Pemimpin
idealnya hadir bukan sekadar untuk membuat kebijakan, tetapi menghadirkan kebijaksanaan di balik setiap kebijakan.
Sebab kebijakan tanpa kebijaksanaan terkadang hanya menjadi keputusan yang
kebetulan memiliki kekuasaan di belakangnya. Seorang pemimpin semestinya
memahami bahwa setiap keputusan menyangkut kehidupan banyak orang. Karena itu,
sebelum memerintah ia perlu belajar memahami, sebelum mengarahkan ia harus
belajar mendengar, dan sebelum meminta orang lain berkorban ia semestinya tahu
lebih dahulu bagaimana rasanya berkorban.
Masalahnya,
kita semakin sering melihat pemimpin yang lahir dari situasi serba instan.
Dipilih karena popularitas, naik karena kedekatan, atau melesat dalam jenjang
karier tanpa cukup waktu untuk ditempa pengalaman. Memimpin pun dilakukan
secara instan: cukup dengan instruksi, disposisi, rapat, dan perintah.
Seolah-olah menjadi pemimpin cukup dengan memiliki kewenangan untuk mengatakan,
“Laksanakan!” Padahal memimpin manusia tidak sesederhana memindahkan
berkas dari satu meja ke meja lainnya.
Yang
lebih menarik, kehidupan yang serba instan itu kadang juga melahirkan cara
berpikir yang serba instan. Jabatan baru diperoleh, keinginan untuk menikmati
fasilitas sudah muncul. Kewenangan baru melekat, manfaat pribadi sudah mulai
dihitung. Belum selesai memahami persoalan masyarakat, sudah sibuk memikirkan
bagaimana jabatan dapat memberikan keuntungan. Jabatan yang seharusnya menjadi
amanah perlahan diperlakukan seperti kesempatan.
Padahal
kebijaksanaan tidak pernah lahir dalam sehari. Orang bisa mendapatkan jabatan
dalam sehari, tetapi tidak mungkin memperoleh kematangan dalam sehari. Jabatan
dapat diberikan melalui keputusan politik atau administratif, tetapi kemampuan
memahami manusia, membaca keadaan, mengendalikan diri, dan
mempertanggungjawabkan keputusan hanya dapat dibentuk oleh proses panjang.
Barangkali
karena proses itulah pemimpin yang matang tidak terlalu takut pada perbedaan.
Ia justru membutuhkan orang-orang yang berani berkata, “Ada cara lain.”
Sebab ia sadar bahwa seorang pemimpin tidak mungkin mengetahui segala sesuatu.
Ia memerlukan orang lain untuk menguji pikirannya, mengoreksi keputusannya,
bahkan sesekali menunjukkan bahwa ada sesuatu yang mungkin luput dari
pandangannya.
Tetapi
dalam dunia kerja yang dipimpin secara instan, demokrasi sering kali berhenti
sebagai istilah yang indah di atas kertas. Perbedaan pendapat dianggap perlawanan. Kritik dianggap pembangkangan.
Pertanyaan dianggap ketidakpatuhan.
Padahal,
bisa jadi masalahnya bukan karena pemimpin tersebut benar-benar yakin bahwa
dirinya selalu benar. Bisa jadi justru karena ia belum cukup memahami apa yang
sedang dan akan dilakukannya. Maka ketika ada orang yang bertanya, ia merasa
sedang dipertanyakan. Ketika ada yang berbeda pendapat, ia merasa sedang
dilawan. Ketika ada yang menawarkan alternatif, ia merasa kewenangannya sedang
diganggu.
Di
sinilah kita sering keliru memahami arti kepemimpinan. Pemimpin bukanlah orang
yang harus selalu benar. Pemimpin adalah orang yang bersedia memastikan keputusan yang diambil mendekati kebenaran.
Demokrasi
dalam organisasi juga bukan berarti setiap orang bebas melakukan apa saja.
Demokrasi berarti ada ruang untuk berpikir, bertanya, menyampaikan kritik,
menguji gagasan, dan menawarkan alternatif sebelum keputusan ditetapkan.
Setelah keputusan dibuat, seluruh unsur organisasi bergerak dalam satu arah.
Tetapi sebelum keputusan lahir, pikiran
tidak boleh dipaksa seragam.
Sayangnya,
pemimpin instan sering menginginkan keseragaman sebelum proses berpikir
selesai. Rapat yang seharusnya menjadi tempat menguji gagasan berubah menjadi
tempat mencari pembenaran. Orang datang membawa pendapat, tetapi pulang membawa
pendapat atasannya. Yang paling sering mengatakan “iya” dianggap paling
loyal, sementara orang yang mencoba mengatakan “sebaiknya kita pertimbangkan
lagi” justru harus belajar menghitung risiko.
