Investasi Agar Aman, Bukan Agar Rakyat Sejahtera

 


Suatu ketika saya mendengar dua kawan sedang berbincang. Topiknya sederhana, tetapi cukup membuat saya berpikir: tentang investasi pemerintah daerah. Menurut mereka, ada perbedaan antara investasi yang sesungguhnya dengan “investasi” yang dilakukan oleh oknum kepala daerah melalui kebijakan pemerintah daerah.


Investasi yang sesungguhnya tentu menanamkan modal, baik berupa uang maupun barang, dengan harapan menghasilkan manfaat ekonomi, membuka peluang usaha, meningkatkan pendapatan, dan pada akhirnya membuat masyarakat lebih sejahtera. Tetapi ada juga investasi dengan tujuan yang berbeda: bukan bagaimana daerah menghasilkan sesuatu, melainkan bagaimana kekuasaan meninggalkan rasa aman bagi orang yang pernah memegangnya.


Saya tidak tahu apakah istilah itu benar secara teori. Tetapi kalau kita melihat praktik di lapangan, kadang memang muncul kebijakan yang membuat kita bertanya-tanya.


Orang yang dianggap terlalu kritis tiba-tiba diajak menjadi tenaga ahli atau tenaga pendukung. Ada yang ditempatkan di sekitar kepala daerah, ada pula yang kemudian muncul di lingkungan perangkat daerah. Organisasi masyarakat diberi bantuan. Sebagian orang yang mengaku sebagai wartawan mendapat honor rutin. Lembaga tertentu memperoleh bantuan kendaraan atau dukungan operasional. Bahkan ada pembangunan gedung dengan anggaran besar untuk lembaga vertikal.


Sekali lagi, semua itu belum tentu salah. Sepanjang memiliki dasar hukum, prosedur yang benar, kebutuhan yang jelas, dan manfaat untuk masyarakat, tentu tidak ada persoalan. Yang menjadi persoalan adalah ketika fasilitas dan anggaran publik mulai dipersepsikan sebagai alat untuk membangun kedekatan, mengurangi kritik, atau mengamankan kepentingan tertentu.


Di sinilah menurut saya letak persoalannya.


Pemerintah daerah seharusnya tidak sibuk menghitung berapa banyak orang yang bisa dibuat senang. Pemerintah justru harus sibuk menghitung berapa banyak masalah masyarakat yang berhasil diselesaikan.


Sebab jabatan kepala daerah bukanlah jabatan untuk mengumpulkan orang yang selalu berkata “iya”. Justru pemerintah membutuhkan orang yang berani mengatakan “tidak” ketika sebuah kebijakan memang perlu dikoreksi.


Kritik tidak selalu berarti permusuhan. Wartawan tidak harus menjadi penggemar pemerintah. Organisasi masyarakat tidak harus selalu berada di barisan pendukung. Bahkan aparat dan lembaga yang berada di luar pemerintah daerah tidak perlu diperlakukan sebagai pihak yang harus selalu dibuat nyaman.


Demokrasi dan pemerintahan yang sehat justru membutuhkan jarak yang wajar, kritik yang objektif, serta pengawasan yang berjalan.


Kalau semua pihak dibuat nyaman dengan fasilitas pemerintah, siapa yang tersisa untuk mengingatkan ketika kebijakan mulai keluar jalur?


Yang lebih penting lagi, uang daerah seharusnya menghasilkan sesuatu yang bisa dirasakan rakyat. Jalan yang baik, pelayanan yang semakin mudah, ekonomi yang tumbuh, lapangan pekerjaan, usaha masyarakat yang berkembang, serta aset daerah yang benar-benar produktif.


Bukan sekadar banyak kegiatan, banyak bantuan, banyak fasilitas, lalu setelah semuanya selesai rakyat tetap bertanya: “Apa manfaatnya bagi kami?”


Menurut saya, ukuran keberhasilan pemerintah tidak terletak pada berapa banyak orang yang dekat dengan penguasa. Bukan pula berapa banyak pihak yang merasa nyaman selama masa jabatan.


Ukuran sederhananya adalah: apakah kehidupan masyarakat menjadi lebih baik?


Sebab pada akhirnya jabatan akan selesai. Anggaran akan berganti tahun. Gedung akan berdiri. Kendaraan akan berpindah tangan. Orang-orang yang dahulu dekat bisa saja kemudian menjauh.


Tetapi rakyat tetap tinggal di daerah itu.


Karena itu, kalau investasi pemerintah tidak diarahkan untuk memperkuat ekonomi dan kemandirian rakyat, mungkin yang sedang dibangun bukan masa depan daerah, melainkan sekadar kenyamanan sesaat.


Dan seperti kata kawan saya dalam obrolan itu, investasi yang paling mahal sebenarnya bukanlah investasi yang nilainya besar.


Investasi yang paling mahal adalah ketika uang rakyat dikeluarkan, tetapi rakyat tidak ikut tumbuh.


Kalau itu yang terjadi, kita tidak sedang menanam kesejahteraan.


Kita hanya sedang menanam sesuatu yang suatu hari bisa tumbuh menjadi persoalan.

 

Post a Comment

أحدث أقدم