Ada yang sunyi di bawah lantai rumah kita.
Ia tak bersuara, tak meminta perhatian, tak menuntut panggung.
Selama air masih berputar dan bau tak menyeruak, kita merasa hidup berjalan baik-baik saja. Kita menutupnya dengan beton, dengan kebiasaan, dengan keyakinan bahwa semua terkendali.
Padahal di kedalaman itu, ada sesuatu yang menunggu cara kita bersikap.
Layanan Lumpur Tinja Terjadwal—yang sering disingkat dengan tenang
sebagai LLTT—sesungguhnya bukan sekadar soal teknis pengelolaan limbah. Ia
adalah percakapan panjang tentang disiplin, tentang keberanian membuat sistem,
tentang kesediaan mengurus yang tak terlihat. Dan seperti banyak hal mendasar
dalam hidup, ia justru kerap kita anggap remeh karena tidak kasat mata.
Di ruang-ruang birokrasi, LLTT kadang hadir sebagai berkas, sebagai tabel
rencana kerja, sebagai angka-angka yang harus dilaporkan sebelum tenggat waktu.
Ia dibahas dalam forum, dicatat dalam notulen, disepakati dalam kalimat yang
tertib. Tetapi sistem—yang seharusnya hidup dan berdenyut—tidak selalu tumbuh
hanya karena dokumen selesai.
Barangkali ini bukan soal kurangnya niat. Bukan pula soal ketiadaan
kepedulian. Sering kali yang bekerja adalah kehati-hatian yang berlapis:
kehati-hatian terhadap risiko, terhadap tafsir publik, terhadap kemungkinan
salah langkah. Menetapkan tarif terasa sensitif. Menjadwalkan kewajiban terasa
berani. Maka yang lahir adalah langkah-langkah kecil yang ragu, kebijakan yang
hati-hati, komitmen yang menunggu suasana benar-benar aman.
Di sisi lain, kita sebagai masyarakat juga tak sepenuhnya bebas dari
kebiasaan menunda. Kita terbiasa bergerak ketika keadaan mendesak. Kita
menyedot ketika meluap, memperbaiki ketika rusak, menyesal ketika dampak sudah
terasa. Logika darurat terasa lebih akrab daripada logika pencegahan. Yang
tidak terlihat sering kali tidak masuk daftar prioritas.
Padahal air tanah tak mengenal pagar rumah. Yang merembes dari satu
halaman bisa menjadi beban halaman lain. Tetapi karena ia tak segera
menimbulkan kegaduhan, kita memilih tenang.
Di tengah situasi seperti ini, pendamping atau konsultan berdiri di ruang
yang ganjil. Ia bukan pengambil keputusan, tetapi diharapkan menghadirkan arah.
Ia bukan pemegang kewenangan, tetapi diminta menumbuhkan sistem. Ia berjalan di
antara rapat-rapat yang penuh pertimbangan, di antara kalimat-kalimat yang
hati-hati.
Tugasnya bukan sekadar menyusun rekomendasi. Lebih dari itu, ia harus
membaca denyut. Memahami bahwa di balik setiap keraguan ada kekhawatiran. Di
balik setiap penundaan ada rasa ingin aman. Ia belajar bahwa perubahan tidak
selalu lahir dari gagasan besar, melainkan dari kepercayaan kecil yang tumbuh
perlahan.
Kadang ia hanya menguatkan satu indikator kinerja agar lebih bermakna.
Kadang ia membantu menyederhanakan langkah agar terasa mungkin. Kadang ia
membiarkan gagasan itu terdengar sebagai suara pimpinan, bukan sebagai usulnya
sendiri. Ia tahu, sistem akan lebih kokoh jika lahir dari rasa memiliki, bukan
dari tekanan.
Pendampingan menjadi kerja sunyi. Bukan kerja panggung. Ia mengandalkan
data bukan untuk menyalahkan, tetapi untuk menjernihkan. Ia menyodorkan angka
bukan untuk menakut-nakuti, tetapi untuk memberi pijakan. Ia membangun koalisi
kecil—satu dua orang yang peduli—lalu merawatnya seperti benih. Ia memahami
bahwa evolusi sering kali lebih nyata daripada revolusi.
LLTT pada akhirnya mengajarkan kita sesuatu yang sederhana: bahwa
kedewasaan peradaban tidak diukur dari gemerlapnya program, melainkan dari
keseriusan merawat yang tersembunyi. Mengurus lumpur bukanlah perkara rendah;
justru di sanalah fondasi kesehatan, martabat, dan tanggung jawab bertemu.
Mungkin masalah terbesar kita bukan pada ketiadaan regulasi, bukan pula
pada kurangnya sosialisasi. Mungkin ia terletak pada kebiasaan menunda yang
sudah lama kita pelihara—menunda keputusan, menunda penegakan, menunda
disiplin. Kita menunggu waktu yang tepat, suasana yang kondusif, keberanian
yang bulat. Sementara waktu berjalan tanpa menunggu.
Menjadwalkan layanan sejatinya adalah menjadwalkan tanggung jawab. Ia
mengajak kita bersepakat bahwa ada hal-hal yang tak boleh dibiarkan bergantung
pada darurat. Bahwa pencegahan adalah bentuk kasih sayang kepada lingkungan,
kepada anak-anak yang bermain di halaman, kepada air yang kita minum tanpa
curiga.
Barangkali, jika suatu hari sistem ini benar-benar berjalan dengan
tenang—tanpa gaduh, tanpa polemik—kita tidak akan merayakannya dengan seremoni
besar. Ia akan bekerja dalam diam, seperti akar yang menguatkan pohon. Tetapi
dari sanalah kesehatan tumbuh, dan dari sanalah kepercayaan publik pelan-pelan
terbangun.
Karena pada akhirnya, yang menentukan kemajuan bukan hanya apa yang kita
bangun di atas tanah, melainkan bagaimana kita mengelola yang tersembunyi di
bawahnya. Dan mungkin, kedewasaan itu dimulai ketika kita berani menjadwalkan
apa yang selama ini terlalu lama kita tunda.
Post a Comment