Masjid
dan musholla mulai sibuk. Jalanan ramai oleh lalu lalang hewan Qurban.
Anak-anak berlarian melihat sapi dan kambing yang sebentar lagi akan
disembelih. Aroma sate perlahan memenuhi udara. Hari raya datang membawa
suasana yang selalu dirindukan umat Islam.
Tetapi
di tengah semua keramaian itu, diam-diam ada pertanyaan yang sesekali mengetuk
hati saya. Apakah hari ini kita masih benar-benar memahami makna Qurban, atau
jangan-jangan kita hanya sedang menjaga tradisinya saja.
Sebab
sejarah Qurban tidak lahir dari kemewahan. Ia lahir dari ketaatan dan
pengorbanan. Dari seorang Nabi Ibrahim AS yang rela menyerahkan sesuatu yang
paling dicintainya demi menjalankan perintah Allah. Dan dari Nabi Ismail AS
yang juga rela menerima ketetapan itu dengan penuh kepasrahan.
Di sana
ada cinta, ada iman, ada keikhlasan, ada pelajaran besar bahwa tidak semua yang
kita cintai harus kita genggam selamanya.
Karena
itulah Qurban sesungguhnya bukan hanya tentang menyembelih hewan. Qurban adalah
latihan menyembelih ego, keserakahan, rasa paling berjasa, dan sifat terlalu
mencintai dunia.
Namun
hari ini, kadang yang tampak justru sisi seremonialnya yang lebih menonjol.
Spanduk lebih besar dari makna. Dokumentasi lebih ramai dari perenungan. Nama
lebih mudah terlihat dibanding proses pengorbanannya.
Di
sebagian tempat, hewan Qurban diperoleh dari arisan, iuran bersama, atau kas
lembaga yang kemudian disalurkan atas nama lembaga maupun pimpinan tertentu.
Tidak ada yang salah dengan semangat gotong royong. Bahkan itu bagian dari
budaya baik yang harus dijaga. Tetapi ada nilai yang jangan sampai ikut hilang,
yaitu keteladanan tentang bagaimana seseorang berjuang dan berkorban dengan
kesadaran pribadinya karena Allah.
Sebab
anak-anak hari ini belajar bukan hanya dari ceramah, tetapi dari apa yang
mereka lihat.
Ketika
mereka melihat orang tua menabung sedikit demi sedikit untuk membeli hewan
Qurban, mereka belajar tentang perjuangan. Ketika mereka melihat seorang
pemimpin memberi contoh dengan hartanya sendiri, mereka belajar tentang
ketulusan. Ketika mereka melihat ibadah dilakukan tanpa perlu banyak
dipertontonkan, mereka belajar tentang keikhlasan.
Dan
barangkali di situlah letak kegelisahan banyak orang hari ini.
Kita
masih memiliki banyak sapi, banyak kambing, banyak kegiatan seremonial. Tetapi
keteladanan perlahan terasa makin mahal.
Padahal
umat ini tidak kekurangan orang pintar berbicara tentang agama. Yang mulai
dirindukan justru orang-orang yang diam-diam memberi contoh lewat perbuatannya.
Karena
agama tidak hanya tumbuh dari mimbar. Ia tumbuh dari teladan yang hidup di
tengah masyarakat.
Dari
pemimpin yang mau berkorban untuk rakyat kecil. Dari orang kaya yang peduli
kepada sekitar. Dari pejabat yang tidak menjadikan jabatan sebagai alat
pencitraan kesalehan. Dari guru yang mengajarkan makna pengorbanan bukan hanya
lewat teori, tetapi lewat tindakan.
Qurban
seharusnya melahirkan manusia yang lebih ringan berbagi, lebih lembut hatinya,
dan lebih peduli terhadap sesama. Bukan sekadar melahirkan laporan kegiatan
tahunan dan foto dokumentasi.
Karena
pada akhirnya, yang paling berat dalam Qurban mungkin bukan membeli hewannya.
Tetapi bagaimana menjaga hati tetap ikhlas saat melakukannya.
Dan
mungkin benar, yang mulai hilang dari Qurban hari ini bukan sapinya. Melainkan
keteladanan yang dulu membuat nilai-nilai pengorbanan tumbuh hidup di tengah
masyarakat.
إرسال تعليق