih jujur dan rendah hati.
Cinta juga mengajarkanku tentang ujian. Ia tidak datang saat segalanya
mudah, tetapi ketika hidup terasa sempit dan pilihan terasa berat. Waktu
menguji apakah aku bertahan karena cinta atau sekadar takut sendiri. Konflik
menguji apakah aku ingin menang atau ingin mengerti. Kesulitan menguji apakah
aku memilih menyalahkan atau menopang. Sebagaimana diingatkan Kahlil Gibran,
cinta memang memahkotai, tetapi sekaligus menguji. Tidak semua orang siap
memikul keduanya.
Pada akhirnya aku sampai pada kesadaran yang tenang, meski tidak selalu
nyaman: cinta tidak pernah netral. Ia selalu menyeretku pada
pertanggungjawaban. Bukan hanya kepada manusia, tetapi juga kepada Tuhan. Rumi
merangkumnya dengan kesederhanaan yang dalam: cinta adalah jembatan. Jembatan
antara aku dan engkau, antara aku dan diriku sendiri, dan antara aku dan DIA. Mengetahui niat-niat yang bahkan tak selalu sanggup kuucapkan.
Sebagai orang beriman, aku belajar bahwa mencintai berarti menjaga. Menjaga
hati agar tidak licik, menjaga lisan agar tidak melukai, menjaga sikap agar
tidak merendahkan, dan menjaga niat agar tetap bersih. Cinta bukan sekadar
hubungan personal, melainkan bagian dari etika hidup yang kelak akan dimintai
jawabannya.
Kini aku tidak lagi sibuk bertanya, “Apa yang kudapat dari cinta?”
Aku lebih sering bertanya, “Apa yang sanggup kutanggung demi cinta?”
Di sanalah cinta berhenti menjadi ilusi dan mulai menjadi jalan
hidup—jalan sunyi yang tidak selalu nyaman, tetapi jujur. Dan barangkali, di
titik itulah cinta paling dekat dengan ibadah: tidak ramai, tidak gegap
gempita, tetapi setia menuntun manusia pulang ke dirinya sendiri.
Bekape: 01 Februari 2026...
إرسال تعليق