Bangun Dulu, Bingung Menghidupkannya Belakangan

 


Kita memang kadang punya kebiasaan yang unik dalam pembangunan: yang penting bangun dulu. Soal siapa yang mengoperasikan, bagaimana membiayai, siapa yang merawat, dan bagaimana memastikan masyarakat mendapatkan manfaatnya, itu bisa dipikirkan nanti. Setelah bangunan selesai, pita dipotong, foto bersama diambil, spanduk kegiatan diturunkan, barulah muncul pertanyaan yang sedikit terlambat: “Lalu, ini mau dihidupkan bagaimana?”


Dalam urusan sanitasi dan persampahan, persoalan ini tidak bisa dianggap sepele. Secara nasional, sampah yang terolah di fasilitas pengolahan baru sekitar 24 persen, sedangkan akses sanitasi aman mencapai sekitar 12,5 persen. Di Provinsi Lampung, capaian sampah terolah di fasilitas pengolahan juga sekitar 24 persen. Akses sanitasi layak sudah mencapai 85,44 persen, tetapi akses sanitasi aman baru sekitar 5 persen.


Angka-angka itu seharusnya cukup untuk membuat kita berhenti sejenak. Sebab antara sanitasi layak dan sanitasi aman, rupanya masih ada jarak yang cukup panjang. Kita boleh saja senang melihat angka akses meningkat, tetapi pekerjaan belum selesai apabila air limbah dan lumpur tinja belum dikelola dengan aman sampai ke hilir.


Sementara itu, target terus menunggu. Pemerintah melalui Peraturan Presiden Nomor 12 Tahun 2025 tentang RPJMN telah menetapkan target 30 persen akses sanitasi aman, 85 persen layanan pengumpulan sampah, dan 38 persen sampah terolah. Target tentu tidak akan bergerak hanya karena kita pandai membuat rencana. Apalagi jika setiap rapat selalu ditutup dengan kalimat, “perlu koordinasi lebih lanjut.”


Di Lampung, sebenarnya pembangunan infrastrukturnya tidak sepenuhnya buruk. Dari pembangunan sanitasi melalui program APBN periode 2015–2025, keberfungsian infrastruktur yang teridentifikasi mencapai sekitar 80 persen dari 10 infrastruktur yang dibangun, meliputi TPA, TPST, dan IPLT. Sementara melalui program Infrastruktur Berbasis Masyarakat, tingkat keberfungsian mencapai sekitar 95,44 persen dari 570 infrastruktur yang dibangun, seperti SPALD-T, SPALD-S, Sanitasi LPK, dan TPS3R.


Artinya, ketika masyarakat dilibatkan dan keberlanjutan dipikirkan bersama, peluang infrastruktur untuk tetap hidup justru cukup besar. Yang menjadi persoalan adalah ketika pembangunan dianggap selesai pada saat fisiknya berdiri.


Suatu ketika saya bersama beberapa kawan melakukan penggalian data ke sejumlah perangkat daerah di kabupaten. Kami berbicara dengan Dinas PU, Bappeda, Dinas Lingkungan Hidup, Bagian Organisasi, Bagian Hukum, hingga UPT yang menangani SPALD. Kami ingin mengetahui bagaimana keberfungsian, kebermanfaatan, dan keberlanjutan infrastruktur sanitasi benar-benar dijalankan.


Jawabannya menarik, meski tidak selalu menggembirakan. Sanitasi, menurut beberapa peserta, belum sepenuhnya menjadi isu penting di daerah. Belum tentu masuk dalam daftar prioritas utama. Dan kita tahu, ketika sebuah urusan belum menjadi perhatian pimpinan daerah, biasanya perhatian di bawahnya juga menjadi lebih hemat.


Maka lahirlah berbagai kondisi yang membuat kita mengelus dada. Ada IPLT yang sudah dibangun, tetapi bertahun-tahun belum difungsikan. Ada kelembagaan yang sudah memiliki dasar hukum, tetapi personelnya belum tersedia. Ada pula kelembagaan yang sudah terbentuk dan fasilitasnya sudah ada, tetapi upaya menjalankan layanan masih belum menunjukkan kesungguhan yang cukup, bahkan untuk mengejar target Pendapatan Asli Daerah.


Bangunannya ada. Aturannya ada. Kantornya mungkin ada. Tinggal semangat menjalankannya yang kadang harus dicari bersama-sama.


Di sinilah masalahnya. Kita sering menganggap pembangunan sebagai pekerjaan utama, padahal setelah pembangunan selesai justru pekerjaan yang sesungguhnya baru dimulai. Infrastruktur tidak bisa bekerja sendiri. IPLT tidak akan tiba-tiba menerima lumpur tinja hanya karena gedungnya sudah berdiri. TPS3R tidak akan otomatis mengolah sampah karena papan namanya sudah dipasang. Semua membutuhkan manusia, organisasi, anggaran operasional, pelanggan, tata kelola, dan tentu saja kemauan untuk bekerja.


Jangan sampai kita terlalu sibuk merencanakan bangunan baru, sementara yang sudah dibangun justru menunggu kepastian nasib. Jangan pula setiap persoalan keberlanjutan selalu dijawab dengan usulan pembangunan baru. Kadang yang dibutuhkan bukan tambahan bangunan, melainkan tambahan keseriusan.


Sanitasi memang bukan isu yang mudah dijadikan bahan kampanye. Tidak semua orang senang berbicara tentang air limbah, lumpur tinja, atau sampah. Tetapi ketika semuanya tidak dikelola, persoalannya akan datang kepada semua orang tanpa perlu undangan.


Karena itu, pembangunan sanitasi seharusnya tidak berhenti pada pertanyaan “berapa yang sudah dibangun?” Pertanyaan yang lebih penting adalah “berapa yang masih berfungsi, siapa yang dilayani, dan sampai kapan dapat terus berjalan?”


Sebab membangun itu penting. Tetapi memastikan yang dibangun tetap hidup jauh lebih penting.


Kalau tidak, kita akan terus mengulang kebiasaan lama: bangun dulu, bingung menghidupkannya belakangan.


Dan ketika akhirnya tidak berfungsi, jangan-jangan yang kita butuhkan bukan lagi pembangunan baru, melainkan keberanian untuk mengakui bahwa sejak awal, kita terlalu sibuk membangun sesuatu yang belum benar-benar siap kita jalankan.

 

Post a Comment

أحدث أقدم