Komunikasi yang Mengalir Bersama Air Limbah



Air limbah domestik sering kita bicarakan sebagai soal teknis: pipa, bak kontrol, IPLT, retribusi, dan target layanan. Tetapi sesungguhnya, di balik istilah SPALD: Sistem Pengelolaan Air Limbah Domestik, ada satu urusan yang lebih sunyi namun menentukan: komunikasi.


Dalam Peraturan Menteri PUPR Nomor 04/PRT/M/2017 tentang Penyelenggaraan SPALD, memang tidak kita temukan bab khusus berjudul “komunikasi publik” atau “sosialisasi masyarakat”. Namun negara tidak pernah benar-benar lupa pada suara rakyat. Di Pasal 25 ayat (6), ditegaskan bahwa penetapan Rencana Induk SPALD harus dilakukan setelah konsultasi publik dengan para pemangku kepentingan.


Air limbah adalah urusan dapur dan kamar mandi; ruang paling privat dalam kehidupan manusia. Maka ketika negara hadir mengatur, membangun, dan menata, ia tidak boleh datang dengan suara komando. Ia harus datang dengan dialog. Ia harus duduk bersama warga, mendengar keresahan, menjelaskan manfaat, dan membangun kepercayaan. Tanpa itu, pipa hanya akan menjadi besi yang ditanam dalam tanah tanpa makna sosial.


Lebih jauh, semangat komunikasi publik ini juga bertaut dengan Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2008 tentang Keterbukaan Informasi Publik. Undang-undang ini mengajarkan bahwa informasi adalah hak warga, bukan hadiah dari pemerintah. Maka setiap program SPALD, setiap rencana induk, setiap skema layanan lumpur tinja terjadwal, semestinya berdiri di atas transparansi dan partisipasi.


Komunikasi dalam SPALD bukan sekadar membagikan brosur atau memasang spanduk proyek. Ia adalah proses membangun kesadaran kolektif bahwa sanitasi adalah peradaban. Bahwa membuang limbah dengan tertib adalah bagian dari iman sosial kita kepada lingkungan. Bahwa membayar layanan bukan beban, tetapi kontribusi untuk kesehatan bersama.


Sering kali kita terlalu sibuk menghitung kapasitas instalasi, tetapi lupa menghitung kapasitas penerimaan masyarakat. Kita terlalu tekun menyusun detail engineering design, namun abai merancang detail komunikasi sosial. Padahal kegagalan banyak infrastruktur bukan karena desainnya salah, melainkan karena masyarakat tidak merasa dilibatkan.


SPALD yang kuat lahir dari dua fondasi: sistem yang rapi dan komunikasi yang empatik. Jika salah satu rapuh, maka layanan akan goyah.


Air limbah memang mengalir di bawah tanah. Namun komunikasi harus mengalir di atas permukaan terbuka, jujur, dan partisipatif. Di sanalah negara dan rakyat saling percaya. Di sanalah pembangunan tidak hanya membangun jaringan pipa, tetapi juga membangun kesadaran.


Dan mungkin, dari ruang-ruang paling sederhana dalam rumah kita, peradaban itu perlahan bertunas.

Post a Comment

أحدث أقدم