Ada yang mengatakan rumah tangga dibangun oleh cinta. Saya lebih percaya, rumah tangga dipertahankan oleh iman. Sebab cinta dapat tumbuh karena rasa, tetapi iman membuat rasa itu tetap hidup ketika kenyataan tidak lagi semanis harapan. Iman bukan sekadar diyakini dalam hati dan diucapkan dengan lisan, melainkan dibuktikan dalam perbuatan. Karena itu, pernikahan seharusnya dijalani dengan ikhlas, tanpa tendensi, tanpa agenda tersembunyi, dan tanpa kebiasaan menghitung siapa yang lebih banyak memberi atau lebih sedikit menerima.
Sebab ketika kasih sayang mulai digantikan
oleh perhitungan, yang berkurang bukan hanya kebahagiaan, tetapi juga makna
sebuah kebersamaan.
Di sinilah persoalan sering bermula. Rumah tangga perlahan berubah menjadi arena untuk memenangkan diri sendiri. Ada suami yang merasa harus selalu benar. Ada istri yang merasa harus selalu didengar. Lebih rumit lagi ketika kepentingan orang tua atau saudara kandung ikut menentukan arah sebuah keputusan. Tidak ada yang mengaku sedang berpihak, tetapi pasangan dapat merasakannya.
Ucapan yang menguntungkan diri
sendiri disimpan rapat, sementara pengorbanan pasangan cepat terlupakan. Hak
ditagih dengan penuh keyakinan, tetapi kemampuan pasangan jarang dijadikan
pertimbangan. Masa depan keluarga dikalahkan oleh kemenangan hari ini. Rumah
yang seharusnya menjadi tempat pulang perlahan berubah menjadi ruang sidang.
Masing-masing menghadirkan dalil. Masing-masing merasa paling benar. Yang
dicari bukan lagi jalan keluar, melainkan kemenangan.
Padahal, pernikahan tidak
pernah meminta pemenang. Pernikahan hanya meminta dua orang yang bersedia
berjalan searah. Sebab dua hati yang telah dipersatukan seharusnya belajar
memiliki satu rasa. Ketika suami memikul beban, istri ikut merasakan beratnya.
Ketika istri terluka, suami tidak sibuk mencari alasan, tetapi mencari cara
untuk menyembuhkannya. Itulah cinta yang beriman; tidak berhenti pada kalimat "aku mencintaimu",
tetapi hadir dalam kesediaan mendengar, mengalah, menjaga kehormatan pasangan,
dan memikul beban tanpa diminta. Sebab penderitaan pasangan bukan tontonan. Ia
adalah panggilan.
Sayangnya, ketika ambisi
mengambil tempat di dalam hati, agama sering kali hanya tersisa sebagai
kata-kata. Lisan fasih berbicara tentang kasih sayang, tetapi perilaku justru
mempertontonkan perhitungan. Yang diingat adalah hak sendiri, sedangkan
kewajiban mudah terlupakan. Yang dibela adalah kepentingan sendiri, sedangkan
luka pasangan dianggap biasa.
Padahal iman selalu meminta bukti, demikian pula
cinta. Mungkin karena itulah rumah tangga tidak membutuhkan dua orang yang
sama-sama pandai berdebat, melainkan dua orang yang sama-sama takut melukai
hati pasangannya. Sebab cinta tidak mulai mati ketika pertengkaran datang.
Cinta mulai kehilangan arah ketika ia belajar berhitung. Dan sejak saat itu,
yang diperjuangkan bukan lagi kebersamaan, melainkan kemenangan.
إرسال تعليق