Menjelang Reformasi 1998, banyak
anak muda meninggalkan kenyamanan kampus untuk mendatangi kampung-kampung.
Mereka duduk bersama petani, nelayan, buruh, dan masyarakat kecil. Mereka
berdiskusi tentang kehidupan, tentang keadilan, tentang hak warga negara, dan
tentang masa depan bangsa. Yang mereka lakukan bukan sekadar menyampaikan
gagasan, melainkan menumbuhkan kesadaran. Sebagaimana dikemukakan Paulo Freire,
perubahan sering kali berawal ketika masyarakat mampu memahami realitas
hidupnya secara kritis.
Karena itu, reformasi tidak lahir
begitu saja dari pergantian zaman. Ia tumbuh dari kesadaran yang dirawat dalam
waktu yang panjang, dari percakapan-percakapan sederhana yang membuat rakyat
percaya bahwa mereka memiliki hak untuk ikut menentukan arah bangsa.
Namun hampir tiga puluh tahun
kemudian, ada pertanyaan yang sesekali muncul dalam benak saya: mengapa
reformasi yang dulu begitu bergairah, kini terasa berjalan lebih pelan?
Barangkali salah satu jawabannya
terletak pada makna pemberdayaan yang perlahan berubah. Dahulu pemberdayaan
identik dengan proses mendengar, belajar bersama, dan membangun kemandirian
masyarakat. Hari ini, dalam banyak kesempatan, pemberdayaan lebih sering
dipahami sebagai kegiatan yang harus segera menghasilkan keluaran yang terukur.
Tidak ada yang salah dengan
target dan laporan. Keduanya memang diperlukan. Namun ketika hasil menjadi
tujuan utama, sering kali proses yang sesungguhnya justru terabaikan. Padahal
membangun kesadaran masyarakat tidak bisa diselesaikan dalam satu pelatihan,
satu pertemuan, atau satu tahun anggaran.
Akibatnya, masyarakat terkadang
lebih sering menjadi peserta kegiatan daripada pelaku perubahan. Mereka hadir,
mendengar, menandatangani daftar hadir, lalu pulang tanpa banyak ruang untuk
benar-benar terlibat dalam proses yang lebih mendalam.
Almarhum Mansour Fakih pernah
mengingatkan bahwa pemberdayaan pada hakikatnya adalah proses membangun
kemampuan masyarakat untuk menentukan pilihan dan masa depannya sendiri. Dengan
kata lain, ukuran keberhasilan pemberdayaan bukanlah banyaknya kegiatan yang
terlaksana, melainkan tumbuhnya kemandirian masyarakat.
Persoalan lain yang juga sering
dirasakan para pegiat pemberdayaan adalah minimnya keteladanan di ruang publik.
Di berbagai forum, masyarakat diajak hidup jujur, bekerja keras, mengutamakan
kepentingan bersama, dan menjaga integritas. Namun dalam kehidupan sehari-hari,
tidak jarang mereka menyaksikan contoh yang berbeda dari nilai-nilai yang
disampaikan.
Keadaan seperti ini sering
membuat para pendamping dan pegiat masyarakat bekerja lebih keras. Sebab
masyarakat belajar bukan hanya dari apa yang didengar, tetapi juga dari apa
yang mereka lihat. Keteladanan sering kali jauh lebih kuat daripada ceramah
yang paling panjang.
Di saat yang sama, praktik
politik transaksional masih sesekali muncul dalam berbagai bentuk. Ditambah
lagi budaya bantuan yang belum selalu diikuti dengan strategi kemandirian.
Bantuan sosial tentu memiliki peran penting untuk membantu masyarakat yang
membutuhkan. Namun bantuan akan jauh lebih bermakna jika menjadi jembatan
menuju keberdayaan, bukan sekadar berhenti sebagai penerimaan sesaat.
Sebab masyarakat yang kuat
bukanlah masyarakat yang terus-menerus menunggu bantuan. Masyarakat yang kuat
adalah masyarakat yang memiliki kemampuan, kepercayaan diri, dan kesempatan
untuk mengelola kehidupannya sendiri.
Di sinilah peran masyarakat sipil
menjadi penting kembali. Kampus, organisasi kemasyarakatan, komunitas, tokoh
agama, tokoh adat, dan para pemuda perlu terus merawat ruang-ruang belajar bersama
di tengah masyarakat. Bukan untuk mengajarkan masyarakat apa yang harus
dipikirkan, melainkan untuk membantu mereka menemukan kembali daya yang
sesungguhnya sudah mereka miliki.
Karena pada akhirnya, reformasi
bukan hanya soal perubahan sistem. Reformasi juga soal perubahan kesadaran. Dan
kesadaran tidak tumbuh dari slogan, tidak lahir dari laporan, tidak pula datang
dari bantuan semata.
Ia tumbuh dari keteladanan,
kepercayaan, dan proses panjang memanusiakan manusia.
Mungkin itulah pekerjaan rumah
reformasi hari ini. Bukan sekadar membangun lebih banyak program, melainkan
mengembalikan daya kepada masyarakat. Sebab ketika masyarakat berdaya,
reformasi akan menemukan jalannya kembali. Namun ketika daya itu perlahan
memudar, reformasi bisa saja tetap berjalan secara administratif, tetapi
kehilangan ruh yang dahulu membuatnya hidup.
إرسال تعليق