Pintar Spasi, Gagap Substansi



Suatu ketika saya harus bermitra dengan seorang staf di sebuah organisasi pemerintah. Nama organisasinya tidak perlu disebut. Bukan karena kisahnya harus disembunyikan, tetapi karena yang menarik bukan siapa orangnya. Yang menarik justru kebiasaannya.


Dalam sebuah kegiatan, saya diminta membuat draft surat dinas. Saya kerjakan dengan serius. Bukan hanya memikirkan kalimatnya, tetapi juga substansinya. Sebab saya percaya, surat dinas bukan sekadar kumpulan kata yang ditata di atas kertas. Ada pesan, ada kepentingan, ada kebijakan, dan ada dampak di belakangnya. Surat boleh pendek, tetapi akibatnya bisa panjang.


Setelah selesai, draft saya serahkan untuk diasistensi. Saya berharap ada masukan. Mungkin ada substansi yang kurang tepat, ada kalimat yang perlu diperkuat, atau ada sudut pandang lain yang perlu dimasukkan. Namanya juga asistensi, saya kira yang diperiksa bukan hanya apakah surat itu rapi, tetapi apakah surat itu benar-benar memahami persoalan. Saya rupanya terlalu tinggi memasang harapan.


Draft itu kembali kepada saya.


Format diperbaiki. Spasi dirapikan. Tata letak disesuaikan. Saya baca lagi dari awal sampai akhir. Hampir semuanya masih sama. Substansi tidak disentuh. Bahkan titik dan koma pun tampaknya tidak dianggap sebagai persoalan. Yang berubah hanya wajahnya, bukan isinya.


Saya kemudian mendapat penjelasan bahwa substansinya tidak dipahami.


Saya terdiam.


Bukan karena marah. Justru karena bingung. Dalam hati saya bertanya, kalau substansinya tidak dipahami, lalu bagian mana yang sebenarnya sedang diasistensi?


Di situlah saya mulai merenung. Jangan-jangan—semoga saya keliru—kita sedang membangun budaya kerja yang lebih sibuk memperbaiki tampilan pekerjaan daripada kualitas pekerjaan.


Kita tahu bagaimana membuat surat terlihat resmi, tetapi belum tentu memahami apa yang ditulis. Kita tahu bagaimana membuat laporan tampak lengkap, tetapi belum tentu memahami persoalan yang dilaporkan. Kita tahu bagaimana menyusun bahan presentasi dengan banyak teori, tetapi ketika ditanya maknanya bagi masyarakat, jawabannya kadang hanya kembali kepada teori.


Kita hafal istilahnya, tetapi kehilangan isinya.


Yang lebih menarik, kemampuan berbicara kadang membuat seseorang terlihat sangat pintar. Kalimatnya panjang. Istilahnya banyak. Teorinya berlapis-lapis. Ruang rapat pun seakan menjadi panggung untuk menunjukkan siapa yang paling fasih.


Tetapi setelah rapat selesai, persoalannya tetap di tempat semula.


Rupanya fasih berbicara tidak selalu berarti paham persoalan.


Saya tidak mengatakan format tidak penting. Sangat penting. Surat harus rapi. Administrasi harus tertib. Spasi harus benar. Bahkan titik dan koma pun punya tempatnya.


Tetapi jangan sampai kita mengalami kekeliruan ukuran: yang seharusnya menjadi pelengkap justru dianggap sebagai inti.


Kita bisa menghabiskan waktu memperdebatkan ukuran huruf, tetapi tidak pernah serius membahas ukuran keberhasilan. Kita bisa sibuk merapikan kalimat, tetapi lupa memastikan apakah kebijakan yang lahir dari kalimat itu benar-benar menyelesaikan masalah.


Kita menjadi sangat teliti pada hal-hal yang mudah dilihat, tetapi kurang teliti pada hal-hal yang menentukan.


Dokumennya rapi, pikirannya belum tentu.


Padahal dalam pekerjaan pemerintahan, substansi jauh lebih penting daripada sekadar tampilan. Ada masyarakat yang akan menerima dampaknya. Ada program yang akan dilaksanakan. Ada keputusan yang akan diambil. Ada uang negara yang digunakan.


Semua itu tidak akan menjadi lebih baik hanya karena suratnya memiliki spasi yang sempurna.


Masalah di lapangan tidak pernah selesai hanya karena administrasinya terlihat sempurna.


Karena itu saya kira kita perlu mengembalikan makna asistensi. Asistensi bukan sekadar memeriksa apakah dokumen sudah sesuai format. Asistensi seharusnya menjadi ruang untuk menguji pikiran: apakah gagasannya benar, apakah datanya cukup, apakah kalimatnya tepat, dan apakah dampaknya sudah dipertimbangkan.


Sebab orang yang mengasistensi seharusnya bukan hanya menjadi penjaga format, tetapi juga penjaga mutu.


Dan kalau memang belum memahami substansi, tidak ada yang salah dengan mengatakan, “Saya belum paham.” Justru itu lebih jujur daripada terlihat menguasai sesuatu yang sebenarnya belum dimengerti.


Karena mengakui tidak tahu adalah awal dari belajar.


Yang berbahaya justru ketika seseorang tidak paham, tetapi merasa sudah paham hanya karena mampu berbicara.


Mungkin inilah pekerjaan rumah kita. Jangan sampai birokrasi menghasilkan terlalu banyak orang yang pintar menyusun kata, tetapi sedikit yang memahami makna; banyak yang hafal teori, tetapi sedikit yang mampu menerapkannya; banyak yang pandai memperbaiki format, tetapi sedikit yang berani menyentuh substansi.


Sebab pada akhirnya, masyarakat tidak membutuhkan surat yang sekadar rapi.

Masyarakat membutuhkan keputusan yang benar.

Dan kalau kita hanya sibuk memperbaiki spasi sementara substansi dibiarkan kosong, barangkali yang sedang kita rapikan bukan pekerjaan.

Kita hanya sedang merapikan kekosongan.

 


Post a Comment

أحدث أقدم