Balada Fasilitator 7: Sudah Disediakan Makanan, Minta Disuapi


Di kalangan pendamping beredar sebuah gurauan lama. Ada yang memplesetkan kata konsultan  menjadi "konkonane wong kesulitan". Tentu itu bukan etimologi resmi. Hanya lelucon lapangan yang lahir dari pengalaman bertahun-tahun. Namun seperti kebanyakan lelucon, ia bertahan karena terlalu sering terbukti. Ketika ada pekerjaan yang membingungkan, panggil konsultan. Ketika ada laporan yang belum selesai, panggil konsultan. Ketika ada target yang mendesak, panggil konsultan. Ketika ada tahapan yang tertinggal, panggil konsultan. Lama-kelamaan pendamping bukan lagi orang yang mendampingi, melainkan orang yang selalu diminta mengerjakan.

 

Padahal program pendampingan sejatinya tidak dirancang untuk menggantikan pekerjaan pihak yang didampingi. Pendampingan adalah proses transfer pengetahuan, pengalaman, keterampilan, cara berpikir, bahkan cara memecahkan masalah dari yang mendampingi kepada yang didampingi. Tujuan akhirnya bukan sekadar menyelesaikan program, melainkan membangun kemampuan agar suatu saat pihak yang didampingi mampu berjalan sendiri tanpa harus terus bergantung kepada orang lain.

 

Karena itu, dalam konsep yang ideal, pendamping bekerja di wilayah gagasan dan penguatan kapasitas. Ia membantu memetakan persoalan, menyusun strategi, merancang langkah kerja, memberikan contoh, dan memastikan arah pelaksanaan tetap berada pada jalurnya. Sementara pekerjaan teknis semestinya menjadi ruang belajar bagi pihak yang didampingi. Sebab kemampuan tidak lahir dari mendengarkan arahan, melainkan dari keberanian mencoba dan kebiasaan mengerjakan.

 

Namun kenyataan di lapangan sering berjalan ke arah yang berbeda.

 

Dalam banyak kasus, daerah yang didampingi justru berharap menerima hasil jadi. Konsep minta dibuatkan. Administrasi minta disiapkan. Dokumen minta dirapikan. Laporan minta diselesaikan. Bahkan pekerjaan teknis yang menjadi tanggung jawabnya sendiri sering kali diharapkan dapat dikerjakan oleh pendamping. Yang semula hadir untuk menguatkan kapasitas perlahan berubah menjadi pelaksana pekerjaan. Yang seharusnya mengajari memancing akhirnya ikut turun ke sungai menangkap ikan.

 

Ironisnya, keadaan sering tidak berhenti sampai di sana. Ketika konsep sudah diberikan, petunjuk sudah dijelaskan, bahkan contoh pekerjaan sudah diperlihatkan, sebagian pihak yang didampingi tetap tidak bergerak. Entah karena takut salah, terlalu nyaman bergantung, atau karena merasa memang begitulah tugas pendamping. Akibatnya, berbagai pekerjaan yang sebenarnya dapat menjadi sarana belajar justru kembali dilemparkan kepada orang yang mendampingi.

 

Sementara waktu tidak pernah berhenti berjalan. Tahapan program memiliki batas waktu. Target progres harus dicapai. Laporan harus disampaikan. Anggaran harus dipertanggungjawabkan. Pada titik itulah pendamping sering terjebak dalam posisi yang serba salah. Jika pekerjaan dibiarkan, program akan tertinggal. Jika pekerjaan diambil alih, tujuan pendampingan menjadi hilang.

 

Maka lahirlah pemandangan yang sering ditemui dalam dunia pendampingan: makanan sudah tersedia di atas meja, tetapi masih ada yang meminta disuapi.

