Makasih, Ciwo

 


Ada masa ketika yang membuat kita menangis bukan karena hidup sedang menghimpit, melainkan karena kita sadar masih ada seseorang yang diam-diam menjaga kita. Pagi ini istriku bercerita. Semalam, saat aku sudah terlelap tidur, Ciwo menelepon. Beliau meminta nomor rekeningku karena ingin transfer. Mendengar cerita itu, aku terdiam sesaat.

"Ih... cie... cie... mau dapat rezeki, nih," goda istriku sambil tersenyum.

Aku ikut tersenyum. Padahal, saat itu ada sesuatu yang mengganjal di dada. Rasanya hangat, sesak, lalu perlahan naik ke pelupuk mata. Sebisa mungkin kusimpan perasaan itu. Aku tak ingin istriku tahu. Malu juga kalau nanti dibilang cengeng. Padahal yang membuatku hampir menangis bukan karena akan menerima uang, melainkan karena aku kembali diingatkan bahwa, sampai hari ini, masih ada seorang kakak yang diam-diam memikirkan adiknya.


Kalau kuingat perjalanan hidup ini, rasanya sudah berkali-kali Allah mengirim pertolongan melalui tangan Ciwo. Saat aku sedang benar-benar membutuhkan uang, beliau yang lebih dulu membantu. Tidak banyak bertanya, tidak pernah membuatku merasa menjadi adik yang gagal, apalagi mengungkit-ungkit setelahnya. Beliau hanya membantu, seolah kesulitanku juga menjadi kegelisahannya.


Kenangan itu berputar begitu saja di kepalaku. Dulu, ketika aku menabrakkan mobil, orang yang paling sibuk melindungiku bukan Ciwo yang marah, melainkan Ciwo yang memastikan aku baik-baik saja. Saat aku mulai mengenal cinta dan ingin bercerita tentang pacar, tempat curhatku adalah Ciwo. Ketika aku sakit, orang pertama yang datang memberi bantuan adalah Ciwo. Bahkan setiap kali ulang tahunku tiba, ucapan pertama yang hampir selalu kuterima adalah ucapan dari Ciwo. Sampai hari ini pun tidak berubah. Di luar istri dan anak-anakku, beliau tetap menjadi orang pertama yang mengingat hari lahirku.


Aku lalu berpikir, mungkin beginilah kasih sayang bekerja. Ia tidak selalu hadir dalam pelukan. Tidak selalu diucapkan dengan kata "sayang". Ia hadir dalam perhatian yang tidak pernah putus, dalam doa yang tidak pernah terdengar, dan dalam kepedulian yang tidak pernah menunggu kita meminta.


Hari ini banyak orang mengenal nomor rekening. Tetapi tidak semua orang mengenal isi hati. Banyak yang mudah mengirim uang ketika keadaan sedang lapang, tetapi sedikit yang peka saat saudaranya sedang berjuang. Banyak yang bertanya, "Berapa yang kamu butuhkan?" Namun tidak banyak yang bertanya, "Apa kabarmu?" Ciwo tidak pernah pandai merangkai kata-kata panjang. Tetapi beliau selalu tahu kapan adiknya membutuhkan uluran tangan.


Ciwo...


Kalau tulisan ini sampai kepadamu, izinkan adikmu mengucapkan sesuatu yang mungkin terlalu lama kusimpan.

Makasih, Ciwo.

Makasih karena selama ini bukan hanya menjadi kakak, tetapi juga menjadi pelindung, tempat curhat, tempat mengadu, dan tempat pulang ketika hidup terasa berat. Makasih karena berkali-kali menjadi jawaban atas doa-doa yang bahkan belum sempat kupanjatkan. Makasih karena tidak pernah membuatku merasa kecil saat menerima bantuanmu.


Semoga Allah membalas semua kebaikanmu dengan kesehatan yang sempurna, umur yang penuh keberkahan, rezeki yang terus dilapangkan, keluarga yang selalu dalam lindungan-Nya, serta kebahagiaan yang tidak pernah putus.


Aku mungkin tidak akan pernah mampu membalas semua kebaikanmu. Tetapi aku percaya, Allah tidak pernah salah menghitung. Setiap tetes keringatmu, setiap perhatianmu, setiap bantuanmu kepada adikmu ini, pasti dicatat sebagai amal yang tak akan pernah sia-sia.

Dan selama aku masih diberi umur, namamu akan selalu hadir dalam doa-doaku.

Karena hari ini aku kembali belajar, tidak semua yang masuk ke rekening adalah uang.

Ada yang nilainya jauh lebih besar.

Yaitu kasih sayang seorang kakak.

Makasih, Ciwo.

 

Post a Comment

أحدث أقدم