Di kalangan pendamping beredar sebuah gurauan lama. Ada
yang memplesetkan kata konsultan menjadi "konkonane wong
kesulitan". Tentu itu bukan etimologi resmi. Hanya lelucon lapangan yang
lahir dari pengalaman bertahun-tahun. Namun seperti kebanyakan lelucon, ia
bertahan karena terlalu sering terbukti. Ketika ada pekerjaan yang
membingungkan, panggil konsultan. Ketika ada laporan yang belum selesai,
panggil konsultan. Ketika ada target yang mendesak, panggil konsultan. Ketika
ada tahapan yang tertinggal, panggil konsultan. Lama-kelamaan pendamping bukan
lagi orang yang mendampingi, melainkan orang yang selalu diminta mengerjakan.
Padahal program pendampingan sejatinya tidak dirancang
untuk menggantikan pekerjaan pihak yang didampingi. Pendampingan adalah proses
transfer pengetahuan, pengalaman, keterampilan, cara berpikir, bahkan cara
memecahkan masalah dari yang mendampingi kepada yang didampingi. Tujuan
akhirnya bukan sekadar menyelesaikan program, melainkan membangun kemampuan
agar suatu saat pihak yang didampingi mampu berjalan sendiri tanpa harus terus
bergantung kepada orang lain.
Karena itu, dalam konsep yang ideal, pendamping bekerja
di wilayah gagasan dan penguatan kapasitas. Ia membantu memetakan persoalan,
menyusun strategi, merancang langkah kerja, memberikan contoh, dan memastikan arah
pelaksanaan tetap berada pada jalurnya. Sementara pekerjaan teknis semestinya
menjadi ruang belajar bagi pihak yang didampingi. Sebab kemampuan tidak lahir
dari mendengarkan arahan, melainkan dari keberanian mencoba dan kebiasaan
mengerjakan.
Namun kenyataan di lapangan sering berjalan ke arah yang
berbeda.
Dalam banyak kasus, daerah yang didampingi justru
berharap menerima hasil jadi. Konsep minta dibuatkan. Administrasi minta
disiapkan. Dokumen minta dirapikan. Laporan minta diselesaikan. Bahkan
pekerjaan teknis yang menjadi tanggung jawabnya sendiri sering kali diharapkan
dapat dikerjakan oleh pendamping. Yang semula hadir untuk menguatkan kapasitas
perlahan berubah menjadi pelaksana pekerjaan. Yang seharusnya mengajari
memancing akhirnya ikut turun ke sungai menangkap ikan.
Ironisnya, keadaan sering tidak berhenti sampai di sana.
Ketika konsep sudah diberikan, petunjuk sudah dijelaskan, bahkan contoh
pekerjaan sudah diperlihatkan, sebagian pihak yang didampingi tetap tidak
bergerak. Entah karena takut salah, terlalu nyaman bergantung, atau karena
merasa memang begitulah tugas pendamping. Akibatnya, berbagai pekerjaan yang
sebenarnya dapat menjadi sarana belajar justru kembali dilemparkan kepada orang
yang mendampingi.
Sementara waktu tidak pernah berhenti berjalan. Tahapan
program memiliki batas waktu. Target progres harus dicapai. Laporan harus
disampaikan. Anggaran harus dipertanggungjawabkan. Pada titik itulah pendamping
sering terjebak dalam posisi yang serba salah. Jika pekerjaan dibiarkan,
program akan tertinggal. Jika pekerjaan diambil alih, tujuan pendampingan
menjadi hilang.
Maka lahirlah pemandangan yang sering ditemui dalam dunia
pendampingan: makanan sudah tersedia di atas meja, tetapi masih ada yang
meminta disuapi.
