Kami datang
dari arah yang berbeda.
Nama-nama
yang asing.
Latar yang
tak saling tahu.
Sebelum
program Gerbang Desa Saburai mempertemukan kami, tak ada sejarah, tak ada
hubungan, bahkan sekadar sapa pun belum pernah singgah. Kami hanyalah
orang-orang biasa yang berjalan di garis hidup masing-masing, tanpa pernah
menyangka akan dipertautkan oleh sebuah kerja sunyi bernama pengabdian.
Pertemuan
itu mula-mula bersifat administratif. Ada mandat, ada target, ada tanggung
jawab yang harus ditunaikan. Namun pelan-pelan, di luar dugaan kami sendiri,
ruang-ruang resmi itu berubah menjadi ruang kemanusiaan. Evaluasi bulanan tak
lagi sekadar laporan capaian, melainkan tempat kami saling bercerita tentang
kendala di desa, tentang rencana yang patah di lapangan, tentang lelah yang tak
selalu sempat diucapkan.
Kami duduk
melingkar, saling mendengar, lalu urun rembuk. Bukan untuk mencari siapa paling
benar, melainkan bagaimana masalah bisa diurai bersama. Bukan untuk menonjolkan
diri, tetapi untuk saling menjaga agar tak ada yang tertinggal.
Tak ada
anggaran khusus yang menunggu kami di meja. Yang ada hanyalah kesepakatan
sederhana: menyisihkan uang pribadi. Sekadar untuk snack, segelas teh atau
kopi, dan kadang makan siang bila agenda terlalu padat. Nilainya mungkin kecil,
nyaris tak layak dicatat. Namun dari sanalah kepercayaan tumbuh—pelan, tanpa
aba-aba.
Di tengah
kesederhanaan itulah kami menemukan makna persahabatan. Program ini mengajarkan
kami bahwa pendampingan bukan soal proyek, melainkan soal pertautan manusia.
Tentang hadir dengan niat baik, bekerja dengan hati, dan pulang dengan rasa
saling memiliki. Maka lahirlah sebuah kalimat yang kami rawat bersama, bukan
sebagai slogan, melainkan sebagai ikrar batin: di sini kami bersahabat lebih
dari saudara.
Waktu berjalan.
Program Gerbang Desa Saburai akhirnya usai. Ia selesai secara administratif,
ditutup oleh laporan, dirapikan oleh arsip. Namun perjumpaan kami rupanya tidak
benar-benar berakhir. Ia berpindah ruang, ke sebuah grup WhatsApp yang kini
lebih senyap, lebih jarang bersuara.
Sebelas
tahun berlalu, dan rindu itu tetap memilih tinggal.
Bukan rindu
pada piagam penghargaan, bukan pula pada pengakuan sebagai program inovasi dari
kementerian. Yang kami rindukan adalah pola kebersamaan—cara kami belajar menjadi
manusia di hadapan manusia lain.
Di sanalah
kami pernah mempraktikkan Pi’il Pesenggiri tanpa banyak bicara.
Menghidupi
Nemui Nyimah dengan saling menerima.
Menjalani
Nengah Nyappur dengan berani berada di tengah.
Menjaga
Bejuluk Buadok lewat laku, bukan gelar.
Dan merawat
Sakai Sambayan dengan saling menopang tanpa hitung-hitungan.
Semua itu
memang tercantum dalam Petunjuk Teknis Operasional (PTO) Program Gerbang Desa
Saburai. Namun ia berhenti sebagai arah, bukan sebagai cara. Yang tak pernah
dituliskan secara teknis adalah bagaimana nilai-nilai itu dijalankan: melalui
atmosfer kebersamaan dan pengalaman-pengalaman lama yang kami bawa. Dari
sanalah tumbuh kebiasaan kecil—patungan snack, berbagi cerita gagal, menertawakan
lelah—hingga kami pulang dengan hati yang lebih lapang dan rasa memiliki pada
Lampung. Barangkali karena itulah ikatan ini bertahan, bahkan ketika programnya
telah usai.
Barangkali
tak berlebihan bila pengalaman itu disimpan sebagai rujukan senyap: sebuah cara
bekerja yang pernah hidup, dan karenanya layak diingat ketika perbincangan
tentang pemberdayaan meluas melampaui batas daerah, menuju cakrawala yang lebih
jauh.
Pada arah
yang tak perlu disebut, rindu ini kami letakkan. Rindu pada ikhtiar yang
membuat nilai-nilai ulun Lampung tak berhenti sebagai tulisan, melainkan hidup
perlahan dalam keseharian—di tanah yang kami sebut rumah, Sai Bumi Ruwa Jurai.
Itulah rindu
kami.
Tak
menuntut, hanya berharap.
Post a Comment