Balada Fasilitator 3



Konon, di negeri yang kaya program ini, ada satu jenis manusia yang keberadaannya sering dibutuhkan tetapi jarang dianggap penting. Namanya fasilitator. Siang hari ia mengejar progres, malam hari ia menyusun laporan. Ketika masyarakat bertanya, ia harus menjawab. Ketika target terlambat, ia harus mencari jalan keluar. Ketika penilaian kinerja tiba, ia harus memastikan nilainya cukup baik agar masih dianggap layak hidup pada tahun berikutnya. Sementara itu kontrak yang ia pegang sering kali lebih pendek daripada daftar tugas yang harus diselesaikannya. Maka jangan heran bila banyak fasilitator hidup dalam ironi; bekerja seperti pegawai tetap, dituntut seperti pejabat, tetapi masa depannya ditentukan oleh selembar evaluasi yang dapat berubah sewaktu-waktu.

 

Mereka berusaha menyenangkan semua pihak sekaligus, sesuatu yang bahkan mungkin tidak mampu dilakukan para filsuf sejak zaman dahulu. Masyarakat harus senang, pemerintah daerah harus senang, atasan harus senang, auditor harus senang, sistem aplikasi harus senang, dan angka-angka progres juga harus senang. Akibatnya, banyak fasilitator yang lebih hafal jadwal pelaporan dibandingkan jadwal makan mereka sendiri. Ada yang berangkat saat anak masih tidur dan pulang ketika anak sudah tidur kembali. Ada yang lebih sering mendengar keluhan masyarakat daripada cerita keluarganya sendiri. Namun semua itu dijalani dengan keyakinan sederhana bahwa pengabdian masih memiliki tempat di negeri ini, meskipun tempatnya kadang hanya di catatan kaki laporan.

 

Sayangnya, pengabdian sering kalah cepat dibandingkan pergantian kekuasaan. Setiap rezim baru datang membawa semangat baru, istilah baru, slogan baru, dan tentu saja model baru. Yang kemarin disebut pemberdayaan, hari ini disebut pendampingan. Yang kemarin dianggap berhasil, hari ini dianggap perlu disesuaikan. Yang kemarin dipuji dalam seminar, hari ini perlahan disimpan di gudang arsip. Seolah-olah setiap pergantian kepemimpinan harus disertai keyakinan bahwa matahari baru pertama kali terbit di langit republik ini. Padahal masyarakat di bawah sering kali masih menghadapi persoalan yang sama, jalan yang sama, kemiskinan yang sama, dan kebutuhan yang sama.

 

Yang lebih menarik, kadang yang berubah bukan hanya nama programnya. Orang-orangnya pun ikut berubah. Sebagian berganti posisi, sebagian berganti seragam, sebagian lagi berganti warna pandangan sesuai arah angin kekuasaan. Sementara fasilitator yang selama bertahun-tahun berada di lapangan hanya bisa menyaksikan dari kejauhan. Mereka yang dahulu diminta berlari kini diminta minggir. Mereka yang dahulu disebut ujung tombak kini perlahan dianggap perlengkapan lama. Mereka yang bertahun-tahun menjaga denyut program tiba-tiba diberitahu bahwa usia mereka sudah lewat, bahwa zaman sudah berubah, atau bahwa ada kebutuhan baru yang mengharuskan mereka pergi.

 

Kadang sulit menolak kesan bahwa sebagian program berubah menjadi arena yang lebih sibuk mengurus siapa yang akan masuk daripada apa yang akan dicapai. Seolah-olah keberhasilan bukan lagi diukur dari seberapa kuat masyarakat diberdayakan, melainkan dari seberapa banyak kursi yang berhasil dibagikan. Yang berjibaku di lapangan bertahun-tahun perlahan tersisih, sementara yang baru datang kadang langsung mendapat tempat terhormat. Tentu tidak semuanya demikian, tetapi masyarakat yang setiap hari melihat kenyataan sering kali memiliki cara sendiri untuk menarik kesimpulan.

 

Yang paling menyedihkan bukanlah kehilangan pekerjaan itu sendiri. Yang paling menyedihkan adalah cara sebagian orang kehilangan pekerjaan setelah mengabdikan usia produktifnya. Setelah bertahun-tahun menjadi jembatan antara negara dan rakyat, setelah ribuan rapat, ribuan perjalanan, dan ribuan persoalan berhasil mereka bantu selesaikan, mereka pergi tanpa upacara. Tidak ada masa purnabakti. Tidak ada penghargaan atas pengabdian panjang. Bahkan ucapan terima kasih pun kadang terasa terlalu mahal untuk diberikan. Seolah-olah seluruh pengabdian yang pernah mereka lakukan menguap begitu saja bersama berakhirnya kontrak.

 

Barangkali inilah satu-satunya profesi yang dituntut mencintai pekerjaannya secara total tetapi tidak boleh terlalu berharap dicintai kembali oleh sistem. Ketika dibutuhkan mereka dicari sampai ke pelosok. Ketika tidak dibutuhkan mereka dilepas begitu saja. Ketika program berhasil, keberhasilan itu milik banyak pihak. Tetapi ketika ada masalah, fasilitator sering menjadi alamat pertama yang dituju. Mereka seperti jembatan yang setiap hari dilewati banyak orang, namun baru disadari keberadaannya ketika mulai retak.

 

Padahal idealnya kerja-kerja pemberdayaan dijauhkan dari aroma politik praktis. Sebab kemiskinan tidak memilih partai. Keterbelakangan tidak memilih warna bendera. Ketimpangan tidak bertanya siapa yang menang pemilu. Masyarakat membutuhkan pendamping yang bekerja karena kompetensi, pengalaman, dan dedikasi, bukan karena kedekatan dengan kekuasaan yang sifatnya sementara. Program boleh berganti nama, menteri boleh berganti, kepala daerah boleh berganti, tetapi semangat mendampingi masyarakat seharusnya tidak ikut berganti setiap lima tahun sekali.

 

Karena pada akhirnya, yang dibutuhkan masyarakat bukanlah pendamping yang paling dekat dengan pusat kekuasaan, melainkan pendamping yang paling dekat dengan denyut kehidupan rakyat. Mereka yang telah menjiwai pekerjaan ini seharusnya diberi kesempatan untuk terus melanjutkan pengabdiannya sepanjang masih memenuhi syarat dan masih mampu bekerja dengan baik. Sebab membangun kepercayaan masyarakat membutuhkan waktu yang panjang, sementara menghancurkannya hanya membutuhkan satu keputusan administratif yang ditandatangani dalam hitungan menit.

 

Mungkin itulah sebabnya balada fasilitator selalu terdengar sendu. Ia bukan kisah tentang gaji besar atau jabatan tinggi. Ia adalah kisah tentang orang-orang yang menghabiskan sebagian hidupnya untuk memastikan program sampai kepada masyarakat, lalu suatu hari menyadari bahwa negara yang mereka layani begitu lama bahkan tidak sempat mengucapkan, "Terima kasih, engkau telah bekerja dengan baik." Dan dalam kesunyian itulah mereka belajar memahami satu kenyataan yang pahit: bahwa di negeri ini, kadang yang paling mudah dilupakan justru mereka yang paling lama mengabdi.


Post a Comment

أحدث أقدم