 

Di kalangan pendamping, ada pula seloroh yang sering muncul ketika menghadapi keadaan seperti ini. Mereka bercanda bahwa sebagian pihak yang didampingi hari ini mungkin kurang sering menyanyikan lagu *Padamu Negeri* dan terlalu sering menyanyikan *Indonesia Raya*. Tentu ini hanya gurauan. Bukan soal lagunya, melainkan soal maknanya. Dalam pemahaman para pendamping, *Padamu Negeri* mengajarkan pengabdian: "Bagimu negeri, jiwa raga kami." Sedangkan yang kadang terlihat di lapangan adalah keinginan untuk segera memperoleh penghormatan, posisi, dan pengakuan tanpa terlebih dahulu menikmati proses pengabdian yang panjang. Ingin menjadi nahkoda, tetapi enggan belajar mengayuh. Ingin dipuji karena berhasil, tetapi enggan berkeringat saat bekerja.

 

Keadaan seperti ini sesungguhnya bukan hanya merugikan pendamping. Yang lebih dirugikan justru pihak yang didampingi. Sebab kesempatan belajar yang seharusnya mereka peroleh perlahan menghilang. Ketika setiap kesulitan selalu diselesaikan orang lain, kemampuan menghadapi kesulitan tidak pernah tumbuh. Ketika setiap pekerjaan selalu dikerjakan pihak lain, rasa percaya diri untuk mengerjakan sendiri pun tidak pernah terbentuk.

 

Fenomena tersebut sering ditemukan pada daerah-daerah yang berada dalam posisi tanggung. Mereka bukan lagi daerah yang sangat tertinggal sehingga memiliki semangat belajar yang tinggi. Namun juga belum cukup maju untuk benar-benar mandiri. Kalau disebut desa, karakter perkotaannya sudah mulai tampak. Kalau disebut kota, banyak kapasitas dasar yang masih perlu diperkuat. Mereka seperti berada di ruang antara: sudah meninggalkan masa lalu, tetapi belum sepenuhnya tiba di masa depan.

 

Di daerah yang benar-benar tertinggal, kesadaran untuk belajar biasanya masih kuat. Mereka menyadari keterbatasannya sehingga terbuka terhadap bimbingan. Sebaliknya, di daerah yang sudah maju, sebagian besar kemampuan teknis telah terbentuk sehingga pendamping hanya berperan sebagai mitra diskusi. Yang sering menghadirkan tantangan justru kelompok yang berada di tengah-tengah. Merasa sudah mampu, tetapi belum cukup mampu. Merasa tidak perlu dibimbing, tetapi belum bisa berjalan sendiri.

 

Di sinilah kesabaran seorang fasilitator diuji. Sebab tugas pendamping bukan sekadar memastikan program selesai, melainkan memastikan ada proses pembelajaran yang terjadi. Kadang ia harus menahan diri untuk tidak mengambil alih pekerjaan yang sebenarnya bisa dikerjakan oleh pihak yang didampingi. Kadang ia harus rela dianggap lambat demi memberi kesempatan orang lain belajar. Sebab keberhasilan pendampingan tidak diukur dari banyaknya pekerjaan yang selesai dikerjakan pendamping, melainkan dari banyaknya kemampuan yang berhasil ditumbuhkan pada mereka yang didampingi.

 

Sesungguhnya pendamping yang baik bukanlah pendamping yang membuat dirinya terus dibutuhkan. Pendamping yang baik justru sedang mempersiapkan hari ketika dirinya tidak lagi diperlukan. Ia sedang menanam kemampuan, bukan menanam ketergantungan. Ia sedang membangun kemandirian, bukan memperpanjang kebutuhan akan pendampingan.

 

Karena itu, keberhasilan program pendampingan tidak selalu terlihat dari tebalnya laporan, banyaknya rapat, atau panjangnya daftar kegiatan. Keberhasilan sejatinya terlihat ketika pihak yang didampingi mampu menyusun konsep sendiri, melaksanakan kegiatan sendiri, menyelesaikan masalah sendiri, dan mempertanggungjawabkan pekerjaannya sendiri.

 

Saat kalimat, "Kami bisa melakukannya sendiri," akhirnya terucap, di situlah sesungguhnya tujuan pendampingan tercapai. Bukan karena program selesai. Bukan karena laporan telah dikirim. Melainkan karena ketergantungan telah berakhir. Dan bagi seorang fasilitator, itulah bentuk keberhasilan yang paling membahagiakan.

Post a Comment

أحدث أقدم