Setiap tanggal 1 Juni, kita kembali menyebut nama
Pancasila dengan penuh hormat. Lima sila dibacakan, pidato diperdengarkan, dan
ingatan tentang para pendiri bangsa kembali dihadirkan. Namun di antara segala
khidmat itu, ada pertanyaan kecil yang diam-diam mengetuk: apakah Pancasila
masih hidup di tengah masyarakat, atau hanya rutin kita kunjungi setiap kali
peringatan tiba?
Pertanyaan itu mungkin terasa sederhana. Tetapi justru
kesederhanaannya membuat ia sulit dihindari.
Sebab Pancasila sejatinya bukan sekadar dasar negara. Ia
adalah harapan. Ia adalah mimpi tentang sebuah bangsa yang memberi tempat bagi
kemanusiaan, merawat persatuan, menghargai musyawarah, dan menghadirkan
keadilan sosial bagi seluruh rakyatnya.
Karena itu, memperingati Hari Lahir Pancasila bukan hanya
soal mengenang sejarah. Ia juga tentang bercermin. Tentang melihat kembali
wajah bangsa ini sebagaimana adanya, bukan sebagaimana yang kita bayangkan.
Di banyak tempat, pembangunan terus berjalan. Program
datang silih berganti. Bantuan disalurkan. Pendamping ditugaskan. Laporan
disusun. Semua bergerak dengan niat baik. Namun di sela-sela itu, kadang muncul
kegelisahan yang sulit dijelaskan.
Mengapa masih ada masyarakat yang merasa asing dengan
perubahan yang berlangsung di sekitarnya?
Mengapa di tengah begitu banyak program, masih ada warga
yang belum yakin pada kemampuannya sendiri?
Mengapa semakin banyak yang mendampingi, tetapi
keberdayaan tidak selalu tumbuh secepat yang diharapkan?
Barangkali karena pemberdayaan memang berbeda dengan
sekadar mendampingi.
Pendampingan penting. Bahkan sering kali menjadi pintu
masuk yang diperlukan. Tetapi pemberdayaan memiliki makna yang lebih dalam. Ia
bukan tentang membuat masyarakat selalu ditemani, melainkan membantu mereka
menemukan kekuatan yang selama ini ada dalam dirinya.
Pakar pembangunan masyarakat, Robert Chambers, pernah
mengingatkan pentingnya menempatkan masyarakat sebagai pelaku utama
pembangunan. Sementara Jim Ife melihat pemberdayaan sebagai proses memberi
ruang agar masyarakat memiliki kendali atas keputusan yang memengaruhi hidup
mereka. Dalam bahasa yang lebih sederhana, masyarakat tidak sedang menunggu
untuk diselamatkan. Mereka hanya membutuhkan kesempatan untuk dipercaya.
Dan sesungguhnya, semangat itulah yang terasa begitu
dekat dengan nilai-nilai Pancasila.
Pancasila tidak pernah mengajarkan ketergantungan. Ia
berbicara tentang martabat manusia. Tentang musyawarah. Tentang keadilan.
Tentang rakyat yang menjadi bagian dari perjalanan bangsanya, bukan sekadar
penonton.
Mungkin karena itu, sila kelima tidak berbunyi
"bantuan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia". Ia berbunyi
"keadilan sosial". Sebuah frasa yang jauh lebih dalam, karena di
dalamnya terkandung kesempatan, penghargaan, dan ruang bagi setiap orang untuk
tumbuh.
Di desa-desa, di kelompok-kelompok masyarakat, di
sudut-sudut kampung yang jauh dari pusat keramaian, sesungguhnya kita sering
menemukan daya itu. Ada petani yang tetap bertahan di tengah cuaca yang tak
menentu. Ada ibu-ibu yang mengubah keterbatasan menjadi usaha kecil. Ada pemuda
yang mencoba membangun sesuatu dari hampir tidak ada apa-apa. Mereka bergerak
bukan karena laporan kegiatan, melainkan karena harapan.
Sayangnya, tidak semua daya itu mendapat ruang untuk
berkembang.
Kadang masyarakat terlalu sering diposisikan sebagai
penerima. Terlalu sering diberi tahu apa yang harus dilakukan. Terlalu sering
diukur dari angka-angka keberhasilan yang dibuat oleh orang lain. Padahal bisa
jadi yang mereka butuhkan bukan tambahan arahan, melainkan tambahan
kepercayaan.
Mungkin itulah yang perlu kita renungkan pada Hari Lahir
Pancasila tahun ini.
Bahwa menghidupkan Pancasila tidak selalu harus dimulai
dari hal-hal besar. Kadang ia hadir ketika masyarakat didengar sebelum
diputuskan. Ketika warga dilibatkan sebelum diarahkan. Ketika kemampuan mereka
dihargai sebelum kelemahannya diperbaiki.
Karena pada akhirnya, bangsa yang kuat bukanlah bangsa
yang memiliki paling banyak program. Bukan pula yang memiliki paling banyak
pendamping.
Bangsa yang kuat adalah bangsa yang rakyatnya percaya
pada kemampuannya sendiri.
Dan ketika senja 1 Juni perlahan turun, setelah upacara
selesai, setelah spanduk-spanduk kembali dilepas, mungkin masih ada satu
pertanyaan yang layak kita simpan baik-baik.
Apakah selama ini kita benar-benar sedang menumbuhkan
daya masyarakat?
Ataukah tanpa sadar, kita hanya membuat mereka semakin
pandai menunggu kedatangan program berikutnya?
إرسال تعليق