Belakangan ini, semakin banyak peristiwa yang membuat
saya terdiam. Bukan karena tidak memiliki pendapat, bukan pula karena
kehilangan keberanian untuk berpikir. Saya hanya merasa ada begitu banyak hal
yang sulit dijelaskan dengan kata-kata. Akhirnya saya memilih menghela napas
panjang, menatap jauh, dan sesekali menggigit bibir sendiri agar emosi tidak
mendahului akal sehat.
Sejak kecil saya diajarkan bahwa negeri ini dibangun di
atas nilai-nilai luhur. Tentang keadilan, kemanusiaan, persatuan, dan
kebijaksanaan. Nilai-nilai yang terdengar indah di ruang kelas, di podium
upacara, dan di berbagai pidato resmi. Namun semakin dewasa, saya menyadari
bahwa perjalanan antara cita-cita dan kenyataan ternyata tidak selalu pendek.
Kadang terasa begitu jauh, bahkan seperti berjalan di jalan yang tak kunjung
sampai.
Kita diminta menjadi warga negara yang baik, taat
membayar pajak, patuh pada aturan, dan ikut menjaga ketertiban. Itu semua
memang kewajiban yang tidak boleh ditawar. Hanya saja, sebagai warga negara,
saya kira wajar jika sesekali kita berharap melihat fasilitas publik yang
semakin baik, pelayanan yang semakin mudah, dan pembangunan yang semakin terasa
manfaatnya bagi masyarakat luas. Sebab kepercayaan rakyat tumbuh bukan hanya
dari kewajiban yang dijalankan, tetapi juga dari kehadiran negara yang
benar-benar dirasakan.
Kita juga bangga menyebut diri sebagai bangsa demokratis.
Bangsa yang menghargai perbedaan pendapat. Namun dalam praktiknya, tidak semua
suara memperoleh ruang yang sama. Ada kalanya kritik dianggap gangguan,
sementara pujian lebih mudah mendapatkan tempat. Padahal sejarah mengajarkan
bahwa banyak perbaikan lahir bukan dari tepuk tangan, melainkan dari keberanian
untuk mengingatkan.
Di tempat kerja, saya sering mendengar nasihat agar
banyak bertanya dan berdiskusi dengan kawan-kawan. Saya setuju. Sebab ilmu
tidak tumbuh dari kesunyian semata. Tetapi dalam perjalanan, saya juga belajar
bahwa tidak semua orang yang banyak bicara membawa pengetahuan. Ada yang pandai
merangkai kalimat, tetapi miskin gagasan. Ada yang terlihat paling yakin,
tetapi paling jarang memberi solusi. Ada yang sangat rajin berada di dekat
kekuasaan, namun kurang berani berdiri di dekat kebenaran. Dan ada pula yang
selalu hadir saat keberhasilan dibagikan, tetapi sulit ditemukan ketika tanggung
jawab harus dipikul bersama.
Dari situ saya memahami bahwa kedewasaan bukan hanya soal
mencari teman berdiskusi, melainkan juga memilih siapa yang layak didengar.
Di sisi lain, kita sering berbicara tentang integritas,
profesionalisme, dan pengabdian. Nilai-nilai itu memang penting. Namun
masyarakat juga memiliki mata dan telinga. Mereka melihat, mereka mendengar,
dan mereka menilai. Ketika aturan terasa tegas kepada sebagian orang tetapi
lunak kepada sebagian yang lain, ketika kompetensi terkadang harus bersaing
dengan kedekatan, dan ketika prestasi tidak selalu menjadi jalan utama menuju
kesempatan, maka kepercayaan publik perlahan diuji.
Barangkali karena itulah saya sering memilih diam. Bukan
karena setuju terhadap segala yang terjadi. Bukan pula karena menyerah. Saya
hanya sedang menjaga agar kekecewaan tidak berubah menjadi kebencian. Sebab
saya sadar, negeri ini tidak akan menjadi lebih baik hanya dengan kemarahan.
Ada kalanya saya menahan tangis. Bukan tangis karena
lemah, melainkan karena peduli. Karena saya masih percaya negeri ini pantas
menjadi lebih baik daripada hari ini. Masih percaya bahwa kejujuran tidak boleh
dianggap kebodohan, bahwa kritik tidak boleh dianggap permusuhan, dan bahwa
pengabdian tidak seharusnya kalah oleh pencitraan.
Mungkin hari ini saya memilih diam. Tetapi diam saya
bukan akhir dari harapan. Diam saya adalah jeda untuk menjaga kewarasan, agar
ketika saatnya berbicara, yang keluar bukan sekadar keluhan, melainkan pikiran
yang bisa menjadi bagian dari perbaikan.
Sebab mencintai negeri ini tidak selalu harus dengan
pujian. Kadang mencintainya juga berarti berani merasa kecewa, lalu tetap
memilih untuk peduli. Itu yang saya lakukan. Dan mungkin, itu pula yang membuat
saya masih bertahan sampai hari ini.
إرسال تعليق