Padahal
birokrasi kita sebenarnya tidak kekurangan orang pintar. Banyak di dalamnya
orang-orang yang menempuh pendidikan di universitas-universitas terbaik, bahkan
dari jajaran perguruan tinggi yang masuk sepuluh besar di Indonesia. Mereka
semestinya menjadi motor perubahan, pendobrak kebiasaan lama, pembawa gagasan
baru, dan penggerak inovasi di bidangnya.
Namun
apa jadinya ketika orang-orang dengan kapasitas seperti itu tumbuh di bawah
kepemimpinan yang tidak memberi ruang bagi perbedaan?
Mereka
perlahan belajar diam.
Bukan
karena mereka tidak mampu. Bukan karena mereka tidak punya gagasan. Dan bukan
karena ilmu yang mereka dapatkan di kampus tiba-tiba hilang. Mereka hanya
belajar bahwa terlalu kritis bisa menimbulkan persoalan, terlalu banyak
menawarkan gagasan bisa dianggap sok tahu, dan terlalu sering berbeda pendapat
bisa dibaca sebagai ketidakloyalan.
Akhirnya,
orang yang seharusnya menjadi pendobrak berubah menjadi penunggu instruksi.
Orang yang seharusnya menawarkan solusi memilih menunggu perintah. Orang yang
seharusnya menggunakan ilmunya untuk memperbaiki keadaan justru sibuk
menyesuaikan diri dengan keadaan.
Syukur-syukur mereka tidak mengalami alienasi, karena setiap hari harus berhadapan dengan pertentangan
antara idealisme yang dipelajari dengan kenyataan yang harus dijalani. Sebab
terlalu lama hidup dalam pertentangan antara apa yang diyakini benar dengan apa
yang dianggap aman untuk dilakukan dapat membuat seseorang kehilangan
keberanian untuk memperjuangkan apa yang diyakininya.
Pada
akhirnya, ia mungkin tidak lagi bertanya, “Apa yang paling benar untuk
organisasi dan masyarakat?”
Ia
mulai bertanya, “Atasan maunya apa?”
Dan
ketika pertanyaan terakhir itu menjadi kompas utama dalam sebuah organisasi,
sesungguhnya yang sedang hilang bukan hanya demokrasi, tetapi juga keberanian
untuk berpikir.
Di
sinilah bahaya kepemimpinan instan. Ia tidak hanya berpotensi menghasilkan
kebijakan yang tergesa-gesa, tetapi juga dapat membentuk budaya kerja yang
membuat orang lebih sibuk menjaga posisi daripada memperbaiki keadaan. Bawahan
akhirnya belajar bahwa keselamatan karier lebih penting daripada menyampaikan
kebenaran.
Dari
sana pula loyalitas bisa mengalami pergeseran. Orang tidak lagi belajar setia
kepada nilai, organisasi, dan kepentingan masyarakat. Mereka belajar setia
kepada siapa yang sedang memiliki kewenangan. Hari ini mungkin sangat patuh
kepada pemimpin A, besok bisa sangat patuh kepada pemimpin B. Bukan karena
manusia itu sejak awal tidak memiliki prinsip, tetapi karena lingkungan telah
mengajarkan bahwa bertahan lebih
penting daripada berbeda.
Maka
jangan heran jika pemimpin yang alergi terhadap kritik pada akhirnya
dikelilingi orang-orang yang selalu berkata “iya”. Ia mungkin merasa
telah berhasil membangun tim yang solid, padahal bisa jadi ia hanya sedang
membangun ruangan yang gema suaranya selalu kembali dalam bentuk persetujuan.
Di
ruangan seperti itu, pemimpin tidak lagi mendapatkan informasi yang utuh. Ia
hanya mendapatkan informasi yang dianggap aman untuk sampai kepadanya.
Dan
ketika seorang pemimpin hanya mendengar apa yang ingin didengarnya, keputusan
yang salah tidak lagi terdengar sebagai kesalahan. Ia terdengar seperti
keberhasilan yang belum sempat dipahami.
Karena
itu, seorang pemimpin sesungguhnya tidak perlu takut pada orang yang berbeda
pendapat. Yang perlu ditakuti justru ketika tidak ada lagi orang yang berani
berbeda pendapat.
Sebab
perbedaan bukan selalu tanda
perlawanan. Kadang-kadang ia adalah tanda bahwa masih ada orang yang peduli.
Dan
mungkin kalimat sederhana ini perlu terus diingat oleh siapa pun yang sedang
memegang kekuasaan: jika setiap orang
yang berbeda dianggap melawan, jangan-jangan persoalannya bukan pada mereka
yang berbeda, tetapi pada kita yang belum cukup memahami.
Jabatan
memang bisa diperoleh secara instan. Kekuasaan juga bisa datang secara
tiba-tiba.
Tetapi
kebijaksanaan tidak pernah lahir secara instan.
Pemimpin yang baik mencetak penerus. Pemimpin yang
bijaksana mencetak manusia-manusia yang berani berpikir. Sedangkan pemimpin
yang takut pada perbedaan, tanpa sadar sedang mencetak orang-orang pintar yang
belajar diam.
Post a Comment