Membaca Pasar sebagai Teks: Rantai Nilai dan Martabat yang Dipertaruhkan



Pasar sering hadir di hadapan kita sebagai sesuatu yang seolah netral: angka, grafik, dan istilah-istilah teknis yang terdengar ilmiah. Ia diajarkan seperti hukum alam—tak terbantahkan, tak berpihak. Namun bagi mereka yang hidup di dalamnya, pasar tidak pernah sesederhana itu. Pasar adalah ruang sosial yang berisik oleh kepentingan, sunyi dari keadilan, dan penuh isyarat kuasa yang jarang diucapkan. Di sanalah rantai nilai bekerja, bukan sekadar mengalirkan barang, melainkan mengatur siapa yang layak bicara dan siapa yang cukup bekerja.

 

Dalam pengalaman mendampingi kelompok-kelompok ekonomi di desa, saya berulang kali menyaksikan ironi yang sama: mereka yang paling dekat dengan sumber kehidupan justru paling jauh dari sumber keputusan. Petani, nelayan, perajin—mereka menjaga keberlanjutan, menanggung risiko alam, dan memikul ketidakpastian, tetapi suara mereka memudar begitu produk memasuki pasar. Nilai yang lahir dari tangan mereka berjalan jauh, berpindah rupa, dipoles bahasa, lalu kembali sebagai harga yang tak lagi bisa mereka tawar. Rantai nilai, jika dibaca dengan jujur, adalah peta ketimpangan yang disamarkan oleh istilah efisiensi.

 

Membaca rantai nilai tidak cukup dengan menelusuri urutan kerja. Yang perlu dibaca justru jeda di antaranya—di titik mana nilai melonjak tanpa keringat tambahan, di mana harga naik bukan karena kerja, melainkan karena cerita. Di situlah pasar menunjukkan wajah aslinya. Nilai tidak hanya diciptakan oleh produksi, tetapi oleh makna. Mereka yang menguasai makna menguasai harga. Singkong di ladang hanya singkong; di etalase ia berubah menjadi tepung bebas gluten. Ikan di laut adalah hasil tangkapan; di kota ia menjelma produk laut berkelanjutan. Di antara keduanya terdapat jarak yang lebar—jarak yang jarang diisi oleh mereka yang berada di hulu, bukan karena tak mampu, melainkan karena sejak awal tidak diajak masuk ke dalam bahasa pasar.

 

Di titik ini, membaca pasar menjadi kerja kesadaran. Rantai nilai tidak boleh diterima sebagai takdir, melainkan dibaca sebagai struktur yang bisa dinegosiasikan. Namun negosiasi tidak pernah dimulai dari pasar; ia bermula dari dalam. Banyak kelompok bermimpi memenangkan pasar dengan menambah produksi, memperluas lahan, atau mempercepat kerja. Padahal pasar jarang dimenangkan oleh mereka yang hanya menambah beban di titik yang sama. Pasar dimenangkan oleh mereka yang berani berpindah posisi—dari bahan mentah ke olahan, dari produk tanpa nama ke produk beridentitas, dari sekadar pemasok ke pemilik cerita dan standar. Perpindahan ini sunyi, nyaris tak heroik, tetapi justru di sanalah politik ekonomi bekerja paling nyata.

 

Tak sedikit upaya gagal bukan karena pasar terlalu kejam, melainkan karena rantai di dalam kelompok sendiri rapuh. Nilai bocor sebelum sempat dipertahankan. Kepercayaan goyah, tata kelola pincang, dan pembagian manfaat tak kunjung adil. Rantai nilai yang timpang di luar sering kali hanyalah pantulan dari relasi yang belum selesai di dalam. Pasar, dalam banyak hal, hanya memperbesar apa yang sudah retak.

 

Pasar juga menyimpan ketakutannya sendiri. Pembeli besar, agregator, atau platform digital tampak berkuasa, tetapi sesungguhnya mereka rapuh oleh ketidakpastian: pasokan yang terputus, mutu yang tak konsisten, cerita yang mudah terbantahkan. Di situlah ruang tawar terbuka. Memenangkan pasar bukan berarti mengalahkan pihak lain, melainkan mengurangi kecemasan mereka. Siapa pun yang mampu menghadirkan kepastian—dalam kualitas, kontinuitas, dan makna—perlahan menggeser relasi kuasa yang selama ini tampak mapan. Pasar tidak tunduk pada kekuatan, tetapi pada keyakinan.

 

Pada akhirnya, kemenangan dalam pasar tidak layak diukur semata oleh grafik pertumbuhan atau lonjakan omzet. Kemenangan yang lebih bermakna adalah ketika nilai tidak segera pergi, ketika komunitas tidak hanya menjadi tempat produksi, tetapi juga tempat makna tinggal lebih lama. Ketika posisi tawar tumbuh dan ketergantungan berkurang, di situlah rantai nilai berubah dari jebakan menjadi jalan. Membaca pasar sebagai teks menuntut kesabaran dan keberanian: kesabaran untuk memahami isyarat yang tersembunyi, dan keberanian untuk menulis ulang peran sendiri di dalamnya. Pada saat itulah pasar, meski hanya sekejap, berhenti menjadi hakim tunggal, dan berubah menjadi ruang dialog yang masih mungkin diperjuangkan martabatnya.

 

Post a Comment

أحدث أقدم