Ada sebuah
ironi yang sudah lama tinggal di ruang-ruang pembangunan kita. Hampir semua
orang sepakat bahwa masyarakat harus diberdayakan, tetapi tidak semua pihak
benar-benar menjadikan pemberdayaan sebagai kebutuhan utama. Akibatnya,
pemberdayaan sering terdengar nyaring dalam pidato, tetapi berjalan pelan di
lapangan.
Padahal
membangun daerah melalui pemberdayaan dan pendampingan bukanlah pekerjaan yang
dapat diselesaikan dalam satu musim anggaran. Ia membutuhkan keseriusan,
komitmen, dan kesabaran dari banyak pihak. Sebab yang sedang dibangun bukan
sekadar jalan, gedung, atau saluran air, melainkan cara berpikir dan cara
bertindak manusia.
Sayangnya,
ada persoalan lama yang hingga hari ini masih setia mengikuti perjalanan
pembangunan kita.
Yang paling terasa
adalah kuatnya orientasi proyek dalam berbagai kegiatan yang diberi label
pemberdayaan atau pendampingan. Banyak program lebih sibuk mengejar target
administrasi dibanding perubahan sosial. Yang dihitung sering kali jumlah
pertemuan, jumlah peserta, dan jumlah laporan. Sementara perubahan perilaku
masyarakat yang seharusnya menjadi tujuan utama justru sulit ditemukan dalam
lembar evaluasi.
Pemberdayaan
akhirnya seperti pohon yang rajin diukur tingginya, tetapi lupa dirawat
akarnya.
Persoalan
lain adalah masih kuatnya pandangan bahwa pembangunan identik dengan
pembangunan fisik. Jalan yang mulus, gedung yang menjulang, dan taman yang
indah memang mudah dilihat hasilnya. Foto peresmiannya pun mudah menghiasi
media sosial dan laporan kegiatan.
Sebaliknya,
hasil pemberdayaan tidak selalu tampak dalam hitungan bulan. Ia tumbuh perlahan
di dalam kesadaran masyarakat, dalam keberanian mengambil keputusan, dalam
kemampuan bekerja sama, dan dalam kemandirian menghadapi persoalan hidup.
Padahal
jalan hanya menghubungkan satu tempat dengan tempat lain. Sementara manusia
yang berdaya mampu menghubungkan hari ini dengan masa depan.
Belum lagi
budaya serba instan yang perlahan merasuk ke hampir semua sendi kehidupan.
Sebagian pelaksana program menginginkan hasil yang cepat terlihat. Sebagian
masyarakat pun berharap perubahan datang tanpa proses yang panjang. Semua ingin
panen, tetapi tidak semua bersedia menanam.
Kita hidup
di zaman ketika sesuatu yang cepat sering dianggap lebih baik daripada sesuatu
yang benar. Akibatnya, proses pendampingan yang membutuhkan waktu sering
dipandang lambat, padahal perubahan sosial memang tidak pernah lahir dari
ketergesaan.
Jika
persoalan lama belum selesai, persoalan baru juga datang mengetuk pintu.
Perkembangan
teknologi informasi yang begitu cepat ternyata belum sepenuhnya diikuti oleh
sebagian fasilitator dan pendamping. Di saat masyarakat mulai akrab dengan
berbagai platform digital, masih ada pendamping yang kesulitan memanfaatkan
teknologi sebagai alat belajar, alat komunikasi, dan alat pengorganisasian
masyarakat.
Akhirnya,
masyarakat bergerak dengan kecepatan internet, sementara sebagian pendamping
masih berjalan dengan kecepatan map plastik dan tumpukan berkas.
Di sisi
lain, kebijakan pembangunan juga belum sepenuhnya memberi ruang yang memadai
bagi pendekatan pemberdayaan. Investasi sosial sering kali kalah menarik
dibanding investasi fisik yang hasilnya lebih cepat terlihat. Padahal bangunan
dapat berdiri dalam hitungan bulan, sedangkan masyarakat yang berdaya dapat
menjadi sumber pembangunan sepanjang masa.
Namun
tantangan yang paling sering terasa adalah masih kuatnya aroma politik praktis
dalam berbagai program pembangunan. Tidak sedikit program yang seharusnya
menjadi ruang belajar masyarakat justru berubah menjadi panggung pencitraan.
Pendampingan yang seharusnya menumbuhkan kemandirian kadang bergeser menjadi
sarana membangun popularitas.
Masyarakat
akhirnya lebih sering diposisikan sebagai penonton yang diminta bertepuk tangan
daripada sebagai pelaku utama pembangunan.
Sebagai
seorang fasilitator, saya sering membayangkan bagaimana wajah pembangunan kita
beberapa puluh tahun ke depan.
Barangkali
akan sangat baik apabila suatu hari nanti fasilitator masyarakat dipandang
sebagai sebuah profesi yang memiliki tempat terhormat dalam pembangunan. Bukan
sekadar pelengkap program yang datang ketika kegiatan dimulai lalu menghilang
ketika anggaran berakhir. Sebab di tangan merekalah sering kali proses belajar
masyarakat berlangsung, meskipun jarang terlihat oleh sorotan kamera.
Saya juga
membayangkan betapa indahnya apabila ruang-ruang pemberdayaan dapat tumbuh
tanpa terlalu banyak dibayangi kepentingan politik praktis. Masyarakat dapat
belajar, berdiskusi, dan berkembang tanpa harus sibuk menebak-nebak kepentingan
yang sedang bermain di belakang layar.
Dan mungkin
akan lebih baik lagi apabila nilai-nilai pemberdayaan mulai diperkenalkan sejak
bangku sekolah. Bukan sebagai pelajaran yang rumit, melainkan sebagai cara
berpikir dan cara hidup. Anak-anak diajak memahami arti gotong royong,
musyawarah, kepedulian sosial, dan keberanian mengambil peran dalam
menyelesaikan persoalan bersama. Sebab masyarakat yang berdaya sesungguhnya
tidak lahir secara tiba-tiba ketika dewasa, melainkan tumbuh dari
kebiasaan-kebiasaan kecil yang ditanam sejak muda.
Pada akhirnya,
pembangunan bukanlah perlombaan siapa yang paling cepat membangun gedung atau
paling panjang membangun jalan. Pembangunan adalah ikhtiar panjang menumbuhkan
manusia yang mampu berdiri di atas kakinya sendiri.
Beton yang
kokoh memang dapat bertahan puluhan tahun. Namun kesadaran yang tumbuh dalam
diri masyarakat dapat bertahan lintas generasi.
Karena
itulah, di tengah hiruk-pikuk proyek dan riuh rendah politik, saya masih
percaya bahwa pemberdayaan tetap memiliki tempatnya sendiri. Ia mungkin tidak
selalu terlihat, tidak selalu menjadi berita utama, dan tidak selalu
mendapatkan tepuk tangan. Tetapi seperti akar pada pohon besar, justru dari
sanalah kekuatan sesungguhnya sering berasal.
Dan
barangkali, daerah yang benar-benar maju bukanlah daerah yang paling banyak
bangunannya, melainkan daerah yang masyarakatnya tidak lagi menunggu untuk
dibangun, melainkan telah mampu membangun dirinya sendiri.
Post a Comment