Sebuah video pendek kadang bekerja lebih cepat daripada buku
sejarah. Ia melompat dari layar ke emosi, dari pengalaman pribadi ke kesimpulan
umum. Begitulah yang terjadi ketika sebuah unggahan TikTok dari akun TY hari
ini memantik percakapan luas bahkan ada pula yang menanggapinya dengan sangat
emosional. Lampung disebut sebagai “Jawa
cabang Sumatra”, karena yang dia dengar dan jumpai ketika ke Lampung bukan bahasa Lampung, melainkan bahasa Jawa.
Barangkali TY hanya mengatakan apa yang ia dengar.
Barangkali ia tidak sedang menilai, hanya mencatat. Namun persoalannya, apa
yang terdengar tidak selalu sama dengan apa yang sebenarnya hidup. Dan Lampung,
sejak lama, hidup di antara keduanya.
Sangat mungkin TY hanya menjejakkan kaki di Lampung-Lampung
tertentu: wilayah yang dihuni oleh mereka yang datang melalui gelombang panjang
transmigrasi. Di ruang-ruang itu, bahasa Jawa memang bernafas sehari-hari,
simbol Jawa menempel akrab, dan ingatan kolektif tentang asal-usul masih dijaga
rapat. Jika demikian, pengalaman TY bukanlah kesalahan, melainkan potongan
kecil dari sejarah yang jauh lebih luas.
Lampung adalah halaman pertama dari kisah transmigrasi
Indonesia. Pada November 1905, di Gedong Tataan Kabupaten Pesawaran, pemerintah
kolonial Hindia Belanda memindahkan 155 kepala keluarga dari Kedu, Bagelen, dan
Karanganyar. Sekitar seribu jiwa
membuka hutan, membuka ladang, dan membuka bab baru bagi Lampung. Sejak itu, manusia, bahasa, dan nama tempat
berbaur—kadang saling menyapa, kadang saling meniadakan.
Hingga hari ini, jejak itu masih jelas terbaca. Bambu Seribu
menjadi Pringsewu, Sukarami menjadi Sukarame, Way Handak menjadi Kalianda, Kuta
Dalom menjadi Kota Dalam dan banyak lagi.
Nama-nama dari Jawa tumbuh subur di tanah Sumatra. Di banyak tempat,
bahasa Jawa tetap menjadi rumah utama, meski generasi telah berganti. Ini bukan
salah siapa-siapa. Sejarah memang sering kali berjalan tanpa sempat diajak
berbincang.
Namun justru di sini pertanyaan pelan perlu diajukan:
Mengapa mereka yang lahir dan besar di Lampung tak selalu
menemukan kebutuhan untuk berbahasa Lampung? Mengapa simbol lokal sering
menjadi pelengkap, bukan pusat? Seringkali ketika berada di Lampung mengaku
orang jawa tetapi ketika sedang main ke rumah saudara di Jawa mengaku orang
Lampung? Dan lebih jauh, mengapa negara begitu lama membiarkan kebudayaan
berjalan sendiri tanpa arah yang jelas?
Pertanyaan ini bukan untuk menyudutkan warga pendatang, melainkan
untuk mengingatkan kehadiran yang seharusnya datang dari kebijakan. Kepada
pemerintah daerah, kepada politisi lokal dan nasional, patut ditanya: strategi
kebudayaan seperti apa yang sedang dan telah dijalankan? Apakah integrasi hanya
dimaknai sebagai hidup berdampingan, tanpa perjumpaan yang setara?
Lampung sesungguhnya memiliki bekal nilai yang lembut namun
kokoh. Piil Pesenggiri mengajarkan martabat tanpa keangkuhan. Nemui Nyimah membuka pintu bagi siapa pun yang datang.
Nengah Nyappur merawat pergaulan,
Bejuluk Buadok menjaga identitas, dan Sakai Sambayan menegakkan kebersamaan. Nilai-nilai ini tidak
menolak perbedaan, tetapi menata perjumpaan.
Langkah-langkah simbolik mulai tampak, seperti Instruksi Gubernur Lampung Nomor 4 Tahun 2025
tentang Hari Kamis Beradat. Namun
kebudayaan tidak cukup dirawat lewat seremonial. Ia membutuhkan
keberlanjutan: ruang ekspresi, dan
keberpihakan yang tenang namun tegas.
Di sisi lain, masyarakat Lampung pun perlu merawat kebesaran
hati. Ketika saudara kita dari etnis lain mencoba berbahasa Lampung dengan
logat yang terdengar aneh, barangkali itu bukan penghinaan, melainkan usaha
mendekat. Lidah memang tak selalu patuh pada niat. Dalam perjumpaan, kekeliruan
sering menjadi bagian dari belajar.
Maka, polemik ini sebaiknya tidak berhenti pada benar atau
salah. Lampung bukan apa yang sekadar terdengar, melainkan apa yang terus
diperjuangkan agar tetap hidup. Jika hari ini bahasa Lampung terasa jarang, itu
bukan karena ia kalah, melainkan karena ia terlalu lama menunggu untuk
dipanggil kembali.
Lampung bukan Jawa cabang Sumatra. Lampung adalah
Lampung—yang sedang belajar mengingat dirinya sendiri, di tengah sejarah
panjang yang membuatnya sering terdengar sebagai yang lain.
إرسال تعليق