Ketika Rakyat Memberi Julukan, Sejarah Sedang Bekerja

 


Ada yang menarik dari setiap pergantian wali kota. Jabatan memang diberikan melalui pemilu, tetapi julukan justru diberikan oleh rakyat. Uniknya, rakyat tidak pernah bermusyawarah untuk itu. Sebuah nama lahir begitu saja, tumbuh dari apa yang mereka lihat, bukan dari apa yang mereka dengar.


Bandar Lampung pernah mengenal sosok yang dijuluki Wagiman, singkatan dari Wali Kota Gila Taman. Sepintas terdengar seperti olok-olok, padahal justru penghargaan. Sebab di balik "kegilaan" itu, taman bermunculan, kota menjadi lebih hijau, dan Adipura berkali-kali singgah di Bandar Lampung.


Lalu datang masa ketika fly over menjadi wajah pembangunan kota. Satu demi satu berdiri, kemacetan mulai menemukan jalan keluarnya, dan masyarakat kembali memberi nama: Wali Kota Fly Over. Lagi-lagi, bukan pemerintah yang membuat branding itu. Rakyatlah yang menuliskannya melalui ingatan mereka.


Kini Bandar Lampung dipimpin seorang wali kota yang akrab dipanggil Bunda. Sebuah panggilan yang hangat dan penuh makna. Namun waktu selalu punya cara sendiri menguji setiap sebutan. Sebab rakyat lebih mudah mengingat sebuah karya daripada sebuah sapaan.


Politik boleh sibuk membangun citra. Tetapi sejarah hanya mencatat jejak. Spanduk akan diturunkan, baliho akan pudar, media sosial akan tenggelam oleh unggahan baru. Yang tetap tinggal hanyalah jalan yang dilalui, taman yang dinikmati, jembatan yang menghubungkan, serta kebijakan yang benar-benar mengubah kehidupan masyarakat.


Di situlah sesungguhnya sebuah brand lahir. Bukan dari slogan, bukan dari tim media, dan bukan pula dari tepuk tangan pendukung. Brand seorang wali kota atau bupati dibentuk oleh karakter yang dirasakan rakyat dan karya yang dinikmati masyarakat.


Lalu, bagaimana jika karakter itu tidak begitu membekas dan karya besarnya juga belum menemukan penandanya? Barangkali tidak ada yang salah dengan jabatannya. Hanya saja sejarah menjadi kesulitan mencari satu kalimat sederhana untuk mengenangnya.


Namun ada satu hal yang sering luput dari pembahasan. Kita terlalu sibuk menilai pemimpin, tetapi lupa membangun kualitas masyarakat sebagai pemilih. Padahal lahirnya pemimpin yang berkualitas tidak pernah terjadi secara kebetulan. Ia lahir dari masyarakat yang memiliki kesadaran politik, mampu memilah rekam jejak, menimbang gagasan, dan memilih berdasarkan kapasitas, bukan sekadar popularitas.


Pemberdayaan politik masyarakat menjadi pekerjaan yang jauh lebih penting daripada sekadar pendidikan menjelang hari pencoblosan. Masyarakat perlu didorong menjadi pemilih yang kritis, berani bertanya, dan tidak mudah terpukau oleh slogan, pencitraan, maupun kemasan yang indah. Sebab pemimpin hebat tidak lahir dari baliho yang besar, tetapi dari pilihan rakyat yang cerdas.


Pada akhirnya, rakyat tidak pernah menghafal janji. Mereka hanya mengingat hasil. Dan sejarah, sebagaimana rakyat, selalu memberi nama kepada setiap pemimpin. Karena itu, jika ingin memiliki wali kota atau bupati yang dikenang karena karya, maka yang terlebih dahulu harus diberdayakan bukan hanya pemimpinnya, melainkan masyarakatnya. Sebab kualitas pemimpin, sering kali adalah cermin dari kualitas rakyat yang memilihnya.

 

Post a Comment

أحدث أقدم