Ada
manusia yang begitu teguh memegang prinsip, sampai keteguhannya berubah menjadi
kesombongan. Begitu yakin dirinya benar, sampai merasa berhak menentukan nasib
orang lain. Lalu keluarlah kalimat, “Kalau
bukan karena saya, kamu mungkin sudah miskin, bahkan mungkin sudah mati.”
Sejak kapan manusia mendapat surat kuasa dari Allah untuk mengatur rezeki dan
umur sesamanya?
Menolong
itu mulia. Memberi pekerjaan itu kebaikan. Membuka peluang itu amal. Tetapi
jangan karena pernah menjadi jalan, lalu
merasa menjadi sumber. Allah SWT
berfirman, “Sungguh, Allah,
Dialah Pemberi rezeki yang mempunyai kekuatan lagi sangat kokoh.”
(QS. Adz-Dzariyat: 58). Maka pada hakikatnya, apa pun yang diterima seseorang
adalah rezeki dari Allah. Jika rezeki itu sampai melalui tangan kita, kita
hanya jalannya. Bukan sumbernya, apalagi
pemiliknya. Pipa tidak pernah menjadi mata air hanya karena air
mengalir melaluinya.
Karena
itu, kalimat “Rezekimu
karena saya” sebenarnya terlalu tinggi untuk ukuran manusia. Yang
lebih pantas adalah, “Allah menjadikan saya sebagai
jalan rezekimu.” Jabatan adalah rezeki. Kekuasaan adalah
rezeki. Usaha yang berjalan adalah rezeki. Bahkan kesempatan menolong orang
lain pun rezeki. Lalu bagaimana mungkin seseorang menerima begitu banyak rezeki
dari Allah, tetapi kemudian berdiri dengan dada membusung sambil berkata, “Rezekimu ada di tangan saya.”
Baru menjadi pintu, sudah merasa pemilik rumah.
Lebih
menyedihkan ketika jasa dijadikan senjata: “Kalau
bukan saya, kamu tidak akan jadi apa-apa.” Seolah-olah sebelum
mengenalnya, orang itu tidak pernah mendapat rezeki dari Allah. Padahal
Rasulullah SAW mengingatkan bahwa seseorang tidak akan meninggal sampai
rezekinya disempurnakan. Maka jangan merasa satu pintu yang kita tutup berarti
kehidupan seseorang ikut tertutup. Manusia bisa menutup satu pintu,
tetapi Allah tidak pernah kehabisan jalan.
Di
sinilah manusia harus tahu batas. Kita boleh memimpin, tetapi bukan menguasai
takdir. Kita boleh memberi pekerjaan, tetapi bukan memiliki kehidupan orang
lain. Kita boleh menegakkan aturan, tetapi bukan mengambil hak Tuhan. Bahkan
hakim ketika menjatuhkan vonis menjalankan amanah hukum, bukan menjadi Tuhan.
Sebab manusia memiliki kewenangan, tetapi tidak memiliki kemutlakan. Harta,
jabatan, kekuasaan, keputusan, dan semua amanah akan dimintai
pertanggungjawaban di hadapan Allah.
Maka
semakin besar kemampuan kita memberi, seharusnya semakin rendah hati kita
sebagai hamba. Tidak perlu mengungkit, mengancam, apalagi berkata, “Kamu hidup karena saya.”
Sebab yang menentukan hidup bukan kita, yang menentukan rezeki bukan kita, dan
yang menentukan umur bukan kita. Kita hanya sebuah jalan.
Allah-lah yang menentukan.
Barangkali
itulah yang sering lupa kita pahami: tangan yang memberi bukan berarti
tangan yang memiliki. Kita hanya diperkenankan menjadi
perantara atas sesuatu yang sejak awal bukan milik kita. Hari ini kita menjadi
jalan rezeki seseorang, besok boleh jadi orang lain menjadi jalan rezeki kita.
Jadi,
jangan terlalu tinggi hati karena pernah menjadi jalan. Jangan pula terlalu
rendah hati sampai merasa tidak berarti ketika jalan itu berganti. Sebab yang
penting bukan siapa yang menjadi jalannya, tetapi siapa yang mengatur sampai atau tidaknya rezeki itu.
Kita hanya sebuah jalan.
Allah adalah sumber segala rezeki.
Dan
ketika semua jabatan, harta, kuasa, serta jasa akhirnya kita tinggalkan, yang
akan ditanyakan bukan berapa banyak orang yang pernah tunduk kepada kita,
tetapi bagaimana kita mempertanggungjawabkan amanah yang
pernah Allah titipkan melalui tangan kita.
إرسال تعليق