Di Bawah Tanah, Harga Diri Bangsa Dipertaruhkan



Ada hal-hal yang kita rayakan dengan gegap gempita. Peresmian jalan tol, bandara baru, gedung pencakar langit yang menembus awan. Kamera menyorot ke atas, pidato mengarah ke langit, tepuk tangan menggema. Kita merasa sedang bergerak maju. Kita merasa sedang menjadi bangsa besar.


Namun tak banyak yang menoleh ke bawah.


Ke tanah yang kita pijak. Ke pipa-pipa yang tertanam diam-diam. Ke aliran limbah yang tak pernah masuk berita utama. Di sanalah, sesungguhnya, ukuran paling jujur tentang peradaban ditentukan.


Tinja adalah sesuatu yang kita singkirkan dari kesadaran. Ia dianggap remeh, kotor, tidak layak dibicarakan. Tetapi sejarah tidak pernah menganggapnya sepele. Masyarakat di Lembah Indus telah mengerti bahwa kebersihan bukan sekadar kebiasaan pribadi, melainkan sistem yang dirancang bersama. Di masa Romawi Kuno, saluran seperti Cloaca Maxima dibangun bukan untuk dipamerkan, melainkan untuk memastikan kota tetap hidup. Mereka memahami satu hal sederhana: kota yang gagal mengurus limbahnya sedang menggali lubang bagi dirinya sendiri.


Indonesia hari ini berada dalam sunyi yang sama, tetapi dengan tantangan yang lebih rumit. Kota-kota tumbuh cepat. Permukiman mengeras. Tanah semakin padat. Di banyak tempat, kita masih mengandalkan septic tank individual—sebuah solusi yang terlihat cukup, tetapi sering kali rapuh. Tidak semuanya kedap. Tidak semuanya dirawat. Tidak semuanya disedot secara berkala. Sebagian bocor perlahan, menyusup ke tanah, merembes ke sumur-sumur yang menjadi sumber air minum.


Kita mungkin tidak mencium baunya. Tetapi tubuh anak-anak kita yang merasakannya lebih dulu.


Di sinilah persoalan sanitasi berubah menjadi persoalan nurani. Ia bukan lagi sekadar urusan teknis atau proyek infrastruktur. Ia adalah soal keberpihakan. Soal apakah kita sungguh-sungguh menempatkan kesehatan rakyat sebagai fondasi, bukan sebagai catatan kaki. Kita sering membanggakan angka pertumbuhan ekonomi, tetapi jarang menghitung biaya diam-diam dari sanitasi yang lalai: stunting yang merampas potensi, penyakit yang datang berulang, kualitas hidup yang terkikis tanpa suara.


Bandingkan dengan Jepang yang menempatkan disiplin sebagai budaya, atau Singapura yang melalui PUB berani memurnikan kembali air limbah menjadi sumber kehidupan. Di Jerman, limbah diperlakukan sebagai bagian dari siklus ekonomi, bukan sekadar sisa yang harus dibuang. Mereka tidak hanya membangun teknologi, tetapi juga membangun kesadaran kolektif bahwa kebersihan adalah harga diri.


Lalu kita?


Kita sering merasa cukup dengan apa yang terlihat. Padahal peradaban justru diuji oleh apa yang tak terlihat. Oleh kerja-kerja sunyi yang tak pernah menjadi panggung politik. Oleh keputusan-keputusan anggaran yang mungkin tak populer, tetapi menyelamatkan generasi. Sanitasi adalah kerja panjang, tidak instan, dan nyaris tanpa sorotan. Namun justru karena itulah ia menjadi ukuran ketulusan.


Bangsa yang besar bukan hanya bangsa yang mampu membangun tinggi, tetapi yang mau membangun dalam. Dalam komitmen. Dalam konsistensi. Dalam kesadaran bahwa air bersih, lingkungan sehat, dan sistem pembuangan yang aman adalah hak dasar, bukan kemewahan.


Mungkin kita perlu belajar untuk lebih sering menunduk. Bukan dalam arti menyerah, tetapi dalam arti merenung. Bahwa di bawah tanah, di balik beton dan aspal, ada aliran yang menentukan masa depan kita. Jika ia tercemar, maka yang rusak bukan hanya lingkungan, tetapi juga martabat.


Peradaban tidak runtuh karena kurangnya gedung tinggi. Ia runtuh ketika abai pada hal-hal mendasar yang menopangnya. Dan di bawah tanah itu, tanpa tepuk tangan dan tanpa sorotan kamera, harga diri bangsa sedang diuji—setiap hari.


Post a Comment

Previous Post Next Post