Ada
orang yang sangat pandai menjelaskan pemberdayaan, tetapi belum tentu pandai
memberdayakan. Ada yang hafal berbagai metode fasilitasi, tetapi gagap ketika
berhadapan dengan manusia yang berbeda pendapat. Ada pula yang rajin
mengajarkan masyarakat agar percaya diri, tetapi dirinya sendiri sulit menerima
nasihat. Ironisnya, semua itu kadang terjadi pada orang-orang yang menyebut
dirinya fasilitator. Padahal fasilitator bukanlah panggung untuk menunjukkan
siapa yang paling pintar, paling senior, atau paling berpengalaman. Fasilitator
seharusnya memfasilitasi, bukan
mendominasi.
Kita
masih bisa menemukan fasilitator yang datang dengan ilmu penuh di kepala,
tetapi hati kurang lapang. Ketika masyarakat berbicara, ia sibuk mencari
kesalahan; ketika rekan memberi masukan, ia sibuk mencari alasan; ketika
dikritik, ia merasa sedang diserang. Nasihat dianggap ancaman, perbedaan
pendapat dianggap pembangkangan, sementara kritik dianggap tanda orang lain
tidak memahami dirinya. Padahal, boleh jadi persoalannya bukan orang lain yang
tidak memahami kita. Boleh jadi kitalah
yang terlalu sibuk merasa sudah memahami semua orang. Ilmu memang
penting, tetapi ilmu tanpa kerendahan hati bisa menjadi tembok. Pengalaman
tanpa kepekaan bisa berubah menjadi kesombongan.
Masyarakat
bukan murid yang datang untuk mendengarkan ceramah. Mereka adalah manusia yang
membawa pengalaman hidupnya sendiri. Mereka mungkin tidak mengenal istilah capacity
building, tidak memiliki sertifikat pelatihan, dan tidak terbiasa dengan
bahasa akademik, tetapi mereka memiliki pengalaman menghadapi kehidupan yang
belum tentu kita miliki. Karena itu, fasilitator seharusnya tidak datang dengan
pikiran, “Saya akan mengajari mereka,”
melainkan, “Mari kita belajar bersama.”
Di sinilah hati yang lembut menjadi penting. Carl Rogers, melalui pendekatan person-centered,
menekankan pentingnya empati, penerimaan, dan keaslian dalam hubungan yang
membantu. Orang lebih mudah berkembang ketika merasa dihargai, dipahami, dan
diterima.
Islam
pun telah memberikan pelajaran yang sangat indah. Dalam QS. Ali Imran ayat 159,
Allah menggambarkan kelembutan Nabi Muhammad SAW dalam memperlakukan orang-orang di
sekitarnya dan mengingatkan bahwa jika beliau bersikap keras dan berhati kasar,
niscaya mereka akan menjauh. Rasulullah juga mengajarkan bahwa Allah mencintai kelembutan. Pesannya
sederhana: kekerasan hati menciptakan
jarak,
kelembutan hati mendekatkan manusia. Bukankah pekerjaan fasilitator justru membangun kedekatan
dan kepercayaan? Maka ketika masyarakat lebih nyaman berbicara kepada sesama
warga daripada kepada fasilitatornya, jangan buru-buru mengatakan masyarakat
sulit diajak terbuka. Mungkin cara kita
mendekat yang perlu diperbaiki.
Jangan
sampai kita terlalu sibuk membuat masyarakat berdaya, tetapi kehadiran kita
justru membuat mereka merasa tidak berdaya. Jangan berbicara tentang
partisipasi jika pendapat yang berbeda selalu dianggap salah. Jangan
mengajarkan keterbukaan jika telinga hanya terbuka untuk pujian. Dan jangan
meminta masyarakat menerima perubahan sementara diri sendiri alergi terhadap
nasihat. Fasilitator bukan manusia sempurna. Ia boleh salah, boleh tidak tahu,
boleh menerima kritik, dan bahkan harus mau belajar dari masyarakat yang
didampinginya. Kemampuan mengatakan “Saya
keliru” kadang jauh lebih berharga daripada kemampuan menjelaskan
seratus teori pemberdayaan.
Pada
akhirnya, keberhasilan fasilitator bukan diukur dari seberapa banyak masyarakat
mengangguk ketika ia berbicara. Mereka bisa saja mengangguk karena sungkan atau
sekadar ingin pertemuan segera selesai. Ukuran yang lebih jujur adalah: setelah fasilitator pergi, apakah masyarakat
menjadi lebih percaya diri untuk berjalan sendiri? Pemberdayaan bukan
membuat masyarakat terus membutuhkan kita, tetapi menumbuhkan kemampuan hingga
mereka mampu melanjutkan perjalanan tanpa kita. Ketika suatu hari mereka
berkata, “Terima kasih sudah
mendampingi, sekarang kami bisa melanjutkan sendiri,” di situlah
fasilitator boleh tersenyum. Bukan karena dirinya menjadi penting, tetapi
karena berhasil membuat orang lain merasa penting.
Maka
sebelum membawa ilmu ke tengah masyarakat, bawalah terlebih dahulu hati yang lembut. Ilmu membuat kita
tahu bagaimana mendampingi, tetapi hati yang lembut membuat orang lain bersedia
didampingi. Sebab pada akhirnya, masyarakat mungkin lupa apa yang kita
sampaikan, tetapi mereka akan mengingat bagaimana kita memperlakukan mereka. Fasilitator yang baik bukan yang membuat
dirinya terlihat hebat, melainkan yang membuat orang lain merasa berharga.
إرسال تعليق