Di
negeri ini, pelatihan tumbuh subur. Hampir setiap bulan ada kegiatan yang
mengusung tema peningkatan kompetensi. Spanduknya megah, sertifikatnya
berwarna, dokumentasinya ramai di media sosial, bahkan anggarannya tidak
sedikit. Namun, semakin banyak pelatihan diselenggarakan, semakin sering pula
muncul pertanyaan sederhana: benarkah kompetensi pesertanya ikut meningkat,
atau yang bertambah hanya daftar riwayat pernah mengikuti pelatihan?
Kompetensi
bukan sekadar mengetahui sesuatu. Kompetensi adalah perpaduan utuh antara
pengetahuan (knowledge), sikap (attitude), dan keterampilan (skill).
Ketiganya bukan pilihan, melainkan syarat. Pengetahuan membuat seseorang
mengerti apa yang harus dilakukan, keterampilan membuatnya mampu melakukannya,
sedangkan sikap menentukan apakah kemampuan itu digunakan dengan benar.
Kehilangan satu saja, kompetensi tinggal nama tanpa makna.
Ironisnya,
masih banyak pelatihan yang mengaku membangun kompetensi, tetapi yang disentuh
hanya pengetahuan. Peserta duduk dari pagi hingga sore mendengarkan ceramah
demi ceramah, sesekali bertanya, lalu pulang membawa sertifikat. Praktik nyaris
tidak ada, simulasi sekadar pelengkap, sementara pembentukan sikap dianggap
selesai hanya karena peserta tampak tertib mengikuti acara. Kalau konsep
seperti ini terus dipertahankan, jangan heran bila peserta hafal isi modul,
tetapi tetap bingung ketika harus bekerja di lapangan. Sebab kompetensi tidak
pernah lahir hanya dari mendengar. Kalau mendengar sudah cukup membuat
seseorang kompeten, maka pengeras suara adalah peserta pelatihan terbaik.
Persoalan
lain yang tak kalah memprihatinkan adalah cara memilih fasilitator. Yang sering
dicari bukan orang yang paling menguasai materi, melainkan yang paling mudah
dihubungi atau kebetulan sedang tersedia. Akibatnya, kita menemukan orang mengajar
bidang yang tidak pernah ia tekuni. Ahli administrasi berbicara tentang
pekerjaan teknis, praktisi lapangan mengajar teori yang tidak ia kuasai, bahkan
bukan mustahil dosen agama diminta mengampu materi ekonomi hanya karena
jadwalnya kosong. Logika seperti ini tentu menggelikan. Sama seperti menunjuk
pelatih renang karena ia pandai menjelaskan teori air, padahal ia sendiri tidak
pernah turun ke kolam.
Padahal
pelatihan yang benar tidak pernah lahir dari persiapan yang asal jadi. Ia
membutuhkan perencanaan yang matang, durasi yang memadai, tempat belajar yang
representatif, alat tulis dan media praktik yang cukup, metode yang memberi
ruang peserta untuk mencoba, gagal, diperbaiki, lalu mencoba lagi. Yang paling
penting, fasilitator harus benar-benar menguasai bidangnya, bukan sekadar
pandai berbicara. Sebab keterampilan tidak menular melalui mikrofon, dan sikap
profesional tidak tumbuh dari slide presentasi. Keduanya hanya lahir dari
latihan yang berulang, pengalaman yang nyata, dan keteladanan yang hidup.
Barangkali
inilah sebabnya mengapa tidak sedikit pelatihan berakhir hanya sebagai kegiatan
seremonial. Laporannya selesai, anggarannya terserap, sertifikatnya dibagikan,
foto-fotonya memenuhi media sosial, tetapi perilaku kerja pesertanya nyaris
tidak berubah. Kita lebih sibuk menghitung jumlah peserta daripada mengukur
perubahan kompetensi. Lebih bangga pada banyaknya sertifikat daripada banyaknya
orang yang benar-benar mampu bekerja lebih baik. Akhirnya, pelatihan menjadi
rutinitas tahunan yang selalu diulang karena hasilnya tidak pernah benar-benar
terasa.
Sudah
saatnya kita jujur. Jika sebuah kegiatan hanya membuat orang mendengar tanpa
berlatih, hanya menghafal tanpa mencoba, dan hanya pulang membawa sertifikat
tanpa membawa kemampuan baru, maka mungkin yang salah bukan pesertanya. Mungkin
sejak awal yang kita selenggarakan memang bukan pelatihan. Hanya seminar yang
diberi nama pelatihan agar terdengar lebih bergengsi. Sebab kompetensi tidak
pernah lahir dari lamanya seseorang duduk di kursi. Kompetensi lahir dari
kepala yang diperkaya, tangan yang ditempa, dan karakter yang dibangun.
Selebihnya, hanyalah ilusi yang dicetak di atas selembar sertifikat.
إرسال تعليق