Ada satu pekerjaan yang sering dianggap sederhana dalam
dunia pemberdayaan masyarakat, padahal di situlah banyak program ditentukan
nasibnya. Pekerjaan itu adalah menerjemahkan. Bukan menerjemahkan bahasa asing,
melainkan menerjemahkan bahasa program ke bahasa kehidupan. Sebab hampir semua
program lahir dari ruang rapat yang penuh istilah: partisipasi, pemberdayaan,
mitigasi, adaptasi, keberlanjutan, dan berbagai kata lain yang terdengar indah
di atas kertas. Masalahnya, masyarakat tidak hidup di dalam proposal. Mereka
hidup di tengah banjir yang datang saat hujan, sampah yang menumpuk di sudut
kampung, dan kebutuhan sehari-hari yang tidak pernah menunggu rapat selesai.
Dalam penelitian Yolanda Sabrina Putri Mahasiswi Unila
Fakultas Fakultas Ilmu Sosial Dan Ilmu Politik Universitas Lampung tahun2025 tentang
implementasi pemberdayaan masyarakat melalui Program Komunitas untuk Iklim
(Proklim) di Kelurahan Panjang Utara Bandar Lampung, menunjukkan bahwa masyarakat tidak langsung
menerima sebuah gagasan baru. Mereka harus mengenal, memahami,
mempertimbangkan, mencoba, lalu meyakini manfaatnya. Di sepanjang proses itulah
komunikasi menjadi kunci, dan fasilitator menjadi jembatan yang menghubungkan
program dengan kehidupan nyata masyarakat.
Karena itu fasilitator yang baik tidak sibuk memamerkan
istilah. Ia justru sibuk mencari cara agar pesan dapat dipahami. Ia tahu bahwa
menjelaskan perubahan iklim lebih mudah dimulai dari cerita tentang banjir yang
semakin sering datang. Menjelaskan konservasi air lebih dekat jika dimulai dari
sumur yang mulai mengering saat kemarau. Menjelaskan pengelolaan sampah lebih
masuk akal jika dikaitkan dengan selokan yang tersumbat dan halaman yang kotor.
Masyarakat tidak membutuhkan bahasa yang tinggi. Mereka membutuhkan bahasa yang
dekat.
Sayangnya, ada kalanya kita menemukan keadaan yang lucu
sekaligus menyedihkan. Ketika masyarakat belum memahami materi, sebagian orang
justru menambah panjang penjelasan. Ketika peserta mulai bingung, jumlah slide
diperbanyak. Seolah-olah semakin banyak kata, semakin dekat pemahaman. Padahal
sering kali masalahnya bukan pada kurangnya informasi, melainkan cara
menyampaikannya. Sebab komunikasi bukan tentang apa yang berhasil diucapkan,
melainkan apa yang berhasil dimengerti.
Masyarakat sesungguhnya bukan kertas kosong yang tinggal
ditulisi sesuka hati. Mereka memiliki pengalaman, pengetahuan, dan pelajaran
hidup yang tidak ditemukan dalam buku panduan program. Karena itu fasilitator
tidak datang untuk merasa paling tahu, tetapi untuk menyambungkan pengetahuan
yang dibawa program dengan pengalaman yang dimiliki masyarakat. Dari pertemuan
keduanya lahirlah kesadaran yang lebih kuat daripada sekadar instruksi.
Pada akhirnya, fasilitator adalah penerjemah yang bekerja di
antara dua dunia. Ia membantu masyarakat memahami maksud program, sekaligus
membantu program memahami kebutuhan masyarakat. Ketika kedua bahasa itu
akhirnya bertemu, perubahan tidak lagi terasa sebagai perintah dari luar. Ia
tumbuh menjadi kesadaran dari dalam. Dan mungkin itulah keberhasilan fasilitasi
yang sesungguhnya: ketika masyarakat menjalankan sebuah gagasan bukan karena
diminta, melainkan karena mereka telah memahami maknanya.
Post a Comment