Bulan Mei
tahun 2025 lalu, rapat dengar pendapat antara Komisi V DPR-RI, para pengemudi
transportasi online, dan perusahaan aplikasi berlangsung dan disimak jutaan
pasang mata rakyat. Ruang sidang dipenuhi istilah regulasi, angka, serta janji
evaluasi. Di sana, kata keadilan terdengar seperti doa yang dibaca bersama.
Namun di luar ruang rapat, para pengemudi tetap menunggu—di bawah lampu merah,
di tepi trotoar, di sudut kota yang jarang disebut dalam notulensi. Mereka
menunggu, seakan menunggu jawaban dari Tuhan dan negara sekaligus.
Hingga hari
ini, potongan tarif 15–25 persen masih berlangsung di lapangan, padahal jeritan
para pengemudi telah lama terdengar—mengalir seperti doa, namun diperlakukan
seperti gema yang boleh ada, asal tak pernah benar-benar perlu dijawab. Para
pengemudi hanya berharap potongan diturunkan hingga batas yang lebih adil,
sekitar 10 persen, agar keringat mereka tidak seluruhnya menguap sebelum sampai
ke rumah, dan doa mereka tidak kembali hampa di hadapan keluarga. Harapan itu
bukan tuntutan berlebihan, melainkan ikhtiar sederhana agar kerja keras masih
menyisakan martabat.
Di Bandar
Lampung, realitas itu terasa lebih nyata dan lebih sunyi. Dari obrolan dengan
dua pengemudi ojek online, hampir tak ada fasilitas publik yang benar-benar
ramah bagi mereka. Sebagian besar Hotel dan Rumah sakit tetap mengenakan tarif
parkir meski hanya mengantar atau menjemput penumpang, meskipun tarif tersebut
kerapkali di bayar penumpang, hal ini tentu tampilan yang ramah dengan ojol.
Kampus-kampus terkesan risih, melarang mereka mangkal, seolah kehadiran ojol
adalah gangguan, bukan bagian dari denyut kota. Pusat perbelanjaan hanya
menyediakan ruang turun-naik penumpang yang sempit, memaksa kemacetan menjadi
pemandangan harian. Kota bergerak, tetapi mereka seakan tak disediakan tempat
untuk sekadar berhenti.
Soal
pendapatan, kisahnya lebih getir lagi. Dalam rentang kerja pukul 08.00 hingga
16.00 WIB, rata-rata mereka hanya memperoleh enam hingga sepuluh penumpang.
Jika diuangkan, pendapatan kotor berkisar Rp60.000–Rp100.000 untuk motor dan
sekitar Rp90.000–Rp150.000 untuk mobil—rezeki yang kerap selesai lebih dulu,
bahkan sebelum kebutuhan sempat dihitung. Angka itu belum dipotong biaya bahan
bakar, pulsa dan paket data, tabungan perawatan kendaraan, makan-minum selama
bekerja, hingga biaya kesehatan. Kondisi ini jauh dari kata layak, dan terlalu
jauh untuk menggambarkan profesi ojol sebagai lapangan pekerjaan yang
menyejahterakan. Mereka bertahan bukan karena nyaman, melainkan karena tak ada
pilihan lain. Sementara biaya sekolah anak dan kewajiban sosial terus menunggu,
hidup dipaksa diputar dengan tenaga yang kian menipis.
Ironisnya,
di saat yang sama, bangsa ini kerap diyakinkan sedang bergerak maju. Survei
kebahagiaan dirilis dengan optimisme, seolah angka-angka mampu merangkum
seluruh wajah kehidupan. Padahal kebahagiaan tidak pernah lahir dari
persentase. Ia hadir—atau justru absen—dalam kemampuan seseorang pulang dengan
kepala tegak, tanpa harus terus menggadaikan hari esok. Barangkali kemajuan
terlalu sering diukur dari laporan, sementara keletihan dan ketidaklayakan
hidup dibiarkan menjadi cerita pinggir jalan.
Di tengah
kenyataan yang belum dibenahi itu, muncul wacana Pemerintah Provinsi Lampung
untuk mengembangkan taksi listrik. Gagasan ini tampak modern, bersih, dan
menjanjikan masa depan. Namun tanpa membenahi nasib ojol yang hari ini menopang
mobilitas kota, wacana tersebut lebih menyerupai aroma bisnis ketimbang
pembangunan yang berkeadilan dan menyejahterakan rakyat. Ia tampak seperti
cahaya dari kejauhan—terang dipandang, tetapi tak pernah benar-benar
menghangatkan mereka yang paling dekat dengan jalan.
Sudah
saatnya pemerintah pusat hadir sebagai regulator yang sungguh-sungguh membenahi
kondisi ini, atau menciptakan lapangan kerja yang layak bagi warganya.
Pemerintah daerah pun tak semestinya diam, sebab para pengemudi yang beroperasi
di daerah adalah warga mereka sendiri. Keadilan tidak cukup dibicarakan di
ruang rapat; ia harus turun ke jalan, menyapa mereka yang selama ini hanya
dikenal sebagai angka dalam aplikasi. Sebab di bawah lampu merah itu, kehidupan
sedang menunggu—dan terlalu lama menunggu sering kali berarti dilupakan.
إرسال تعليق