Tetangga dan Perjalanan Terakhir

 


Kadang saya duduk di teras rumah menjelang senja, memandangi jalan perumahan yang perlahan mulai ramai oleh orang-orang yang pulang dari aktivitasnya. Ada yang turun dari mobil, ada yang memarkir motor, ada yang berjalan tergesa masuk ke rumah masing-masing. Semua terlihat baik-baik saja. Semua terlihat sibuk dengan dunianya sendiri. Dan di tengah suasana yang tampak biasa itu, sering muncul satu pertanyaan sederhana di kepala saya: apakah semakin modern cara kita hidup, semakin jauh pula kita dari sesama manusia?

 

Mungkin saya keliru. Tetapi saya merasa ada sesuatu yang perlahan berubah dalam kehidupan bertetangga. Kita tinggal berdampingan, tetapi tidak selalu beriringan. Kita saling melihat, tetapi tidak selalu saling mengenal. Bahkan terkadang sapaan baru terasa penting ketika ada kebutuhan yang harus disampaikan. Hubungan menjadi hangat ketika ada kepentingan, lalu kembali dingin ketika urusan selesai. Padahal hidup ini sesungguhnya terlalu singkat untuk hanya mengenal manusia saat kita memerlukan bantuannya. Sebab yang sering kita lupakan adalah bahwa setiap orang yang tinggal di sekitar kita bukan sekadar tetangga, melainkan bagian dari perjalanan hidup yang Allah hadirkan untuk saling menguji, saling mengingatkan, dan sesekali saling menguatkan.

 

Saya juga sering merenungkan tentang betapa mudahnya manusia melupakan masa-masa sulitnya sendiri. Tidak sedikit orang yang ketika sakit mendapatkan perhatian, ketika susah mendapatkan bantuan, ketika lemah mendapatkan pertolongan. Bahkan ada yang pernah benar-benar berada dalam kondisi tidak berdaya sehingga harus dibantu dan ditopang oleh orang-orang di sekitarnya. Namun setelah sehat, setelah kuat, setelah keadaan membaik, perlahan ingatan tentang pertolongan itu ikut memudar. Bukan karena mereka orang jahat, mungkin hanya karena manusia memang mudah lupa. Lupa bahwa dirinya pernah lemah. Lupa bahwa dirinya pernah membutuhkan uluran tangan orang lain. Lupa bahwa Allah sering mengirim pertolongan melalui orang-orang yang tinggal tidak jauh dari rumahnya.

 

Semakin bertambah usia, saya justru semakin yakin bahwa hidup ini bukan tentang siapa yang paling hebat berdiri sendiri. Hidup adalah tentang menyadari bahwa kita semua saling membutuhkan. Ada saat kita menolong, ada saat kita ditolong. Ada saat kita menguatkan, ada saat kita membutuhkan penguatan. Tidak ada manusia yang selalu berada di atas. Tidak ada manusia yang selamanya kuat. Dan tidak ada manusia yang benar-benar bisa hidup tanpa kehadiran orang lain. Kesadaran itulah yang membuat saya berusaha menjaga hubungan baik semampunya, bukan karena ingin dianggap baik, melainkan karena saya sadar bahwa umur manusia tidak pernah bisa ditebak.

 

Sebab pada akhirnya, ada satu perjalanan yang akan dilalui oleh setiap orang tanpa terkecuali. Perjalanan yang tidak mengenal status, jabatan, pendidikan, kekayaan, ataupun luasnya rumah yang pernah dimiliki. Ketika waktu itu tiba, kita tidak lagi membutuhkan pujian manusia. Kita tidak lagi memerlukan pengakuan siapa pun. Yang kita butuhkan adalah doa-doa yang tulus dan keikhlasan orang-orang yang mengantarkan kita menuju kuburun tempat di mulainya alam barzah. Dan sering kali, orang-orang yang berdiri di sekitar keranda itu adalah mereka yang selama ini hidup berdampingan dengan kita; tetangga yang mungkin pernah kita sapa, atau justru pernah kita abaikan.

 

Karena itu saya memilih untuk tidak terlalu sibuk menilai orang lain. Saya lebih ingin sibuk memperbaiki diri sendiri. Belajar bersabar ketika kebaikan tidak selalu dibalas dengan kebaikan. Belajar ikhlas ketika perhatian tidak selalu berbalas perhatian. Belajar memahami bahwa setiap orang sedang berjuang dengan ujian hidupnya masing-masing. Bukankah dunia ini hanya persinggahan yang sangat singkat? Bukankah semua yang hari ini kita banggakan pada akhirnya akan kita tinggalkan? Rumah akan ditinggalkan. Kendaraan akan ditinggalkan. Jabatan akan ditinggalkan. Bahkan nama yang hari ini sering disebut suatu saat akan jarang terdengar.

 

Maka di penghujung renungan ini, saya hanya bisa berdoa semoga Allah SWT menjaga hati saya dan keluarga agar tetap lembut di tengah dunia yang semakin keras. Semoga Allah memberi kami kesabaran untuk tetap berbuat baik meskipun tidak selalu dihargai, memberi kami keikhlasan untuk tetap peduli meskipun tidak selalu dipedulikan, dan menjauhkan kami dari penyakit lupa yang sering membuat manusia merasa tidak membutuhkan siapa-siapa. Sebab sesungguhnya kita semua pernah ditolong, sedang ditolong, atau kelak akan membutuhkan pertolongan. Dan ketika perjalanan terakhir itu tiba, yang akan menemani kita bukan kesombongan, bukan pagar rumah yang tinggi, bukan pula segala hal yang pernah kita banggakan, melainkan amal, akhlak, serta kenangan tentang bagaimana kita memperlakukan sesama manusia selama hidup di dunia. Semoga saat hari itu datang, Allah berkenan menerima kepulangan kita dalam keadaan hati yang masih menyimpan rasa hormat, rasa syukur, dan rasa cinta kepada sesama.dalam iman dan Islam. Aamiin.

Post a Comment

أحدث أقدم