Pemberdaya atau Penceramah?

 



Pemberdayaan masyarakat sesungguhnya lahir dari proses mendengar, mengajak, dan memberi contoh. Karena itu, seorang fasilitator, organizer, pemberdaya masyarakat, atau pendamping idealnya tidak hadir sebagai komandan yang gemar memberi instruksi. Ia hadir sebagai teman belajar yang membantu masyarakat menemukan kekuatan yang sebenarnya telah mereka miliki.

 

Namun kenyataan di lapangan tidak sesederhana teori yang diajarkan dalam berbagai pelatihan. Seorang pelaku pemberdayaan tetap membutuhkan kemampuan berbicara. Ia harus mampu menjelaskan gagasan, membangun kepercayaan, dan meyakinkan masyarakat untuk bergerak menuju tujuan bersama. Tanpa kemampuan itu, banyak program mungkin hanya akan berhenti menjadi dokumen, laporan, atau sekadar target yang selesai di atas kertas.

 

Di sinilah retorika perlu kita bahas.

 

Secara sederhana, retorika adalah seni berbicara untuk mempengaruhi dan meyakinkan orang lain. Sejak zaman Yunani Kuno, retorika dipandang sebagai kemampuan penting dalam kehidupan publik. Aristoteles mendefinisikannya sebagai kemampuan menemukan cara-cara persuasi yang paling tepat dalam setiap situasi. Dengan kata lain, retorika bukan sekadar kepandaian merangkai kata, melainkan kemampuan menyampaikan gagasan sehingga dapat dipahami dan diterima oleh orang lain.

 

Pandangan itu kemudian diperkuat oleh Kenneth Burke yang melihat retorika sebagai upaya membangun kedekatan dan rasa kebersamaan antara pembicara dan pendengarnya. Dalam konteks pemberdayaan, retorika seharusnya menjadi jembatan yang menghubungkan program dengan kebutuhan masyarakat, bukan tembok yang memisahkan keduanya.

 

Karena itu, tidak ada yang salah dengan retorika. Tidak ada yang keliru dengan kemampuan berbicara yang baik. Justru seorang pendamping yang tidak mampu berkomunikasi akan kesulitan menggerakkan partisipasi masyarakat.

 

Masalah muncul ketika retorika tidak lagi menjadi alat, melainkan berubah menjadi panggung.

 

Kerap kali kita menemukan pelaku pemberdayaan yang lebih sibuk berbicara daripada mendengar. Lebih senang menjelaskan daripada bertanya. Lebih bersemangat memberi solusi daripada memahami persoalan yang sedang dihadapi masyarakat. Tanpa disadari, perannya perlahan bergeser. Dari pendamping menjadi penceramah.

 

Mungkin karena berbicara memang lebih mudah terlihat daripada mendengar. Mungkin karena kepandaian beretorika lebih cepat mendapatkan pengakuan daripada kesabaran mendampingi proses. Atau mungkin karena dalam banyak situasi, orang yang pandai berbicara sering dianggap lebih pintar daripada orang yang pandai memahami.

 

Akibatnya, forum-forum pemberdayaan kadang berubah menjadi ruang monolog. Pendamping berbicara panjang lebar tentang partisipasi, sementara masyarakat hanya menjadi pendengar. Pendamping menjelaskan pentingnya kemandirian, sementara masyarakat tidak diberi cukup ruang untuk menyampaikan pengalaman dan pandangannya sendiri.

 

Ironisnya, semua itu sering berlangsung atas nama pemberdayaan.

 

Padahal masyarakat memiliki cara sendiri dalam menilai seseorang. Mereka mungkin lupa isi presentasi yang disampaikan dalam rapat. Mereka mungkin tidak mengingat istilah-istilah keren yang memenuhi layar proyektor. Namun mereka ingat siapa yang mau duduk bersama mereka tanpa sekat. Mereka ingat siapa yang tetap datang meski tidak ada dokumentasi. Mereka ingat siapa yang memberi contoh sebelum memberi nasihat.

 

Karena pada akhirnya, masyarakat lebih mudah percaya pada keteladanan daripada pidato.

 

Sering kali kita menjumpai forum yang berlangsung berjam-jam. Kata-kata besar bertebaran. Semangat dibakar setinggi langit. Partisipasi, kolaborasi, transformasi, keberlanjutan, menjadi kosakata yang terus diulang.

 

Tetapi setelah forum selesai, tidak banyak yang berubah.

 

Yang bertambah hanyalah foto kegiatan.

 

Barangkali karena pemberdayaan memang tidak membutuhkan terlalu banyak orang yang pandai berbicara. Pemberdayaan lebih membutuhkan orang yang bersedia mendengar sampai tuntas, memahami sampai dalam, lalu berjalan bersama masyarakat dalam proses yang sering kali panjang dan melelahkan.

 

Sebab keberhasilan pemberdayaan bukanlah ketika masyarakat kagum kepada pendampingnya. Keberhasilan pemberdayaan justru terjadi ketika masyarakat mampu berdiri tanpa bergantung kepada pendamping tersebut.

 

Di titik itu, seorang pendamping tidak lagi menjadi pusat perhatian. Ia menjadi bagian dari proses tumbuhnya kesadaran masyarakat. Ia tidak sibuk memastikan suaranya paling keras didengar, tetapi memastikan suara masyarakat mendapatkan ruang untuk tumbuh.

 

Maka pertanyaannya sederhana.

 

Di tengah begitu banyaknya forum, pelatihan, sosialisasi, dan pertemuan yang kita hadiri hari ini, apakah kita masih menjadi pemberdaya yang mendengar, mengajak, dan memberi contoh?

 

Atau jangan-jangan, tanpa kita sadari, mikrofon yang terlalu lama berada di tangan telah mengubah kita menjadi penceramah yang berbicara tentang pemberdayaan, tetapi lupa memberdayakan?

Post a Comment

Previous Post Next Post