Balada Fasilitator 9: Menerjemahkan Bahasa Program

 


Ada satu pekerjaan yang sering dianggap sederhana dalam dunia pemberdayaan masyarakat, padahal di situlah banyak program ditentukan nasibnya. Pekerjaan itu adalah menerjemahkan. Bukan menerjemahkan bahasa asing, melainkan menerjemahkan bahasa program ke bahasa kehidupan. Sebab hampir semua program lahir dari ruang rapat yang penuh istilah: partisipasi, pemberdayaan, mitigasi, adaptasi, keberlanjutan, dan berbagai kata lain yang terdengar indah di atas kertas. Masalahnya, masyarakat tidak hidup di dalam proposal. Mereka hidup di tengah banjir yang datang saat hujan, sampah yang menumpuk di sudut kampung, dan kebutuhan sehari-hari yang tidak pernah menunggu rapat selesai.

 

Dalam penelitian Yolanda Sabrina Putri Mahasiswi Unila Fakultas Fakultas Ilmu Sosial Dan Ilmu Politik Universitas Lampung tahun2025 tentang implementasi pemberdayaan masyarakat melalui Program Komunitas untuk Iklim (Proklim) di Kelurahan Panjang Utara Bandar Lampung,  menunjukkan bahwa masyarakat tidak langsung menerima sebuah gagasan baru. Mereka harus mengenal, memahami, mempertimbangkan, mencoba, lalu meyakini manfaatnya. Di sepanjang proses itulah komunikasi menjadi kunci, dan fasilitator menjadi jembatan yang menghubungkan program dengan kehidupan nyata masyarakat.

 

Karena itu fasilitator yang baik tidak sibuk memamerkan istilah. Ia justru sibuk mencari cara agar pesan dapat dipahami. Ia tahu bahwa menjelaskan perubahan iklim lebih mudah dimulai dari cerita tentang banjir yang semakin sering datang. Menjelaskan konservasi air lebih dekat jika dimulai dari sumur yang mulai mengering saat kemarau. Menjelaskan pengelolaan sampah lebih masuk akal jika dikaitkan dengan selokan yang tersumbat dan halaman yang kotor. Masyarakat tidak membutuhkan bahasa yang tinggi. Mereka membutuhkan bahasa yang dekat.

 

Sayangnya, ada kalanya kita menemukan keadaan yang lucu sekaligus menyedihkan. Ketika masyarakat belum memahami materi, sebagian orang justru menambah panjang penjelasan. Ketika peserta mulai bingung, jumlah slide diperbanyak. Seolah-olah semakin banyak kata, semakin dekat pemahaman. Padahal sering kali masalahnya bukan pada kurangnya informasi, melainkan cara menyampaikannya. Sebab komunikasi bukan tentang apa yang berhasil diucapkan, melainkan apa yang berhasil dimengerti.

 

Masyarakat sesungguhnya bukan kertas kosong yang tinggal ditulisi sesuka hati. Mereka memiliki pengalaman, pengetahuan, dan pelajaran hidup yang tidak ditemukan dalam buku panduan program. Karena itu fasilitator tidak datang untuk merasa paling tahu, tetapi untuk menyambungkan pengetahuan yang dibawa program dengan pengalaman yang dimiliki masyarakat. Dari pertemuan keduanya lahirlah kesadaran yang lebih kuat daripada sekadar instruksi.

 

Pada akhirnya, fasilitator adalah penerjemah yang bekerja di antara dua dunia. Ia membantu masyarakat memahami maksud program, sekaligus membantu program memahami kebutuhan masyarakat. Ketika kedua bahasa itu akhirnya bertemu, perubahan tidak lagi terasa sebagai perintah dari luar. Ia tumbuh menjadi kesadaran dari dalam. Dan mungkin itulah keberhasilan fasilitasi yang sesungguhnya: ketika masyarakat menjalankan sebuah gagasan bukan karena diminta, melainkan karena mereka telah memahami maknanya.

Post a Comment

Previous Post Next Post