Ada orang yang kalau bicara suaranya keras, sedikit-sedikit marah, mudah tersulut, dan kerap berperilaku seperti seorang jagoan. Seolah-olah dunia harus tunduk pada keberaniannya. Tetapi saya pernah menjumpai hal yang cukup menggelitik: ketika malam tiba dan suasana mulai sepi, keberanian itu seperti ikut menghilang. Untuk keluar sendirian saja takut, apalagi kalau sudah membayangkan hantu.
Saya lalu berpikir, apakah
orang yang mudah marah dan emosional berarti orang yang pemberani?
Menurut pandangan psikologi,
keduanya tidak otomatis sama. Marah adalah emosi yang wajar, tetapi mudah marah
bukan ukuran keberanian. Bahkan, kemarahan yang tidak terkendali lebih sering
menunjukkan kesulitan seseorang dalam mengelola emosinya. Sementara keberanian
bukan berarti tidak memiliki rasa takut. Penelitian tentang keberanian justru
menunjukkan bahwa seseorang dapat tetap merasa takut, tetapi memilih melakukan
sesuatu yang dianggap benar atau bernilai meskipun ada risiko.
Jadi, orang yang keras suara
belum tentu besar nyalinya. Orang yang mudah marah belum tentu pemberani.
Bahkan terkadang, kemarahan hanya menjadi semacam "baju besi" untuk
menutupi rasa tidak aman di dalam dirinya. Saya tentu tidak sedang mengatakan
semua orang yang emosional seperti itu. Tetapi dari beberapa kejadian yang saya
lihat, ada saja orang yang tampak sangat garang ketika berhadapan dengan manusia,
tetapi tiba-tiba menjadi sangat kecil ketika berhadapan dengan ketakutannya
sendiri.
Bagi saya, keberanian justru
terlihat ketika seseorang mampu mengendalikan dirinya. Berani bukan berarti
selalu melawan. Berani juga bukan berarti harus membentak. Dan keberanian tidak
perlu dipamerkan setiap saat. Ada kalanya keberanian justru hadir dalam bentuk
yang sederhana: tetap jujur ketika berbohong lebih menguntungkan, tetap
menyampaikan fakta ketika orang lain menghendaki pujian, dan tetap mengatakan
benar sebagai benar meskipun kita tahu ada risiko yang harus ditanggung.
Lebih dari itu, bagi seorang
yang beriman, keberanian semestinya mempunyai arah. Bukan sekadar berani
menghadapi manusia, tetapi berani memperjuangkan kebenaran yang bersumber dari
Allah SWT. Sebab kalau keberanian hanya digunakan untuk menunjukkan siapa yang
paling kuat, itu bukan keberanian yang saya maksud. Itu bisa saja hanya ego
yang sedang mencari panggung.
Saya justru lebih menghargai
orang yang suaranya tenang tetapi pendiriannya kuat, daripada orang yang
suaranya menggelegar tetapi pendiriannya berubah ketika kepentingannya
disentuh. Yang pertama mungkin tidak terlihat seperti jagoan, tetapi ketika
kebenaran dipertaruhkan, ia tidak mudah mundur.
Sebab pada akhirnya, ukuran
keberanian bukan seberapa banyak orang yang takut kepada kita. Ukuran
keberanian adalah seberapa kuat kita mampu melawan rasa takut dalam diri
sendiri untuk tetap berada di jalan yang benar.
Maka saya tidak terlalu kagum
kepada orang yang sedikit-sedikit marah dan merasa dirinya paling pemberani.
Saya lebih percaya kepada orang yang mampu menahan amarah, mengendalikan
dirinya, lalu berdiri tegak ketika kebenaran membutuhkan keberpihakan.
Karena keras suara belum tentu besar nyali. Dan
berani melawan belum tentu berani membela kebenaran.
Barangkali keberanian yang
sesungguhnya adalah ketika kita berani kehilangan sesuatu di dunia, tetapi
tidak berani kehilangan kebenaran yang diridai Allah.
إرسال تعليق