Menilai Program, Bukan Membela Orang



Saya selalu curiga pada diskusi program yang terlalu cepat panas. Biasanya, yang dipertahankan bukan lagi isinya, melainkan orang-orang di belakangnya. Padahal sejak awal saya belajar satu hal sederhana: program seharusnya dinilai, bukan dibela. Karena ketika pembelaan sudah mendahului penilaian, kejujuran biasanya memilih pergi.

 

Dalam banyak diskusi, saya melihat perdebatan bergeser arah. Dokumen dasar dibacakan, konsep dikutip, dan istilah teknis dilontarkan dengan percaya diri. Namun cara program dijalankan dan apa yang benar-benar terjadi di lapangan justru jarang dibicarakan. Seolah kebenaran cukup selesai di ruang rapat, tanpa perlu diuji di kehidupan masyarakat.

 

Saya pernah menyaksikan satu fase dalam dunia pemberdayaan masyarakat yang memberi pelajaran pahit. Sebuah program lama dinilai gagal, bukan karena dibaca secara utuh, melainkan karena dibandingkan secara tidak adil. Konsep baru yang belum pernah dijalankan dipertentangkan dengan potongan kejadian lapangan dari program lama—kejadian yang tidak sepenuhnya mewakili keseluruhan kerja dan ruhnya.

 

Di lapangan, saya melihat kenyataan yang berbeda dari narasi rapat. Ada warga yang mulai berani bermusyawarah tanpa menunggu perintah. Ada kebiasaan kolektif yang tumbuh, meski tidak rapi dan tidak selalu sesuai buku panduan. Ada kepercayaan yang perlahan terbangun antara masyarakat dan pendamping. Semua itu luput dari penilaian, seolah tidak pernah ada.

 

Ketika program lama benar-benar dihapus dan diganti dengan yang baru, masalah tidak otomatis selesai. Masyarakat mulai kebingungan. Aturan berubah, pola pendampingan berganti, dan arah bergerak tanpa jeda. Praktik-praktik baik yang telah menjadi kebiasaan ikut runtuh. Di beberapa tempat, partisipasi melemah dan masyarakat kembali menjadi objek dari sistem yang asing bagi mereka.

 

Di situlah saya sampai pada satu kesimpulan: persoalan utama sering kali bukan pada keberanian mengganti program, tetapi pada cara menilainya sejak awal.

 

Bagi saya, menilai sebuah program harus berpijak pada tiga hal. Dasarnya harus benar secara nilai, bukan sekadar sah secara aturan. Caranya harus manusiawi, adil, dan beradab. Dan praktiknya harus mencerminkan dasar dan cara itu. Ketiganya tidak bisa saling menutupi, apalagi dibandingkan secara serampangan.

 

Karena itu, setiap diskusi tentang program seharusnya dimulai dengan satu sikap penting: lepaskan dulu dukung-mendukung pada pemegang program. Selama kita masih sibuk membela orang atau institusi, yang kita dengar bukan lagi suara lapangan, melainkan gema loyalitas. Padahal evaluasi yang jujur hanya lahir jika perbandingan dilakukan secara adil—konsep dengan konsep, cara dengan cara, dan praktik dengan praktik, apel dengan apel.

 

Saya tidak menulis ini untuk membela program lama atau menolak program baru. Saya hanya ingin mengingatkan bahwa masyarakat bukan ruang eksperimen tanpa ingatan. Program boleh berganti, tetapi dampaknya menetap dalam kehidupan sehari-hari mereka.

 

Pada akhirnya, sejarah tidak akan mencatat siapa yang paling keras membela, melainkan siapa yang paling jujur menilai dan berani belajar dari akibat yang ditinggalkan.

saya siap menuliskannya kembali dari napas yang sama.

Post a Comment

Previous Post Next Post