Di kalangan pendamping, ada pula seloroh yang sering
muncul ketika menghadapi keadaan seperti ini. Mereka bercanda bahwa sebagian
pihak yang didampingi hari ini mungkin kurang sering menyanyikan lagu *Padamu
Negeri* dan terlalu sering menyanyikan *Indonesia Raya*. Tentu ini hanya
gurauan. Bukan soal lagunya, melainkan soal maknanya. Dalam pemahaman para
pendamping, *Padamu Negeri* mengajarkan pengabdian: "Bagimu negeri, jiwa
raga kami." Sedangkan yang kadang terlihat di lapangan adalah keinginan
untuk segera memperoleh penghormatan, posisi, dan pengakuan tanpa terlebih dahulu
menikmati proses pengabdian yang panjang. Ingin menjadi nahkoda, tetapi enggan
belajar mengayuh. Ingin dipuji karena berhasil, tetapi enggan berkeringat saat
bekerja.
Keadaan seperti ini sesungguhnya bukan hanya merugikan
pendamping. Yang lebih dirugikan justru pihak yang didampingi. Sebab kesempatan
belajar yang seharusnya mereka peroleh perlahan menghilang. Ketika setiap
kesulitan selalu diselesaikan orang lain, kemampuan menghadapi kesulitan tidak
pernah tumbuh. Ketika setiap pekerjaan selalu dikerjakan pihak lain, rasa
percaya diri untuk mengerjakan sendiri pun tidak pernah terbentuk.
Fenomena tersebut sering ditemukan pada daerah-daerah
yang berada dalam posisi tanggung. Mereka bukan lagi daerah yang sangat
tertinggal sehingga memiliki semangat belajar yang tinggi. Namun juga belum
cukup maju untuk benar-benar mandiri. Kalau disebut desa, karakter perkotaannya
sudah mulai tampak. Kalau disebut kota, banyak kapasitas dasar yang masih perlu
diperkuat. Mereka seperti berada di ruang antara: sudah meninggalkan masa lalu,
tetapi belum sepenuhnya tiba di masa depan.
Di daerah yang benar-benar tertinggal, kesadaran untuk
belajar biasanya masih kuat. Mereka menyadari keterbatasannya sehingga terbuka
terhadap bimbingan. Sebaliknya, di daerah yang sudah maju, sebagian besar
kemampuan teknis telah terbentuk sehingga pendamping hanya berperan sebagai
mitra diskusi. Yang sering menghadirkan tantangan justru kelompok yang berada
di tengah-tengah. Merasa sudah mampu, tetapi belum cukup mampu. Merasa tidak
perlu dibimbing, tetapi belum bisa berjalan sendiri.
Di sinilah kesabaran seorang fasilitator diuji. Sebab
tugas pendamping bukan sekadar memastikan program selesai, melainkan memastikan
ada proses pembelajaran yang terjadi. Kadang ia harus menahan diri untuk tidak
mengambil alih pekerjaan yang sebenarnya bisa dikerjakan oleh pihak yang
didampingi. Kadang ia harus rela dianggap lambat demi memberi kesempatan orang
lain belajar. Sebab keberhasilan pendampingan tidak diukur dari banyaknya
pekerjaan yang selesai dikerjakan pendamping, melainkan dari banyaknya
kemampuan yang berhasil ditumbuhkan pada mereka yang didampingi.
Sesungguhnya pendamping yang baik bukanlah pendamping
yang membuat dirinya terus dibutuhkan. Pendamping yang baik justru sedang
mempersiapkan hari ketika dirinya tidak lagi diperlukan. Ia sedang menanam
kemampuan, bukan menanam ketergantungan. Ia sedang membangun kemandirian, bukan
memperpanjang kebutuhan akan pendampingan.
Karena itu, keberhasilan program pendampingan tidak
selalu terlihat dari tebalnya laporan, banyaknya rapat, atau panjangnya daftar
kegiatan. Keberhasilan sejatinya terlihat ketika pihak yang didampingi mampu
menyusun konsep sendiri, melaksanakan kegiatan sendiri, menyelesaikan masalah
sendiri, dan mempertanggungjawabkan pekerjaannya sendiri.
Saat kalimat, "Kami bisa melakukannya sendiri,"
akhirnya terucap, di situlah sesungguhnya tujuan pendampingan tercapai. Bukan
karena program selesai. Bukan karena laporan telah dikirim. Melainkan karena
ketergantungan telah berakhir. Dan bagi seorang fasilitator, itulah bentuk
keberhasilan yang paling membahagiakan.
إرسال تعليق