Eksistensi seharusnya sederhana. Ia lahir dari kesadaran
bahwa seseorang hadir dan menjalankan tanggung jawabnya dengan benar. Tidak
perlu selalu diumumkan. Tidak perlu selalu dibuktikan di depan banyak orang.
Cukup dikerjakan dengan konsisten, maka keberadaan itu akan terasa dengan
sendirinya.
Namun tidak semua orang merasa cukup dengan itu. Ada yang
merasa harus terus terlihat agar dianggap ada. Di titik inilah eksistensi
berubah arah. Ia tidak lagi berangkat dari kerja, tetapi dari kebutuhan untuk
diakui. Bukan lagi tentang makna, tetapi tentang tampilan. Inilah yang kemudian
disebut sebagai krisis eksistensi, kegelisahan yang mendorong seseorang untuk terus
muncul, meski tidak selalu sebanding dengan isi yang ditampilkan.
Di era media sosial, dorongan ini menemukan ruang yang
luas. Semua bisa ditampilkan, diatur, dan diulang. Apa yang sebenarnya biasa
saja bisa tampak penting jika terus disorot. Dari sini muncul pola yang mudah
dikenali, pemimpin yang lebih sibuk memastikan dirinya terlihat daripada
memastikan pekerjaannya selesai dengan baik.
Fasilitas lembaga yang seharusnya menjadi ruang bersama
mulai bergeser fungsi. Media resmi digunakan berulang kali untuk menampilkan
sosok yang sama. Informasi yang keluar tidak lagi mencerminkan kerja kolektif,
tetapi lebih banyak memperlihatkan individu. Perlahan, lembaga kehilangan
wajahnya sendiri, karena yang tampak hanya satu wajah yang terus dihadirkan.
Padahal sebuah lembaga berdiri dari banyak peran. Ada
kerja yang tidak terlihat, ada orang orang yang tidak muncul, tetapi tetap
menjalankan fungsinya. Ketika semua itu tidak diberi ruang, yang hilang bukan
hanya keadilan, tetapi juga kejujuran dalam menggambarkan kenyataan.
Masyarakat yang jeli akan membaca ini dengan caranya
sendiri. Mereka tidak hanya melihat apa yang ditampilkan, tetapi juga apa yang
tidak ditampilkan. Ketika lembaga lebih jarang muncul dibanding individunya,
pertanyaan mulai muncul dengan sendirinya.
Mengapa media lembaga terasa seperti milik pribadi
Apa yang sebenarnya ingin dikejar
Apakah ini bagian dari persiapan menuju posisi berikutnya
Apakah ini cara menutup kekurangan yang tidak ingin
terlihat
Atau memang ada kegelisahan yang tidak selesai di dalam
diri
Pertanyaan itu tidak muncul tanpa alasan. Ia lahir dari
ketidakseimbangan yang terus berulang. Semakin sering seseorang menampilkan
dirinya, semakin besar kemungkinan publik melihat adanya sesuatu yang tidak
utuh.
Masalah ini bukan sekadar soal cara berkomunikasi. Ini
sudah menyentuh soal etika. Ketika ruang bersama dipakai untuk kepentingan satu
orang, maka ada hak yang secara tidak langsung diambil dari yang lain. Yang
tidak tampil menjadi tidak terlihat, yang tidak terlihat dianggap tidak ada.
Dalam batas tertentu, praktik seperti ini bisa dibaca
sebagai bentuk penyimpangan yang lebih halus. Bukan mengambil anggaran, tetapi
mengambil ruang. Bukan memindahkan uang, tetapi menguasai perhatian. Dampaknya
tetap sama, ketimpangan dan hilangnya rasa adil di dalam lembaga.
Yang dirugikan bukan hanya orang orang di dalamnya,
tetapi juga kepercayaan publik. Karena lembaga yang sehat tidak dibangun dari
satu wajah. Ia dibangun dari kerja bersama yang ditampilkan secara jujur.
Menjadi ada seharusnya tidak perlu dipaksakan. Jika kerja
berjalan dengan benar, keberadaan akan mengikuti. Jika yang didorong hanya
tampilan, maka yang tumbuh hanyalah kesan, bukan makna.
Di situlah letak masalahnya. Ketika seseorang memilih
untuk terlihat lebih dulu daripada bekerja dengan benar, ia sedang menjadi ada
dengan cara yang salah.
Post a Comment