Ada orang yang begitu sibuk menjaga
penampilan, tetapi lupa menjaga perilaku. Begitu sibuk membangun citra, tetapi
membiarkan wataknya runtuh perlahan. Demi gaya hidup, demi terlihat berada,
bahkan demi uang receh yang nilainya tidak seberapa, ia rela berbohong, memutar
cerita, dan menyembunyikan kebenaran. Padahal kalau dihitung dengan akal sehat,
apa yang diperoleh sering kali tidak sebanding dengan apa yang dipertaruhkan.
Sebab kebohongan itu seperti api
dalam sekam. Mula-mula kecil, tersembunyi, dan dianggap tidak berbahaya. Satu
cerita dipelintir sedikit, satu fakta disembunyikan, satu kesalahan dialihkan
kepada orang lain. Ketika berhasil, kita merasa aman. Bahkan mungkin merasa
pintar. Padahal sejak saat itu, kita sedang menanam sesuatu yang suatu hari
bisa menjadi mudarat bagi diri sendiri dan orang-orang di sekitar.
Menutupi kebohongan ibarat menyimpan
bangkai di dalam rumah. Pintu boleh ditutup rapat, pewangi boleh disemprotkan
berkali-kali, tetapi bangkai tetaplah bangkai. Lambat laun baunya akan tercium.
Begitu pula kebohongan. Ia mungkin bisa disembunyikan dari manusia untuk
sementara, tetapi waktu hampir selalu punya cara untuk membongkarnya.
Yang lebih berbahaya, kebohongan
jarang berjalan sendirian. Ia sering bergandengan dengan kelicikan, kepicikan,
sok pintar, cari muka, menjilat, dan berbagai cara untuk mendapatkan
keuntungan. Ketika seseorang tidak cukup percaya diri berdiri di atas
kebenaran, ia mulai mencari jalan lain agar tetap terlihat benar.
Di sinilah kita perlu berhenti dan
bertanya kepada diri sendiri: Saya
siapa? Hendak ke mana? Untuk apa semua yang sedang saya kejar?
Kalaupun hari ini kita merasa hebat,
sampai kapan kehebatan itu bertahan di alam dunia? Sampai kapan jabatan berada
di tangan? Sampai kapan uang bisa membeli penghormatan? Sampai kapan
orang-orang akan terus melihat kita seperti sekarang?
Semua ada batasnya.
Lalu demi apa kita berbohong? Demi
gaya hidup? Demi gengsi? Demi terlihat lebih kaya dari keadaan sebenarnya? Demi
uang receh yang bahkan mungkin habis dalam hitungan hari?
Sungguh, jika dipikir dengan kepala
dingin, pertukarannya tidak seimbang. Kita
mendapatkan sesuatu yang kecil, tetapi mempertaruhkan sesuatu yang jauh lebih
besar: kepercayaan.
Padahal kepercayaan adalah modal
yang tidak selalu terlihat, tetapi manfaatnya luar biasa. Orang yang dipercaya
lebih mudah diajak bekerja sama. Perkataannya didengar. Urusannya lebih mudah
dibicarakan. Ketika menghadapi kesulitan, orang masih bersedia berdiri di
sampingnya. Bahkan ketika ia tidak memiliki apa-apa untuk diberikan,
kepercayaan membuat orang tetap menghargainya.
Sebaliknya, sekali kepercayaan
rusak, banyak pintu bisa tertutup tanpa suara.
Orang mungkin masih tersenyum kepada
kita, masih berjabat tangan, masih duduk semeja. Tetapi dalam hati mereka
mungkin sudah menyimpan satu kalimat: “Saya
tidak lagi sepenuhnya percaya.” Dan kalimat seperti itu nilainya jauh
lebih mahal daripada uang receh yang pernah kita dapatkan dari sebuah
kebohongan.
Karena itu, sebelum mengejar gaya
hidup yang belum tentu membawa bahagia, sebelum mempertahankan gengsi yang
sebenarnya tidak perlu, dan sebelum menukar kejujuran dengan keuntungan kecil,
mari berhitung lebih jernih. Apa yang kita dapat? Apa yang kita kehilangan?
Apakah uang itu sepadan dengan rusaknya nama? Apakah gaya hidup itu sepadan
dengan hilangnya kepercayaan?
Dan yang paling penting: apakah kita tega membuat anak dan cucu kelak
ikut menanggung akibat dari pilihan kita hari ini?
Kita mungkin merasa sedang
memperjuangkan diri sendiri. Tetapi nama kita tidak berhenti pada diri kita. Ia
melekat pada keluarga. Anak-anak dan cucu kelak membawa nama yang sama. Jangan
sampai karena kesenangan sesaat, mereka harus menjawab pertanyaan tentang
perilaku yang sebenarnya tidak pernah mereka lakukan.
Harta bisa diwariskan. Rumah bisa
diwariskan. Tanah bisa diwariskan. Tetapi nama baik juga merupakan warisan. Dan
mungkin itulah warisan yang paling mahal, karena tidak bisa dibeli setelah
hilang.
Tidak ada manusia yang sempurna.
Kita semua pernah salah. Namun kesalahan yang diakui masih punya jalan untuk
diperbaiki. Yang berbahaya adalah ketika kesalahan dipertahankan dengan
kebohongan, lalu kebohongan dipertahankan dengan kebohongan berikutnya.
Maka sesekali, jangan hanya
bercermin untuk melihat wajah. Bercerminlah untuk melihat perjalanan hidup.
Saya
siapa? Hendak ke mana? Sampai kapan saya berada di dunia ini? Dan ketika saya
pergi, nama apa yang akan saya tinggalkan?
Sebab jabatan tidak ikut. Uang tidak
ikut. Gaya hidup tidak ikut. Tepuk tangan tidak ikut. Yang tersisa adalah jejak
dan cerita tentang bagaimana kita menjalani hidup.
Jangan sampai demi uang receh kita
kehilangan kepercayaan yang nilainya jauh lebih besar. Jangan sampai demi gaya
hidup kita kehilangan nama baik yang dibangun bertahun-tahun. Jangan sampai
demi terlihat hebat hari ini, anak dan cucu harus menanggung cerita yang tidak
pernah mereka buat.
Kita tidak
harus menjadi manusia paling hebat untuk dikenang dengan baik. Cukup menjadi
manusia yang bisa dipercaya. Karena kepercayaan mungkin tidak selalu membuat
kita kaya, tetapi ketika memilikinya, kita memiliki sesuatu yang jauh lebih
bernilai daripada sekadar uang.
Dan ketika kelak kita pergi, semoga
orang tidak berkata, “Ia pernah punya banyak.”
Semoga yang terdengar justru lebih
sederhana, tetapi jauh lebih dalam:
“Ia memang
tidak sempurna, tetapi ia orang yang bisa dipercaya.”
إرسال تعليق